-
Nama : Restu Athifah Rahmah
Nim : 2224190041
Kelas : AUAS EVOLUSI
Insight yang didapat pada mata kuliah evolusi adalah pada materi evolusi fungi. Seperti yang kita ketahui, fungi merupakan organisme eukariota yang berbeda dengan eukariota lainnya ditinjau dari cara memperoleh makanannya, struktur organnya, serta pertumbuhan dan reproduksinya. Jamur pernah dimasukan kedalam kingdom plantae, tetapi setelah melalui kajian molekuler menunjukan bahwa jamur dan hewan kemungkinan berasal dari satu nenek moyang yang sama. Akan tetapi masih banyak data penelitian atau bukti-bukti yang menunjukan kekerabatan tersebut, oleh karena itu evolusi jamur sangat menarik untuk dikaji lebih jauh lagi. Alasan saya memilih materi evolusi fungi adalah selain karena saya menyukai bidang mikrobiologi terutama fungi, karena masih banyak yang ingin saya cari tahu mengenai materi tersebut karena berbeda dengan tanaman lain catatan evolusi jamur jumlahnya sedikit, yang mungkin disebabkan oleh sedikitnya jumlah fosil dari spesies jamur dan fosil yang sulit dibedakan dengan mikroba lainnya. Seperti yang kita ketahui bahwa jamur termasuk eukariotik secara filogeni diduga memiliki keterkaitan dengan organisme prokariota. Berdasarkan para ahli, genom inti dari jamur serupa dengan archaea sedangkan genom mitokondria yang termasuk dari kelompok bakteri. Berdasarkan keterangan tersebut, tampak bahwa jamur secara filogeni berasal dari kelompok organisme yang lebih dulu ada di bumi, yaitu prokariotik yang kemudian berevolusi. Evolusi fungi berawal sekitar 400 juta tahun yang lalu dengan ditemukannya fosil hifa jamur yang terlihat jelas di dalam jaringan fosil tumbuhan tertua kemudian ditafsirkan sebagai jamur saprotrofik besar. Jamur memiliki catatan fosil yang luas, jamur non flagel memiliki dinding sel yang termelanisasi dan hidup pada daerah terestrial dan air tawar. Selain itu, prototaxites merupakan organisme purba sekitar 42-350 juta tahun yang lalu yang diduga kuat merupakan fosil fungi yang bersimbiosis dengan alga (lichen). Fosil dari kelompok jamur, spesiesnya dapat dikaitkan dari komposisi dinding sel, enzim triptofan, dan sintesis lisin. Sampai paruh kedua abad ke-20, lebih dari 100.000 spesies jamur telah diketahui dan para ahli mikologi memperkirakan terdapat antara 1-1,5 juta spesies di seluruh dunia. Selanjutnya, prospek untuk menemukan bukti untuk keturunan dan waktu munculnya kelas fungi masih sedikit dalam catatan fosil, pertama karena kedua bukti fosil tersebut menunjukan bahwa munculnya Chytridiomycetes, Oomycetes, Zygomycetes, basidiomycetes, dan Ascomycetes memiliki perbedaan garis keturunan yang berlangsung lambat dibandingkan dengan fosil-fosil yang ditemukan. Kedua, karakteristik jamur tidak ditemukan dalam fosil karena jamur terkait dengan hubungan simbiosisnya dengan alga pada fosil yang ditemukan. Sehingga data yang mendukung pengklasifikasian jamur dengan bukti fosil yang ditemukan masih belum lengkap.
Sebelumnya, jamur diklasifikasikan dalam tumbuhan, kemudian dipisahkan menjadi empat kelas (yang sebagian besar ditentukan oleh morfologi, organ seksual, dengan ada atau tidak adanya septa. Kemudian pada pertengahan abad ke-20 juga fungi menjadi kingdom tersendiri terpisah dari tumbuhan karena perbedaan cara memperoleh nutrisi serta membran sel dan dinding selnya. Meskipun Fungi bukan tumbuhan, namun nomenklatur untuk jamur diatur dalam International Code of Botanical Nomenclature (ICBN). Sebagai tambahan, “filum” digunakan dalam nomenklatur jamur, namun beberapa referensi juga menggunakan “divisi” dalam tingkat taksonominya. Karena ensiklopedia mainstream di internet menggunakan “filum,” maka Tentorku juga menggunakan “filum.” Jamur juga erat hubungannya dengan protista. Salah satu penghubung antara jamur dengan protista mungkin adalah suatu kelompok organisme akuatik chitrid yang kemudian chitrid dimasukan kedalam protista karena tidak adanya sel-sel berflagela sebagai salah satu kriteria bagi kingdom fungi. Tetapi saat ini para ahli molekuler membandingkan urutan protein dan asam nukleat pada chitrid dan fungi menemukan bukti kuat yang menggambarkan bahwa chitrid dan fungi sebagai salah satu cabang dalam filogeni sehingga diyakini bahwa chitrid merupakan bagian dari filegonei/ nenek moyang fungi bersama dengan protista. Sebuah hipotesis menyebutkan bahwa fungi berevolusi dari protista yang memiliki flagela. Berdasarkan hal tersebut hingga saat ini taksonomi fungi modern kemudian dibagi menjadi 7 filum utama dari fungi antara lain Microsporidia, Chytridiomycota, Blastocladiomycota, Neocallimastigomycota, Glomeromycota, Ascomycota, dan Basidiomycota.
Dalam memahami materi evolusi fungi terdapat beberapa tantangan dan kendala yang saya hadapi. Seperti yang kita ketahui bukti dari evolusi fungi sangat sedikit dan fosil dari fungi juga sukat ditemukan dan diakses di internet. Memahami filogeni fungi juga sedikit membingungkan dan menelusuri hubungan fungi dengan kingdom lainnya yang memiliki keterkaitan yang membuat saya masih kurang mengerti mengenai pohon filogeni dari fungi serta kekerabatannya dengan kingdom besar seperti hewan dan tumbuhan. Kendala lainnya adalah dalam mencari materi atau sumber belajar dari materi evolusi fungi. Saya perlu mengkaji dari sumber-sumber berbahasa inggris serta memahami analisis genetik molekuler dalam mengetahui kekerabatan dan membaca jenis fungi yang saling berhubungan dan berkerabat jauh dengan fungi lainnya, pemahaman dalam membaca kode genetik tersebut masih belum saya pahami dan menjadi kendala sekaligus tantangan dalam memahami materi evolusi fungi tersebut. Selanjutnya adalah upaya yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut adalah dengan mempelajarinya pelan-pelan dan memahami materi tersebut subbab-per subbab. Dimulai dari sejarah evolusi fungi, asal-usul fungi, nenek moyangnya, perkembangan evolusinya, pertumbuhan dan perkembangan fungi, reproduksi fungi hingga ke klasifikasi. Setelah memahami sub bab tersebut barulah kita mengamati filogeninya dan membandingkan dengan materi yang kita pelajari sebelumnya kemudian belajar untuk membaca tabel filogeni melalui beberapa sumber dan jurnal internasional. Menonton video animasi tentang evolusi fungi juga dapat membantu pemahaman kita untuk memahami bagaimana evolusi terjadi, video tersebut dapat diakses melalui youtube atau media sosial saat ini, sehingga secara konsep evolusi kita bisa lebih memahami dan memiliki gambaran terhadap materi tersebut. Selain itu kita dapat mengunjungi museum mikrobiologi dan museum pra-sejarah sebagai studi banding juga dapat membuat kita semakin tertarik dan menyukai materi evolusi. Dengan demikian kita akan lebih memahami materi evolusi fungi tersebut dengan lebih baik lagi dan dapat mengaplikasikannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian lebih lanjut sebagai mahasiswa pendidikan biologi atau untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (S2).
Ketika nanti saya menjadi seorang guru atau tutor yang mengajarkan materi evolusi pada murid saya, saya akan membuat media pembelajaran yang berupa video animasi dan juga melakukan metode pendekatan jelajah sekitar dan melakukan studi banding ke museum untuk mengkaji lebih jauh bukti-bukti evolusi dan juga membuktikan teori evolusi dengan lingkungan sekitar kita. Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat dipindai khususnya penglihatan dan pendengaran yang dapat membantu proses pembelajaran dan memudahkan siswa dalam memahami pelajaran baik yang terdapat di dalam kelas maupun di luar kelas. Dengan menggunakan video pembelajaran siswa akan lebih memahami teori evolusi dan memudahkan guru dalam menyampaikan materi kepada peserta didik, sehingga materi evolusi akan lebih mudah dipahami. Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan adalah video pembelajaran dan web interaktif serta aplikasi AI yaitu Chat GPT yang dapat memudahkan kita mengetahui ruang lingkup materi evolusi yang akan dipelajari. Media pembelajaran berbasis web juga dapat diakses dengan internet dan dapat memudahkan peserta didik. Video pembelajaran memiliki keuntungan dalam meningkatkan minat belajar peserta didik serta pemahaman peserta didik keuntungan nya bagi guru adalah kita dapat menyampaikan proses pembelajaran dengan mudah kepada peserta didik. Untuk menambah pemahaman dilakukan juga metode jelajah alam sekitar sebagai stimulus yang akan memancing peserta didik berpikir kritis dan menanyakan tentang evolusi alam di sekitarnya, terutama pada fungi dan tumbuhan, karena saat melakukan jelajah alam sekitar guru akan memberikan pertanyaan tentang bagaimana hubungan kekerabatan antara lumut dengan jamur, tumbuhan dengan lumut, paku dengan tumbuhan lainnya serta bagaimana keduanya saling berhubungan dan bersimbiosis. Bagaimana awal terciptanya tumbuhan dan kaitannya dengan evolusi hewan. Dengan demikian saat kita menjadi guru kita dapat melakukan metode tersebut dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analisis peserta didik Penguatan materi dengan studi banding ke museum juga akan sangat membantu dalam memahami materi evolusi dan meningkatkan semangat belajar peserta didik. Mengunjungi museum peninggalan sejarah akan memberi gambaran visual dan stimulus yang membantu peserta didik mencocokan teori evolusi dengan bukti evolusi yang dapat dilihat secara langsung. Selain itu pembelajaran diluar kelas seperti kunjungan ke museum juga dapat meningkatkan semangat dan motivasi peserta didik yang terbiasa belajar dalam ruangan.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa evolusi merupakan materi yang mengkaji lebih jauh sejarah nenek moyang makhluk hidup dan juga mengaitkannya dengan saat ini yang didukung dengan bukti-bukti peninggalan sejarah evolusi lainnya. Selain itu, materi evolusi juga membuat kita mengetahui hubungan kekerabatan makhluk hidup dan filogeninya sehingga para ahli dapat dengan mudah mengetahui klasifikasi dari makhluk hidup berdasarkan hubungan kekerabatannya. Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini juga memudahkan peneliti dalam mengkaji lebih jauh filogeni makhluk hidup melalui analisis genetika molekuler dan semakin memperluas pohon filogeni suatu domain. Meski demikian baik domain eukariota dengan prokariota juga memiliki garis keturunan yang sama jika dikaji dari ilmu evolusi. Nilai kehidupan yang dapat dipetik dari mempelajari evolusi adalah kita semakin yakin bahwa alam semesta ini diciptakan oleh tuhan yang maha esa dan selalu berkembang dan menyesuaikan setiap waktunya guna bertahan hidup di dunia, manusia juga merupakan makhluk hidup yang sempurna yang berasal dari makhluk hidup sebelumnya sehingga kita tidak seharusnya menjadi makhluk hidup yang sombong karena kita masih dalam proses perkembangan dengan kata lain manusia di masa depan nantinya juga merupakan evolusi yang lebih baik dari diri kita saat ini. luasnya ilmu pengetahuan yang masih belum kita ketahui dan menjadi misteri menunjukan seberapa besar kuasa tuhan dalam menciptakan makhluknya dan sudah seharusnya kita tidak sombong dan besar kepala. Evolusi juga tidak selalu berdampak baik bagi lingkungan oleh karena itu sudah sewajarnya kita menjaga lingkungan yang dapat membantu perkembangan makhluk hidup lain agar tidak punah nantinya.
Media
Photos
Videos
Audios
Files
Sorry, no items found.
Evolusi
Public Group