• Profile picture of Dyta Agustina

    Dyta Agustina posted

    2 years, 10 months ago

    Nama : Dyta Agustina
    Nim : A1J120011
    Kelas : A (Permata Forkom)
    UAS EVOLUSI

    Sejarah Dan Perkembangan Evolusi

    Evolusi merupakan kata yang berasal dari bahasa latin yang artinya ”membuka gulungan” atau ”membuka lapisan”. Kemudian bahasa itu diserap menjadi bahasa inggris evolution yang berarti perkembangan secara bertahap. Di dalam biologi, pengertian evolusi telah mengalami perkembangan, menurut Darwinisme: Evolusi adalah perubahan bertahap pada rentang waktu yang sangat panjang (makro evolusi). Dengan berkembangnya genetika molekuler, para ilmuwan mengembangkan teori evolusi komprehensif yang menggabungkan Darwinisme dengan Mendelisme yang selanjutnya dikenal sebagai sintesis modern (modern synthesis). Menurut sintesis modern: evolusi adalah perubahan frekuensi alel dari suatu populasi persatuan waktu (mikro evolusi) (Iskandar, 2008). Disebut sebagai sintesis, karena teori ini memadukan penemuan-penemuan dan ide dari berbagai bidang yang berbeda, yang meliputi paleontologi, taksonomi, biogeografi, dan genetika populasi. Di antara arsitek sintesis modern terdapat ahli genetika Theodosius Dobzhansky, ahli biogeografi, dan ahli taksonomi Ernst Mayr, ahli paleontologi George Gaylord Simpson, dan ahli Botani G. Ledyard Stebbins. Sintesis modern menekankan arti penting populasi sebagai unit evolusi, peran sentral seleksi alam sebagai mekanisme terpenting dalam evolusi, dan ide tentang gradualisme untuk menjelaskan bagaimana perubahan besar (spesiasi) dapat berkembang sebagai suatu akumulasi perubahan kecil (perubahan frekuensi alel) yang terjadi selama periode waktu yang panjang (Campbell, 2003). Biologi abad ke-20 telah dipengaruhi begitu dalam oleh sintesis modern, yang telah membentuk sebagian besar ide tentang bagaimana populasi berkembang dan berevolusi.Evolusi pada akhirnya adalah suatu proses penciptaan keanekaragaman makhluk hidup. Seperti halnya dikemukakan Vyrba guru besar Paleontologi dan Biologi Yale University, bahwa bukti terbaik untuk evolusi adalah adanya keanekaragaman organisme hidup, penyebaran karakteristik di antara spesies, dan pola hirarki keanekaragaman. Dari waktu ke waktu, spesies baru berkembang dari spesies yang ada melalui spesiasi, dan spesies lain punah, menghasilkan perubahan yang terus menerus dalam dunia biologi yang dicerminkan dalam rekaman fosil. Sekitar 99% dari semua spesies yang pernah hidup di Bumi ini sudah punah (Campbell, 2003). Teori evolusi menjelaskan bagaimana terjadinya proses perubahan pada makhluk hidup yang menyimpang dari struktur awal dalam jumlah yang banyak dan beraneka ragam sehingga kemudian menyebabkan terjadinya dua kemungkinan. Pertama, makhluk hidup yang berubah akan mampu bertahan dan tidak punah atau disebut juga dengan istilah evolusi progresif. Sedangkan kemungkinan atau opsi yang kedua adalah makhluk hidup yang berubah atau berevolusi tadi gagal bertahan hidup dan akhirnya punah atau disebut dengan evolusi regresif. Menurut Teilhard de Chardin proses evolusi dibedakan menjadi 3 tahap, seperti berikut ini.
    a. Tahap Geosfer, Tahap pra-hidup, tahap perubahan yang terutama menyangkut perubahan tata surya.
    b. Tahap Biosfer, Kalau pada tahap geosfer yang menjadi masalah adalah adanya “loncatan” dari materi tak hidup menjadi materi hidup, maka pada tahap biosfer yang dimasalahkan adalah “loncatan” munculnya manusia.
    b. Tahap Nesosfer, Pada tahap ini yang penting pada makhluk hidup dalam hal ini manusia adalah terjadi evolusi kesadaran batin yang semakin mantap. Dengan cara menghubungkan keanekaragaman kehidupan dengan mekanisme penyebab alaminya, Darwin memberikan suatu dasar ilmiah yang jelas bagi ilmu biologi. Namun demikian, produk evolusi yang beraneka ragam sungguh sangat elok dan mengilhami banyak pemikiran. Sebagaimana yang dikatakan Darwin dalam alinea penutup bukunya The Origin of Spesies, “Ada keagungan dalam kehidupan dilihat dari sudut pandang ini”.
    1. Perkembangan Teori Evolusi
    Gagasan tentang evolusi biologi sudah ada sejak zaman dahulu, khususnya di antara ahli filsafat Yunani seperti Anaximander dan Epicurus serta ahli filsafat India seperti Patanjali. Namun, teori ilmiah evolusi belum mapan sampai abad ke 18 dan 19. Pemahaman modern tentang evolusi didasarkan pada teori seleksi alam, yang pertama kali diperkenalkan dalam karya ilmiah bersama antara Charles Darwin dan Alfred Russel Wallace pada tahun 1858, dan dipopulerkan di dalam buku Darwin The Origin of Species pada tahun 1859. Pada tahun 1930 an, para ilmuwan mengkombinasikan seleksi alam Darwinian dengan teori dari hereditas Mendelian untuk membentuk sintesis evolusi modern, yang juga dikenal sebagai “Neo-Darwinism”. Berikut ini dikemukakan beberapa tokoh yang berperan dalam pengembangan teori evolusi.
    a. Aristoteles (Teori Statis)
    Menurut Aristoteles, semua bentuk kehidupan dapat disusun dalam suatu skala atau tangga dengan tingkat kerumitan yang semakin tinggi, idenya ini dikenal sebagai “skala alam‟ atau scale of nature. Aristoteles berargumentasi bahwa setiap spesies mempunyai wujud yang unik dan bisa digolongkan dari karakteristik-karakteristik kuncinya. Di dalam prosesnya, Aristoteles mengorganisasikan makhluk hidup dalam suatu hirarki seperti tangga, dengan tumbuhan ditempatkan di bagian bawah, hewan ditempatkan di pertengahan, dan manusia ditempatkan paling atas.
    b. Carolus Linnaeus (Penggagas Taksonomi)
    Carolus Linnaeus (1707-1798) adalah pemikir pertama yang lebih jauh lagi mencoba untuk menggolongkan makhluk hidup. Beliau mengembangkan sistem dua bagian atau Binomial untuk menamai organisme menurut genus dan spesies. Linnaeus mengelompokan spesies berdasarkan tingkat kemiripan. Spesies yang mirip satu sama lain dikelompokkan ke dalam genus yang sama, genus yang mirip dikelompokkan pada famili yang sama dan seterusnya. Bagi Linnaeus, pengelompokkan spesies yang mirip dalam satu kelompok tidak mengimplikasikan adanya pertalian keluarga menurut garis evolusi, tetapi seabad kemudian sistem taksonominya ternyata menjadi titik fokus pendapat Darwin tentang evolusi.
    c. James Hutton (Teori Gradualisme)
    Pada tahun 1795 James Hutton ahli geolodi Skotlandia menjelaskan sifat dan ciri geologis Bumi dengan teori gradualisme (secara bertahap), yang menganggap bahwa perubahan mendalam dan nyata dari ciri dan sifat geologis Bumi merupakan produk kumulatif proses yang berlangsung lambat namun berlangsung terus menerus.
    c. Thomas Malthus (Pertumbuhan Populasi versus Persediaan Makanan) Thomas Malthus (1766-1834) mempunyai tempat khusus dalam sejarah biologi, meskipun dia bukan ahli biologi tetapi seorang ahli ekonomi politik. Malthus menjadi terkenal pada tahun 1798 ketika dia menerbitkan sebuah essay yang berjudul “The Principle of Population as it affects the Future Improvement of Society”. Di dalamnya, Malthus mengangkat keraguan- keraguan tentang apakah suatu bangsa bisa menjangkau suatu titik di mana hukum tidak lagi diperlukan, dan setiap orang hidup dengan makmur dan harmonis.
    d. Jean Baptiste de Lamarck (Teori Dinamis)
    Ilmuwan pertama yang mengajukan suatu model komprehensif tentang terjadinya perubahan terhadap makhluk hidup seiring dengan waktu sebagai akibat dari pengaruh lingkungan adalah seorang naturalis dari Perancis yang bernama Jean B. Lamarck. Dia bekerja dalam klasifikasi cacing, laba-laba, moluska (hewan bertubuh lunak seperti keong), dan makhluk-makhluk tanpa tulang belakang lainnya. Lamarck melihat adanya kesamaan-kesamaan dari hewan-hewan yang dia pelajari, dan sangat terkesan oleh perkembangan rekaman fosil. Hal Itu mendorong dia untuk berpikir bahwa kehidupan itu tidak tetap. Ketika lingkungan berubah, organisme harus mengubah perilaku mereka (adaptasi) untuk bertahan hidup.
    Ide pokok Lamarck adalah bahwa bagian-bagian tubuh yang lebih banyak digunakan untuk menghadapi lingkungan akan menjadi lebih besar dan kuat, sedangkan bagian-bagian tubuh yang tidak digunakan (disuse) akan mengalami penurunan. Modifikasi yang didapatkan oleh suatu organisme selama masa hidupnya dapat diturunkan kepada keturunannya.
    e. Charles Lyell (Teori Uniformitarianisme/Keseragaman)
    Teori Hutton tentang gradualisme selanjutnya dipadukan oleh Charles Lyell (1797-1875) dalam suatu teori yang dikenal dengan nama Uniformitarianisme. Teori ini menyatakan bahwa proses geologis masih belum berubah sepanjang sejarah Bumi ini. Dengan demikian, gaya yang bekerja saat ini dalam membentuk ciri geologis Bumi sama besarnya dengan gaya di masa silam (Gambar 105). Teori gradualisme dan uniformitarianisme ini juga menjadi dasar pemikiran evolusi Darwin. Pertama, jika perubahan geologis merupakan akibat dari kerja yang lambat namun terus menerus dan bukan akibat dari kejadian yang tiba-tiba maka bumi pasti sudah sangat tua. Kedua, proses yang sangat lambat namun sangat halus yang bertahan selama periode yang sangat panjang dapat menyebabkan perubahan yang cukup besar.
    f. Charles Darwin (Teori Evolusi, Seleksi Alam)
    Darwin adalah seorang naturalis Inggris yang mengikuti eksplorasi kapal HMS Beagle untuk membuat peta pelabuhan dunia pada tahun 1831. Di sepanjang perjalanan inilah (selama lima tahun, yaitu dari 27 Desember 1831 hingga 2 Oktober 1836) dia meneliti berbagai jenis hewan dan tumbuhan yang dijumpainya. Kelangsungan hidup dalam perjuangan untuk mempertahankan hidup tidak terjadi secara acak, tetapi bergantung sebagian pada susunan sifat yang diwarisi dari indvidu-individu yang bertahan hidup. Individu yang mewarisi sifat baik yang membuat individu tersebut cocok dengan lingkungannya besar kemungkinan akan menghasilkan lebih banyak keturunan dibandingkan dengan individu yang kurang cocok sifatnya terhadap lingkungan. Di samping itu Darwin juga menemukan bukti terjadinya seleksi alam pada seleksi tiruan.
    g. Alfred Russel Wallace (Teori Evolusi: Seleksi Alam)
    Wallace adalah seoring naturalis Ingris yang hidup semasa dengan Darwin. Wallace secara terpisah juga mengembangkan teori seleksi alam yang pada dasarnya sama dengan yang dikemukakan oleh Darwin. Darwin dan Wallace cukup lama berkorespondensi secara ilmiah. Wallace malah banyak mengirim spesies-spesies penemuan barunya dari Asia ke Darwin untuk diteliti. Menurut Wallace, teorinya tentang evolusi hasil pemikiran yang datang secara spontan. Di lain pihak, teori evolusi Darwin adalah hasil pemikiran secara metodis selama bertahun-tahun. Ironisnya, Darwin menjadi jauh lebih terkenal daripada Wallace sendiri. Namun demikian, Wallace adalah salah satu pembela Darwin dan teorinya dimasa kontroversial setelah buku “The Origin of Species” diterbitkan. Walaupun ide evolusi (bahwa makhlup hidup secara berangsur-angsur berubah) telah didiskusikan jauh sebelum abad ke-19, Darwin dan Wallace adalah orang yang pertama mencetuskan bagaimana proses evolusi itu berlangsung.
    h. Gregor Johann Mendel (Teori Genetika)
    Mendel adalah seorang pendeta dan ilmuwan dari Austria yang mempelajari ilmu keturunan. Dengan mengobservasi kacang polong (Pisum sativum) selama bertahun-tahun, Mendel mengambil kesimpulan bahwa ada suatu pola dalam pewarisan sifat keturunan. Hasil penyelidikan Mendel menjadi dasar ilmu genetika. Walaupun sebagian besar ilmuwan Biologi dapat diyakinkan Darwin bahwa spesies merupakan hasil evolusi, namun ada permasalahan mengenai ide seleksi alam sebagai mekanisme evolusi.
    pentingnya sejarah dan perkembangan evolusi untuk dipelajari karena dalam mempelajari jenis-jenis evolusi seperti evolusi mikroorganisme, evolusi protista dan jamur, evolusi tumbuhan, evolusi hewan dan evolusi manusia perlunya mengetahui apa itu evolusi dan teori-teori yang mendukung dan mengemukakan pendapat mengenai evolusi itu bagaimana. Dalam mempelajarinya pun mengetahui bagaimana perkembangan teori-teori yang ada dari berbagai ahli, dengan berbagai jenis gagasan pemikiran yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam mempelajari jenis-jenis evolusi yang terjadi pada makhluk hidup. Teori evolusi pun saat ini sudah digunakan secara praktis dalam berbagai bidang seperti Pengetahuan tentang evolusi virulensi parasit pada populasi manusia dapat membantu memandu kebijakan kesehatan masyarakat. Memahami perubahan yang terjadi selama evolusi organisme dapat mengungkapkan gen yang diperlukan untuk membangun bagian tubuh, gen yang mungkin terlibat dalam kelainan genetik manusia.
    Tantangan dalam mempelajari sejarah dan perkembangan evolusi adalah banyaknya ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai evolusi sehingga menjadi tantangan para pembaca dalam menafsirkan teori-teori yang ada. Kemudian, teori evolusi dianggap kontroversi karena belum ditemukannya fosil manusia yang berbentuk setengah manusia dan setengah kera lah yang dianggap menjadi missing link untuk menjelaskan urutan evolusi manusia ini. Fosil tersebut dianggap diperlukan untuk menjadi bukti sah kalau manusia memang berevolusi dari seekor kera. Selain itu, kurangnya jurnal-jurnal dan penelitian yang relevan mengenai evolusi sehingga bahan bacaan dan sumber rujukan yang sulit didapatkan.
    Solusi dalam hal itu yaitu melakukan riset dan lebih banyak membaca buku-buku mengenai sejarah evolusi dan mendiskusikannya dengan rekan sehingga meminimalisir terjadinya miskonsepsi mengenai teori evolusi. Hal lain yang bisa dilakukan yaitu dengan mengkaji buku-buku serta jurnal penelitian mengenai teori-teori evolusi, dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari sehingga dalam hal itu lebih mudah dipahami dan lebih menarik untuk mempelajarinya. Dalam pembelajaran, membuat materi sejarah dan perkembangan evolusi yaitu dengan menggabungkan mengenai sejarah evolusi, teori evolusi, dan bagaimana yang terjadi saat ini. Sehingga pembelajaran tidak terlalu monoton dalam membahas evolusi dizaman dulu dengan di zaman sekarang.
    Jika suatu saat saya menjadi tenaga pendidik dan mengajarkan materi sejarah dan perkembangan evolusi saya akan menggunakan metode diskusi kelompok. Dalam proses diskusi kelompok setiap kelompok mengemukakan pendapatnya mengenai teori-teori evolusi yang ada dan mereka menganalisis masing-masing kelebihan dan kekurangan dari teori-teori evolusi yang ada. Sehingga, dalam hal tersebut peserta didik akan berfikir kritis dalam mempelajari materi sejarah dan perkembangan evolusi.
    Kesimpulan dari mempelajari materi sejarah dan perkembangan evolusi yaitu Evolusi adalah proses perubahan bertahap dalam sifat-sifat organisme sepanjang generasi. Hal ini terjadi melalui seleksi alam, di mana individu dengan sifat yang lebih sesuai dengan lingkungan memiliki peluang bertahan hidup yang lebih tinggi. Pada teori statis, Aristoteles mengorganisasikan makhluk hidup dalam suatu hirarki seperti tangga, dengan tumbuhan ditempatkan di bagian bawah, hewan ditempatkan di pertengahan, dan manusia ditempatkan paling atas. Pada teori penggagas taksonomi, Linnaeus mengelompokan spesies berdasarkan tingkat kemiripan. Spesies yang mirip satu sama lain dikelompokkan ke dalam genus yang sama, genus yang mirip dikelompokkan pada famili yang sama dan seterusnya. Pada teori gradualisme, James Hutton menyatakan bahwa perubahan geologi dan perubahan dalam kehidupan organisme terjadi melalui proses yang lambat dan bertahap selama periode waktu yang sangat panjang. Hutton percaya bahwa fenomena geologi seperti pengikisan, sedimentasi, dan pengangkatan lapisan batuan terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang sangat lama. Pada teori pertumbuhan manusia vs persediaan makanan, Malthus diperlukan perjuangan yang keras untuk mempertahankan eksistensi manusia, karena potensi pertumbuhan populasi manusia seperti deret geometri sedangkan kemampuan untuk menyediakan makanan dan sumber daya lainnya seperti deret aritmetik. Pada teori dinamis, Lamarck adalah bahwa bagian-bagian tubuh yang lebih banyak digunakan untuk menghadapi lingkungan akan menjadi lebih besar dan kuat, sedangkan bagian-bagian tubuh yang tidak digunakan (disuse) akan mengalami penurunan. Pada teori keseragaman, Lyell menyatakan bahwa proses geologis masih belum berubah sepanjang sejarah Bumi ini. Pada teori Seleksi Alam, Charles Darwin menyatakan bahwa individu dengan sifat yang lebih cocok dengan lingkungan akan memiliki keunggulan dalam bertahan hidup dan berkembang biak, sehingga sifat-sifat tersebut akan diturunkan kepada generasi berikutnya. Pada teori Seleksi Alam, Wallace mengemukakan bahwa perubahan dan keanekaragaman dalam spesies organisme terjadi melalui seleksi alam. Wallace menyadari bahwa individu-individu dengan sifat-sifat yang lebih sesuai dengan lingkungan memiliki keunggulan dalam bertahan hidup dan berkembang biak, sementara individu dengan sifat yang kurang cocok cenderung memiliki peluang bertahan hidup yang lebih rendah. Pada teori genetika, Gregor Mendel menyatakan bahwa seleksi alam sebagai mekanisme utama yang mengarah pada perubahan dan perubahan adaptasi dalam populasi organisme. Pada teori Evolusi Evolusi Modern (Neo-Darwinisme) sebagai proses yang Terus-Menerus: Teori evolusi modern mengakui bahwa evolusi adalah proses yang terus-menerus dan berkelanjutan. Organisme mengalami perubahan genetik secara acak melalui mutasi dan rekombinasi genetik selama reproduksi seksual. Perubahan genetik ini dapat mengarah pada variasi fenotipik dalam populasi. Perkembangan teori evolusi telah membantu memperluas pemahaman tentang proses evolusi. Teori-teori yang telah dijelaskan mencangkup konsep seleksi alam, pewarisan genetik, interaksi kompleks antara organisme dan lingkungan dan lain-lainnya. Pengembangan ini memudahkan dalam memahami tentang evolusi organisme hidup di Bumi.

    Profile Photo liked this

Media

Group logo of Evolusi
Evolusi
Public Group