Review Jurnal 1 “Pola Hubungan Feedin Guilds Antara Tipe Habitat Dan Keankeragaman Spesies Burung Di Lahan Reklamasi Dan Revegetasi Pasca Tambang Batu Bara”.
Pada jurnal ini, menggunakan Hyper Cannonical Correspondence Analysis (hCCA) dengan data dikelompokkan menjadi B1-n (spesies bired), S1-n (spesies semak), F1-n (rantai makanan), P1-n (produksi tanaman / makanan yang dapat dimakan).
Usaha pertambangan secara umum maupun pertambangan batu bara khususnya sebagian besar memanfaatkan kawasan hutan sebagai areal konsesinya. Dalam kegiatan Pertambangan secara makro dampak negatifnya adalah kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversitas loss) dari kawasan hutan yang dimanfaatkan. Agar dampak negative tersebut tidak berkepanjangan harus melakukan kegiatan reboisasi ulang untuk kehidupan flora dan fauna disana. Untuk mencapai pulihnya fungsi lahan tersebut sebagai habitat flora fauna, khususnya habitat burung maka salah satu prinsip pentingnya adalah terkait dengan pemilihan spesies vegetasi yang ditanam di dalam lahan reklamasi dan revegetasi tersebut sebagai bagian dari proses restorasi ekologi (ecological restoration). Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa ada hubungan erat antara kondisi habitat tersebut yang terbangun dari struktur dan komposisi spesies vegetasi tertentu dengan keanekaragaman spesies burung yang memanfaatkan areal tersebut sebagai habitatnya
Metode yang dilakukan didalam jurnal ini adalah metode pengumpulan data komunitas tumbuhan dan burung dilakukan melalui pengamatan dan pengukuran langsung di lokasi lahan pasca tambang batubara. Data komunitas tumbuhan dikumpulkan melalui survey menggunakan metode jalur berpetak, sedangkan pengambilan data keanekaragaman spesies burung dilakukan dengan cara pengamatan langsung terhadap spesies-spesies burung yang terlihat di jalur-jalur transek untuk pengumpulan data vegetasi.
Lalu hasil dan kesimpulan dari pengamatan mendapatkan 36 spesies burung yang menempati areal reklamasi dan revegetasi pasca tambang, dengan pola hubungan feeding guild dari masing-masing tipe habitat sebagai produsen dan burung sebagai konsumen yang menempati trophic level-nya. Keragaman tumbuhan memiliki kaitan erat dengan panjang-pendeknya rantai makanan, maka dapat dinyatakan bahwa keragaman tumbuhan bawah yang terbentuk di setiap tipe habitat akan menambah rantai makanan terestrial. Masing-masing penggolongan rantai makanan (trophic) berhubungan erat dengan karakteristik tumbuhan yang digunakan untuk fungsi habitat. Semakin kompleks rantai makanan akan semakin komplek dan mantap pula kondisi ekosistemnya.
Sumber :
Soegiharto, S. (2020). Pola Hubungan Feedin Guilds Antara Tipe Habitat Dan Keanekaragaman Spesies Burung Di Lahan Reklamasi Dan Revegetasi Pasca Tambang Batu Bara. Jurnal Penelitian Ekologi Vol 6(2).
Review Jurnal 2 “Primary Sources And Food Web Structure Of Tropical Wetland With High Density Of Mangrove Forest”.
Lahan basah tropis hutan bakau merupakan sosio-ekologis yang sangat terancam. Dimana masyarakat biasanya bergantung pada hewan akuatik untuk memenuhi kebutuhan pangan. Fungsi mangrove sebagai sumber makanan potensial telah dibahas dalam berbagai penelitian, beberapa di antaranya menyebutkan bahwa bahan organik mangrove memberikan nutrisi penting bagi komunitas perairan.
Pada jurnal ini membahasan metode pemasangan stasiun dimana setiap stasiun dikumpulkan seluruh sumber pakan potensial (mangrove, makroalga, bahan organik partikulat (POM), bahan organik sedimen (SOM), dan fitoplankton), serta konsumen (zooplankton, makrobenthos (polychaetes, bivalvia, udang, dan kepiting). , dan ikan). Metode yang digunakan seperti Sample Collection and Processing. Dan untuk mengetahui jaring makanan menggunakan metode Bayesian method SIBER.
Hasil dan kesimpulan dari penelitian ini adalah, pentingnya berbagai produsen primer sebagai sumber bahan organik yang mendukung beragam komunitas ikan dan invertebrata di muara Teacapan, dan juga menunjukkan pentingnya hutan bakau dalam mempertahankan jaring makanan di ekosistem tersebut. Ada tingkat tumpang tindih pola makan yang tinggi antar kelompok yang berbeda. Baik ikan maupun invertebrata tampaknya bergantung secara berbeda pada produsen primer yang berbeda, meskipun mangrove mathe tampaknya menjadi sumber utama yang paling penting. Invertebrata mempunyai pola makan yang heterogen dan banyak ikan serta makroinvertebrata yang memakan detritus bakau, sedangkan sedikit penghuni bakau seperti polychaetes dan kepiting grapsid yang langsung memakan daun bakau, sehingga memberikan kontribusi yang rendah terhadap pola makan mereka
Sumber :
Victor, M., Martin, S., Eduardo, F., Elisa, Z., Jana, R. (2020). Primary Sources And Food Web Structure Of A Tropical Wetland With High Density Of Mangrove Forest. Journal Water : MDPI
Review Jurnal 3 “Food Web Dynamics In The Mangrove Ecosystem Of The Pearl River Estuary Surrounded By Megacities”.
Hutan menyediakan jasa ekosistem penting seperti tempat pembibitan, tempat berkembang biak, produksi pangan, dan perlindungan garis pantai bagi organisme pesisir. Ekosistem mangrove tumbuh subur di sepanjang garis pantai di sebagian besar wilayah tropis dan subtropics. Jumlah hutan bakau di Asia Tenggara telah rusak dan digantikan oleh budidaya perikanan (terutama budidaya udang) dan juga lanskap antropogenik
Pada jurnal ini, pengamatan dilakukan dengan Pengambilan sampel dilakukan secara musiman di lokasi-lokasi di sepanjang hutan bakau dan dataran pasang surut di Pulau Qi’ao. Untuk mengklasifikasi jenis sedimen pada jurnal menggunakan metode flemming. Sedangkan untuk Makrobentos dikumpulkan dengan tangan. Ikan diperoleh dari nelayan yang menangkapnya di wilayah penelitian. Semua organisme bentik dan pelagis diambil sampelnya secara acak untuk menghasilkan keterwakilan komposisi spesies di PRE.
Hasil dari penelitian dan kesimpulan dari jurnal ini adalah variasi musiman debit air sungai memiliki peran penting dalam distribusi makanan dan interaksi trofik antara organisme bentik dan pelagis antara musim kemarau dan musim hujan. Selama musim kemarau, bahan organik yang berasal dari tumbuhan merupakan makanan utama konsumen bentik dan pelagis. Sebaliknya debit air sungai tinggi pada musim hujan musim panas meningkatkan kontribusi bahan organik partikulat kepada dua konsumen dan meningkatkan interaksi mereka
Sumber :
In Ok, L., Beomgi, K., Inha, K., Bong-oh, K., Yisheng, P. (2023). Food Web Dynamics In The Mangrove Ecosystem Of The Pearl River Estuary Surrounded By Megacities. Marine Pollution Bulletin : Elsevier.
Kesimpulan dari ketiga jurnal
Berdasarkan hasil review jurnal yang telah dilakukan bahwa keadaan suatu ekosistem baik terestrial mau pun aquatic sangat berperan penting untuk makhluk hidup didalamnya (flora/fauna). Dimana jika kondisi ekosistem lingkungan terjaga maka pola jaring makanan dari setiap makhluk hidup akan seimbang, dibandingkan ketika ekosistem tersebut rusak.