-
Nama : Asadila Pratama Wuri Nugrahini
NIM : 2224200006
Kelas : 6A
Jurusan : Pendidikan Biologi
Mata Kuliah : Evolusi
Dosen Pengampu : Dr. Dian Rachmawati, M.Sc.TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)
“SEJARAH DAN PERKEMBANGAN EVOLUSI”A. Masa Pra Darwin
Masa pra Darwin dapat digolongkan menjadi dua tahapan, yaitu :
1. Masa Fiksisme (Aristoteles, Plato, Leeuwenhoek, Cuvier, Linnaeus, Buffon, Hooke, dll), yang pemikirannya memiliki kedekatan dengan mitos, sehingga pendapatnya juga lebih bercorak sebagai fiksi ilmiah. Konsep-konsep utama yang berkembang masa itu :
a. Sampai abad ke-18, paham yang berkembang adalah bahwa organisme adalah sebagai ciptaan Tuhan, sehingga dalam bahasan Biologi tentang “Asal-usul Kehidupan” disebut sebagai Teori Ciptaan Khusus (The Special Creation). Leewenhoek, meskipun dengan eksperimen yang menemukan Paraemecium dari potongan jerami yang direndam air selama 7 hari (sesuai dengan kitab kejadian, saat Tuhan menciptakan dunia dan seisinya), menyatakan bahwa kehidupan berasal dari benda tak hidup, yang disebutnya dengan konsep generatio spontanea.
b. Adanya kelainan atau cacat tubuh adalah sebagai kutukan, jadi bukanlah sebagai perubahan makhluk hidup yang dilatarbelakangi oleh seleksi alam maupun perubahan genetik (mutasi) makhluk hidup. Pemikiran yang mulai berbeda dengan teori Ciptaan Khusus kemudian mulai digagas oleh beberapa orang ahli, seperti :
1) Linnaeus mengelompokkan organisme berdasarkan kesamaan alat reproduksinya, dan manusia dimasukkan ke dalam kelompok kera (kera = primata tidak berekor, monyet = primata berekor)
2) Buffon menyatakan bahwa hewan-hewan bersifat plastis. Variasi-variasi kecil yang dihasilkan lingkungan akan berakumulasi membentuk perbedaan-perbedaan yang lebih besar. Setiap hewan pada jalur tipe-tipe hewan, berubah dari moyangnya yang keadaanya lebih sederhana.
3) Cuvier menyatakan bahwa tipe-tipe baru spesies terbentuk setelah ada bencana. Setiap spesies tercipta secara terpisah. Georges Cuvier percaya bahwa bencana dan malapeteka yang terjadi di muka bumi akan mengikis kehidupan yang ada. Dalam setiap peristiwa bencana, selalu ada satu wilayah yang terhindar dari bencana. Kehidupan yang tersisa akan menyebar ke wilayah-wilayah lainnya.
2. Masa Adaptasi & Transformasi (Hutton, Malthus, Lamarck, Lyell dll.) Konsep-konsep yang berkembang pada tahapan ini adalah :
a. Semua ahli yang menyatakan teori evolusi masa ini didasarkan atas adanya perbedaan antara makhluk satu dengan lainnya. Erasmus Darwin, yang tiada lain kakek Charles Robert Darwin, dalam bukunya “Zoonomia” menyatakan bahwa kehidupan itu berasal dari asal mula yang sama. Respons fungsional yang dimiliki oleh individu makhluk hidup akan diwariskan kepada keturunannya.
b. Lamarck
1) Lamarck, adalah biologiwan Perancis yang dikenal karena pendapatnya dalam teori tentang evolusi kehidupan. Dia menyatakan bahwa perbedaan antar individu terjadi karena kebiasaan atau latihan-latihan yang dilakukan individu tersebut. Hal yang diperoleh melalui latihan dapat diturunkan kepada anaknya.
2) Lamarck dikenal sebagai penggagas suatu bentuk teori evolusi kehidupan, yang kemudian dikenal sebagai Lamarckisme. Ia percaya akan adanya perubahan linear pada makhluk hidup dari bentuk tersederhana menuju bentuk yang lebih canggih. Walaupun demikian, ia mendasarkan pada pendapat yang telah berlaku sejak masa kuno yang menyatakan bahwa setiap spesies sudah ada sejak penciptaan kehidupan. Pemikiran ini bertentangan dengan banyak pendapat sarjana Perancis pada zamannya, yang lebih condong pada perkembangan spesies. Ketika itu dinyatakan bahwa spesies-spesies terbentuk dalam perkembangan proses kehidupan, tidak “langsung jadi” begitu saja. Perubahan yang terjadi pada spesies adalah sebagai akibat respons makhluk hidup terhadap lingkungan (adaptasi).
3) Semenjak Charles Darwin dan Alfred Wallace mengemukakan teori mereka, teori Lamarck sering kali digunakan untuk menyanggah pendapat Darwin tentang seleksi alam. Pertentangan pemikiran ini baru tuntas setelah cabang ilmu Genetika semakin dikenal orang pada abad ke-20. Konsep-konsep genetika banyak memberi dukungan pada Darwinisme.
c. Para pendukung materialisme dialektika,pemikiran yang berkembang pesat di akhir abad ke-19, menganggap Lamarckisme sesuai dengan ideologi mereka, dan melahirkan Neo-Lamarckisme. Kaum ini menolak teori evolusi Darwin, mengadopsi Lamarckisme, dan bahkan mempraktekkannya dalam bidang pertanian di negara-negara komunis. Vernalisasi (perlakuan suhu rendah) terhadap benih gandum dianggap dapat “melatih” tanaman sehingga tahan menghadapi musim dingin. Pendapat ini dipercaya karena hasil penelitian Ivan Mitschurin, seorang pemulia tanaman Rusia, menunjukkan hal itu
d. Charles Lyell mengemukakan adanya evolusi geologi. Teori ini berbicara mengenai perubahan ketinggian tanah, sedimen yang dibawa oleh air, perubahan partikel dan perubahan iklim.
e. Malthus menyatakan bahwa kenaikan produksi bahan makanan seperti fungsi deret hitung, sedangkan kenaikan jumlah penduduk (populasi) menurut fungsi deret ukur. Karena pertumbuhan makanan tidak sebanding dengan pertumbuhan populasi, maka setiap individu makhluk hidup harus berjuang untuk mendapatkan makan sebagai prasyarat untuk mempertahankan hidup.
B. Masa Darwin
1. Masa Seleksi Alam (Darwin, Wallace)
a. Charles Robert Darwin
1) Darwin mempelajari variasi yang terdapat pada berbagai burung jenis merpati yang dipelihara (domestikasi) oleh para penggemar burung di Inggris. Darwin menemukan berbagai variasi, seperti : merpati gundul, merpati jambul, merpati pos, merpati ekor merak, pouter, dsb.
2) Waktu itu Darwin menganggap bahwa variasi itu adalah spesies (ini tidak betul setelah ditemukan definisi spesies). Semua variasi itu dinyatakan sebagai peristiwa spesiasi (pembentukan spesies baru) yang berasal dari moyang merpati, yaitu merpati liar (rock pigeon) yang masih banyak hidup di Inggris.
3) Melakukan observasi tentang asal-usul burung di kepulauan Galapagos. Sasaran pengamatannya adalah burung finch (emprit branjangan). Darwin menemukan fakta bahwa berbagai spesies finch, berdasarkan pada tempat hidup (habitat khusus) dan jenis makanannya, terdapat variasi pada struktur paruh mereka.
4) Melihat adanya keanekaragaman makhluk hidup, tetapi tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Konsep Darwin tentang spesiasi ini ditulisnya sebagai buku yang berjudul: The Origin of Species by Means Natural Selection and Preservation of The Fits in Struggle for Life, pada tahun 1844.
b. Menurut Darwin evolusi terjadi karena adanya seleksi alam (faktor alam yang mampu menyeleksi makhluk hidup). Adaptasi merupakan penyebab terjadinya seleksi alam (mekanisme seleksi alam). Ia juga mengoreksi pendapat Lamarck tentang jerapah. Jerapah yang berleher panjang berasal dari yang berleher panjang pula, sedangkan yang berleher pendek musnah. Faktor yang menyebabkan evolusi (mekanisme evolusi adalah seleksi alam).
c. Dari teori yang ada, Darwin menyusun bukti-bukti dan mengemukakan suatu teori untuk menjelaskan bagaimana evolusi tersebut berlangsung. Ia menjelaskan data, yang dikatakannya sebagai bukti, sebagai berikut :
1) Kecepatan reproduksi semua spesies (jenis) melebihi kecepatan penambahan persediaan makanan.
2) Semua organisme menunjukkan variasi, tidak ada dua individu dalam satu jenis yang persis sama.
3) Semakin banyak individu memiliki peluang untuk hidup, tetapi karena keterbatasan makanan, tiap individu harus berjuang mempertahankan hidup, yang didukung oleh ukuran tubuh, kekuatan, kemampuan lari, atau ciri apapun untuk bertahan yang menyebabkan individu punya kelebihan terhadap yang lain.
4) Ciri yang mendukung kemampuan bertahan hidup akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
5) Sepanjang masa geologik, variasi-variasi yang mampu bertahan akan menghasilkan perbedaan yang kian nyata, dan terbentuklah jenis baru. Selanjutnya Darwin menyatakan inti (konsep pokok) teori evolusi dapat dibagi menjadi beberapa pokok berikut ini :
1) Variasi pada tumbuhan dan hewan merupakan suatu variasi karateristik yang muncul dalam penampakan fenotip organisasi tersebut.
2) Rasio pertambahan terjadi secara geometrik, yaitu jumlah setiap spesies relatif tetap. Hal ini terjadi karena banyak individu yang tersingkir oleh predator, perubahan iklim dan proses persaingan.
3) Struggle for existance (usaha yang keras untuk bertahan) merupakan suatu usaha individu organisme untuk bertahan hidup. Individu dengan variasi yang tidak sesuai untuk kondisi-kondisi yang umum di alam, akan tersingkir. Adapun individu-individu dengan variasi yang menguntungkan dapat melanjutkan kehidupannya dan memperbanyak diri dengan berproduksi.
4) The survival of fittest, ketahanan didapat dari organisme yang memiliki kualitas paling sesuai dengan lingkungan. Individu-individu yang dapat hidup akan mewariskan variasi-variasi tersebut kepada generasi berikutnya.
d. Seiring dengan berkembangnya pengetahuan biologi pada abad ke-18, pemikiran evolusi Darwin mulai menelusuri kembali pemikiran beberapa filsuf seperti Pierre Maupertuis (1745) dan Erasmus Darwin (1796). Pemikiran biologiawan Jean-Baptiste Lamarck tentang transmutasi spesies juga memiliki pengaruh yang kuat. Charles Darwin merumuskan pemikiran seleksi alamnya pada tahun 1838 dan masih mengembangkan teorinya pada tahun 1858 ketika Alfred Russel Wallace mengirimkannya teori yang mirip, melalui suratnya “Surat dari Ternate”. Keduanya diajukan ke Linnean Society of London sebagai dua karya yang terpisah. Pada akhir tahun 1859, publikasi Darwin, On the Origin of Species, menjelaskan seleksi alam secara detail dan memberikan bukti yang mendorong penerimaan luas evolusi dalam komunitas ilmiah.
e. Sir Alfred Russel Wallace
1) Dari hasil perjalanannya ke Malaysia, Borneo, Sulawesi dan Maluku, dia melihat perbedaan fauna di Indonesia bagian Barat dan Timur, yang dibatasi dengan garis imajiner membentang dari utara laut antara pulau Kalimantan dengan pulau Sulawesi, membentang ke selatan membelah selat Lombok. Laut yang disebut sebagai pembatas ini merupakan laut yang dalam. Fauna Kalimantan dan Bali ke barat bersubtipe Malaysia yang merupakan tipe flora Asia, sedangkan fauna Sulawesi dan Australia. Lombok ke timur bersubtipe Australasia, mirip fauna Australia.
2) Ia juga menyatakan persetujuannya pada konsep Survival of the fittest (siapa yang kuat dia yang menang) seperti yang dikemukakan oleh Darwin.
2. Masa Teori Genetika (Mendel, De Vries, Tschernov, Bateson, Weismann, dll)
a. Gregor Johan Mendel : Hukum Pewarisan Sifat Pengkajian kembali kembali karya Gregor Johan Mendel mengenai genetika, yang tidak diketahui oleh Darwin dan Wallace, dikemukakan oleh Hugo de Vries untuk menjelaskan tentang pewarisan sifat makhluk hidup kepada keturunannya.
b. De Vries dan Tschernov: menguatkan kembali hukum Mendel melalui penelitian-penelitian yang dilakukan. Pada masa Darwin teori Genetika dan teori Evolusi merupakan dua disiplin ilmu yang berkembang bersama dan terpisah satu dengan lainnya tanpa ada sangkut pautnya. Mereka berdualah yang menghubungkan antara dua teori tersebut, sehingga teori evolusi mampu memberikan penjelasan tentang bagaimana perubahan sifat yang terjadi itu dilatarbelakangi oleh mutasi gen-gen, dan kemudian diwariskan kepada keturunannya.
c. Bateson menyatakan bahwa kesesuaian antara warna tubuh makhluk hidup dengan lingkungannya, atau disebut mimikri, merupakan adaptasi dalam bentuk warna penyamaran, sehingga tidak tampak mencolok. Contoh yang diambil olehnya adalah warna sayap berbagai kupu-kupu.
d. Weismann, seorang ahli biologi berkebangsaan Jerman yang hidup pada tahun 1834-1912, menyatakan bahwa evolusi terjadi karena adanya seleksi alam terhadap faktor genetis. Variasi yang diwariskan dari induk kepada anaknya bukan diperoleh dari lingkungannya tetapi perubahan yang diatur oleh faktor genetik atau gen. Dalam percobaannya Weismann memotong ekor tikus sampai 20 generasi, tetapi anaknya tetap saja berekor. Percobaan ini menyanggah teori evolusi Lamarck. Berdasarkan pendapat para ahli seperti yang telah disebut di atas, perdebatan mengenai mekanisme evolusi terus berlanjut. Ketika Darwin mencetuskan teori evolusinya, ia tidak dapat menjelaskan sumber variasi terwariskan yang diseleksi oleh seleksi alam. Seperti Lamarck, ia beranggapan bahwa orang tua (parental) mewariskan adaptasi yang diperolehnya selama hidupnya, teori yang kemudian disebut sebagai Lamarckisme. Pada tahun 1880-an, August Weismann mengindikasikan bahwa perubahan ini tidak diwariskan, dan Lamarckisme berangsur-angsur ditinggalkan. Selain itu, Darwin tidak dapat menjelaskan bagaimana sifat-sifat diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Pada tahun 1865, Gregor Mendel menemukan bahwa pewarisan sifat-sifat dapat diprediksi. Ketika karya Mendel ditemukan kembali pada tahun 1900-an, ketidakcocokan atas laju evolusi yang diprediksi oleh genetikawan dan biometrikawan meretakkan hubungan model evolusi Mendel dan Darwin.
C. Pasca Darwin
Pada masa ini masyarakat ilmiah lebih komunikatif, dibandingkan pada masa sebelumnya, sehingga para ahli bisa melihat keterkaitan antara ilmu satu dengan lainnya. Penemuan oleh Hugo de Vries dan lainnya pada awal 1900-an memberikan dorongan terhadap pemahaman bagaimana variasi terjadi pada sifat tumbuhan dan hewan. Seleksi alam menggunakan variasi tersebut untuk membentuk keanekaragaman sifat-sifat adaptasi yang terpantau pada organisme hidup. Walaupun Hugo de Vries dan genetikawan pada awalnya sangat kritis terhadap teori evolusi, penemuan kembali genetika dan riset selanjutnya pada akhirnya memberikan dasar yang kuat terhadap evolusi, bahkan lebih meyakinkan daripada ketika teori ini pertama kali diajukan. Dokumentasi fakta-fakta terjadinya evolusi dilakukan oleh cabang biologi yang dinamakan biologi evolusioner. Cabang ini juga mengembangkan dan menguji teori-teori yang menjelaskan penyebab evolusi. Kajian catatan fosil dan keanekaragaman hayati organisme-organisme hidup telah meyakinkan para ilmuwan pada pertengahan abad ke-19 bahwa spesies berubah dari waktu ke waktu. Namun, mekanisme yang mendorong perubahan ini tetap tidaklah jelas sampai pada publikasi tahun 1859 oleh Charles Darwin, On the Origin of Species yang menjelaskan dengan detail teori evolusi melalui seleksi alam. Karya Darwin dengan segera diikuti oleh penerimaan teori evolusi dalam komunitas ilmiah. Pada tahun 1930, teori seleksi alam Darwin digabungkan dengan teori pewarisan Mendel, membentuk sintesis evolusi modern, yang menghubungkan satuan evolusi (gen) dengan mekanisme evolusi (seleksi alam). Kekuatan penjelasan dan prediksi teori ini mendorong riset yang secara terus menerus menimbulkan pertanyaan baru, di mana hal ini telah menjadi prinsip pusat biologi modern yang memberikan penjelasan secara lebih menyeluruh tentang keanekaragaman hayati di bumi. Kontradiksi antara teori evolusi Darwin melalui seleksi alam dengan karya Mendel disatukan pada tahun 1920-an dan 1930-an oleh biologiawan evolusi seperti J.B.S. Haldane, Sewall Wright, dan terutama Ronald Fisher, yang menyusun dasar-dasar genetika populasi. Hasilnya adalah kombinasi evolusi melalui seleksi alam dengan pewarisan Mendel menjadi sintesis evolusi modern. Bukan hanya Genetika dan Evolusi saja yang saling menunjang, tetapi semua cabang ilmu biologi dapat menjelaskan fenomena evolusi. Pernyataan ini didukung oleh sebagian besar ahli biologi pada waktu itu. Theodozius Dobzhansky, ahli genetika, berjasa merangkum begitu banyak fenomena evolusi dari berbagai macam disiplin biologi. Ahli-ahli lain yang terlibat dalam pengembangan teori evolusi pasca Darwin antara lain: Morgan, yang melakukan pengamatan terhadap fenomena kerja gen pada lalat buah (Drosophila melanogaster);Mayr & Darlington, seorang ahli taksonomi sistematik & zoogeografi burung, menemukan fenomena evolusi yang baru; Simpson, ahli Paleontologi.
Adapun alasan saya memilih materi ini adalah karena materi ini sangat unik dan menarik untuk di pelajari. Saya menjadi tahu bagaimana dahulu nenek moyang kita terbentuk dari berbagai masa/zaman dan melalui proses yang sangat panjang. Tentunya proses tersebut juga di bantu oleh para ahli peneliti yang sangat hebat di bidangnya. Sekaligus urgensinya mempelajari materi ini adalah karena sejarah merupakan kejadian/peristiwa yang berhubungan dengan manusia, yaitu menyangkut perubahan yang nyata didalam kehidupan manusia. Jadi kita sebagai generasi penerus sangat penting sekali untuk mempelajari sejarah evolusi. Selain sebagai pengetahuan, sejarah dapat juga sebagai bekal kita di masa yang akan datang salah satu contohnya yaitu dapat menceritakan sejarah ini kepada keturunan-keturunan kita selanjutnya. Dalam mempelajari materi ini tentunya tidak mudah, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi salah satunya ialah rasa malas dan bosan, karena jujur saya pribadi tidak terlalu terkesan dalam mempelajari materi sejarah. Menurut saya sejarah itu sangat membosankan dan rumit untuk di pelajari. Tetapi saya berusaha untuk melawan rasa malas itu dengan berbagai cara salah satunya dengan menonton video yang berada di youtube. Setelah saya melihat video mengenai proses terbentuknya nenek moyang dari masa ke masa dari situlah saya mulai tertarik mempelajari materi ini. Kebetulan saya pribadi merupakan tipe kinestetik yaitu ketika sedang mempelajari sesuatu tidak bisa berpatok dengan tulisan saja tetapi harus melalui visual agar dapat memicu semangat dalam belajar. Adapun jika suatu saat nanti saya menjadi guru atau peneliti, Aamiin. Saya ingin menggunakan model kolaborasi baik itu sesama tenaga pendidik atau para peneliti lainnya. Karena dengan model tersebut saya bisa bertukar ilmu pengetahuan, pengalaman, dan lain-lain. Model kolaborasi ini nantinya akan saya terapkan juga kepada peserta didik agar mereka bisa mendapatkan proses belajar yang maksimal. Saran saya agar dapat memahami materi sejarah dan perkembangan evolusi dengan mudah adalah kenali terlebih dahulu pribadi masing-masing dalam belajar. Karena jika kita sudah bisa mengenal diri pribadi akan lebih mudah dalam mencari proses pembelajaran dengan nyaman. Contohnya seperti yang sudah saya ceritakan di atas. Gali pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan sebanyak-banyaknya jangan hanya berpatok pada satu metode saja, tetapi harus mencoba metode lainnya. Adapun hikmah atau nilai kehidupan yang dapat diambil setelah mempelajari materi ini adalah kita patut bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Jangan sesekali mengeluh atau memiliki pikiran negatif. Di zaman dahulu nenek moyang kita masih menggunakan teknologi yang sederhana dan tradisional. Kehidupan merekapun masih terbilang kuno dan masih terus mengalami perkembangan evolusi. Alhamdulillah di zaman sekarang yang sudah serba modern kita bisa menikmati apa saja di mulai dari teknologi, makanan, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain.DAFTAR PUSTAKA
Amri. (2020). Buku Ajar Evolusi. Parepare : UMPAR Press
Media
Photos
Videos
Audios
Files
Sorry, no items found.
Evolusi
Public Group