ANALISIS JURNAL JARING JARING MAKANAN

Artikel 1 : Gibert, J. P. (2018). Temperature directly and indirectly infuences food web structure. Nature communications.
Ringkasan : Artikel ini membahas tentang pengaruh perubahan kondisi lingkungan yang berdampak pada struktur jaring makanan pada skala global. Seberapa besar pengaruhnya garis lintang, suhu, atau keduanya, serta menjelaskan jumlah spesies dan interaksi makanan, proporsi spesies basal dan spesies teratas, tingkat omnivora, keterhubungan dan jumlah spesies. Tingkat trofik diseluruh jarring makanan. Penulis menemukan bahwa suhu merupakan prediktor struktur jarring makanan yang sedikit dibandingkan garis lintang. Suhu secara langsung mengurangi jumlah spesies, proporsi spesies basal dan jumlah interaks, sementara secara tidak langsung meningkatkan tingkat omnivora, keterhubungan, dan tingkat trofik melalui efek langsungnya pada fraksi dan jumlah spesies basal. Jaring makanan juga dipengaruhi oleh kombinasi kondisi biotik dan abiotic, baik secara langsung maupun tidak langsung. Analisis global terhadap perubahan struktur jaringan jaring makanan berdasarkan garis lintang, suhu, dan tipe ekosistem juga memberikan hasil yang bertentangan. Panjang rantai makanan dalam sistem akuatik terbukti hanya sedikit bervariasi menurut garis lintang, sementara meta-analisis skala besar menunjukkan bahwa tipe ekosistem, tetapi bukan garis lintang, berdampak pada struktur jaring makanan. Pada penelitian pun menunjukkkan, pengambilan sampel sistematis jaring makanan tanaman kantong semar melintasi gradien garis lintang skala benua menunjukkan bahwa jumlah spesies dan jumlah interaksi per spesies meningkat seiring dengan garis lintang. Dijelaskan pula rendahnya jumlah variasi total yang dijelaskan menyimpulkan bahwa struktur jaring makanan secara luas tidak bergantung pada faktor iklim abiotik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu dan garis lintang dapat memiliki efek langsung dan tidak langsung pada berbagai aspek struktur jaring makanan, model yang hanya mempertimbangkan suhu akan lebih sedikit dibandingkan model yang mempertimbangkan garis lintang dan suhu. Tetapi penulis juga menyatakan, meskipun pemanasan dapat menyebabkan hilangnya predator puncak dan peningkatan proporsi spesies basal suhu juga diketahui meningkatkan penggembalaan dan pengendalian dari atas ke bawah melalui efek fisiologis yang pada gilirannya dapat menurunkan tegakan biomassa produsen primer dan proporsi spesies basal.

Artikel 2 : Cheng, H. et. al, (2022). Blue and green food webs respond differently to elevation and land use. Nature communications.
Ringkasan : Artikel ini membahas tentang perbedaan struktural umum antara warna biru dan hijau jaring makanan dan menyarankan potensi perubahan yang berbeda di masa depan perubahan penggunaan lahan atau iklim. Jaringan ekologi perubahan structural sepanjang gradien lingkungan, serta perubahan dampaknya terhadap kelangsungan spesies atau fungsi ekosistem. Penelitian memfokuskan sebagian besar menargetkan interaksi antara dua kelompok taksonomi yang berbeda secara fungsional, misalnya tumbuhan herbivora bipartite atau yang dibatasi pada sistem eksperimental yang disederhanakan . Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kendala metodologis,yaitu mengukur interaksi secara terstandar dan sebanding melintasi berbagai kelompok taksonomi (sulit). Hal tersebut berakibat pada interaksi trofik konsumen-sumber daya merupakan interaksi biologis yang paling penting pada setiap spesies dalam bioma apapun. Hasil dari penelitian ini yakni annya, analisis skala besar kami terhadap struktur jaring makanan dan perubahan sistem biru dan hijau memberikan bukti bahwa jaring makanan biru dan hijau dalam lanskap yang sama memberikan respons yang berbeda (dalam hal metrik jaringan utama) terhadap ketinggian dan penggunaan lahan. Pola jaring makanan yang ditampilkan dalam penelitian ini muncul secara spasial dari perbedaan komposisi komunitas, yang mencerminkan hasil dari proses evolusi dan ekologi. Dengan membuat analogi antara ketinggian dan perubahan iklim, temuan kami tidak hanya memberikan gambaran luas tentang jaring makanan biru dan hijau dengan statusnya saat ini di seluruh lanskap, namun juga implikasi visioner mengenai potensi perubahannya di masa depan. Pemahaman tersebut dapat menjadi pengetahuan mendasar ketika mengelola keanekaragaman hayati lokal dan fungsi ekosistem, terutama di tempat dimana komunitas biru dan hijau hidup berdampingan dan rentan terhadap modifikasi antropogenik.

Artikel 3 : Ryser, et. al (2021). Landscape heterogeneity buffers biodiversity of simulated meta-food-webs under global change through rescue and drainage effects. Nature Communications.
Ringkasan : Artikel ini membahas tentang fragmentasi habitat dan eutrofikasi yang mempunyai dampak besar terhadap keanekaragaman hayati. Penelitian meta-komunitas menunjukkan bahwa berkurangnya konektivitas lanskap dapat menyebabkan hilangnya keankearagaman hayati dilanskap yang terfragmentasi. Artikel tersebut juga membahas bagaimana eutrofikasi dapat menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati lokal. g jaring-jaring makanan meta menunjukkan bahwa proses penyebaran dan trofik berinteraksi melalui dua hal yang saling melengkapi mekanisme. Pertama, ‘efek penyelamatan’ menjaga keanekaragaman hayati lokal melalui rekolonisasi cepat setelahnya kehancuran lokal dalam kepadatan penduduk. Kedua, ‘efek drainase’ menstabilkan keanekaragaman hayati dengan cara mencegah kelebihan kepadatan populasi di wilayah eutrofik. Dalam jaring makanan yang kompleks pada jaringan spasial yang luas pada petak-petak habitat, dampak-dampak ini secara sistematis menghasilkan keanekaragaman hayati yang lebih tinggi pada lanskap heterogen dibandingkan lanskap homogen. Pendekatan meta-food-web yang digunakan pada penelitian menunjukkan interaksi yang kuat antara fragmentasi habitat dan eutrofikasi dan memberikan penjelasan mekanistik tentang bagaimana heterogenitas lanskap mendorong keanekaragaman hayati. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kekayaan spesies lokal di lanskap homogen paling rendah di wilayah oligotrofik karena keterbatasan energi. efek penyelamatan dan drainase juga berlaku pada jaring makanan yang kompleks di lanskap yang kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi fluks biomassa special dan trofik yang kuat dan lemah meningkatkan implikasi dan perspektif. Proses spasial di lanskap heterogen menstabilkan dinamika jaring makanan lokal dan menghasilkan keragaman alfa yang lebih tinggi di patch habitat. Hal ini menekankan pentingnya mengatasi pendorong perubahan global dalam kerangka meta-food-web. Berbagai mekanisme terlibat, semuanya berkaitan dengan dinamika source-sink, dimana individu berpindah dari lokasi dengan biomassa tinggi ke lokasi dengan biomassa rendah. konektivitas yang lebih tinggi antara populasi besar dapat merusak keanekaragaman hayati dengan mengurangi dampak drainase, sedangkan menghubungkan populasi besar dan kecil pada umumnya bermanfaat bagi keduanya. Oleh karena itu, dalam mengelola konektivitas lanskap, hubungan antara habitat eutrofik dan oligotrofik atau antar habitat oligotrofik harus ditingkatkan untuk mengurangi efek permusuhan. Namun, hubungan antar habitat eutrofik sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, karena berkurangnya efek permusuhan akan mengurangi efek drainase dan dapat mengganggu kestabilan kedua populasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *