-
Rizka Ardya Wardani posted
Nama : Rizka Ardya Wardani
NIM : 2224200012
Kelas : 6B
Semester : 6
Jurusan : Pendidikan Biologi
EVOLUSI MANUSIA
Makhluk hidup sangat beranekaragam yang tertampak dari struktur tubuh, fungsi-fungsi tubuh, dan perilaku setiap jenis makhluk. Meskipun jenis-jenis makhluk hidup beranekaragam, namun kemiripan dalam hal-hal tertentu masih terlihat juga. Sebagai contoh, antara harimau dengan kucing terdapat perbedaan ukuran tubuh dan warna bulu pada badan, namun secara keseluruhan tampang atau fisik mereka terlihat mirip. Berdasarkan kenyataan yang demikian ini para ilmuwan mencoba untuk menafsirkan bahwa jenis-jenis yang beranekaragam itu terlihat pola yang sama, sehingga diduga berasal dari moyang yang sama. Dengan kata lain, antara jenis satu dengan yang lain ada hubungan kekerabatan. Pendapat ini merupakan pemahaman dalam teori evolusi. Definisi evolusi sendiri yaitu merupakan suatu ilmu yang mempelajari perubahan yang berangsur-angsur menuju ke arah yang sesuai dengan tempat dan masa. Pada dasarnya evolusi tidak untuk membuktikan apakah suatu jenis berasal dari jenis yang lain. Menurut Darwin, suatu organisme berasal dari organisme yang lain. Namun pembuktian bahwa suatu jenis berasal dari jenis yang lain tidak pernah dapat dibuktikan. Hal yang dipelajari dalam teori evolusi adalah proses perubahannya. Data fosil dan data dari organisme merupakan salah satu hal yang digunakan oleh manusia masa kini untuk mengetahui dengan pasti dan mempelajari mengenai apa yang terjadi pada masa lalu. Bukti yang digunakan untuk mempelajari perubahan akan ditinjau dari banyak segi yang dapat memberikan petunjuk mengenai apa yang terjadi pada masa lalu. Suatu sifat akan berevolusi sesuai dengan perkembangan waktu dan tempat. Dengan menggunakan data fosil dan organisme aktuil mempunyai semua sifat terevolusi.
Evolusi memiliki artinya perubahan-perubahan dalam bentuk dan tingkah laku organisme antara generasi ke generasi. Bentuk-bentuk organisme, pada semua level dari rantai DNA sampai bentuk morfologi yang makroskopik dan tingkah laku sosial yang termodifikasi dari nenek moyang selama proses evolusi. Evolusi dari segi bahasa (Bahasa Inggris: evolution), berarti perkembangan. Dalam ilmu sejarah, evolusi diartikan sebagai perkembangan sosial, ekonomis, politis yang berjalan sedikit demi sedikit, tanpa unsur paksaan. Dalam ilmu pengetahuan, istilah evolusi diartikan sebagai perkembangan berangsur-angsur dari benda yang sederhana menuju benda yang lebih sempurna. Evolusi pada dasarnya berarti proses perubahan dalam jangka waktu tertentu. Dalam konteks biologi modern, evolusi berarti perubahan frekuensi gen dalam suatu populasi. Akumulasi perubahan gen ini menyebabkan terjadinya perubahan pada makhluk hidup. Teori-teori ilmiah terbaru sering mendorong banyak kontroversi. Kontroversi ini mempunyai pengaruh bermanfaat pada kemajuan ilmiah, karenanya para ilmuan dengan pandangan-pandangan yang berbeda bekerja secara intensif untuk menemukan bukti-bukti yang dapat mendukung ide-ide mereka. Darwin melandasi setiap aktivitas mereka. Sebagai ilmuan, mereka berusaha mencari data-data yang dapat mendukung ataupun dapat membuktikan bahwa teori-teori terdahulu itu mungkin saja tidak benar.
Evolusi sebagai cabang Biologi dalam rumpun Sains adalah ilmu yang mempelajari tentang perubahan yang terjadi secara berangsur-angsur menuju kesesuaian dengan waktu dan tempat. Sebagai ilmu pengetahuan, kajian evolusi didasarkan atas data keanekaragaman dan keseragaman makhluk hidup dalam tingkat komunitas, dan kemudian dalam perkembangan berikutnya didukung oleh data-data penemuan fosil, sehingga tidak pernah dapat menerangkan dengan lengkap apa yang pernah terjadi pada masa lampau. Hal inilah yang kemudian oleh para penentang paham evolusi digunakan sebagai dasar penolakan mereka. Terlebih lagi jika penentang itu berasal dari tokoh agama, mereka melawan paham evolusi dengan tetap menunjukkan apa yang telah tersurat dalam kitab suci mereka. Maka untuk lebih menetralisasi (memperlunak) agar pertentangan tidak lebih meruncing paham evolusi sering juga disebut sebagai Hipotesis Evolusi, yang kebenarannya masih perlu diuji lebih lanjut. Terdapat beberapa konsep penting dalam evolusi yaitu, perubahan evolusi merupakan perubahan komposisi genetik suatu populasi pada satuan waktu tertentu, alam berfungsi sebagai pengarah dalam proses evolusi populasi makhluk hidup, faktor terpenting dalam proses evolusi adalah seleksi alam, dan terdapat bentuk respons yang berbeda-beda makhluk hidup terhadap seleksi alam.
Gagasan bahwa manusia berevolusi telah ada sejak lama, tetapi sebelum pertengahan 1800-an gagasan itu tidak diterima secara luas. Saat ini sangat sedikit fosil nenek moyang manusia yang ditemukan, dan tidak ada teori yang benar-benar bagus untuk menjelaskan cara kerja evolusi. Ini berubah secara dramatis ketika ilmuwan Inggris Charles Darwin menerbitkan teori seleksi alamnya yang sekarang terkenal pada tahun 1859. Inilah yang masih digunakan para ilmuwan saat ini untuk menjelaskan cara kerja evolusi – termasuk evolusi manusia. Teori seleksi alam Darwin mengatakan bahwa banyak keturunan yang lahir di setiap generasi, dan setiap generasi sedikit berbeda. Karena persaingan dan sumber daya yang terbatas, lebih banyak yang lahir daripada yang mampu bertahan untuk menghasilkan keturunannya sendiri. Rata-rata, hanya yang ‘paling cocok’ di setiap generasi – mereka yang dapat bertahan hidup dan bereproduksi di lingkungan tempat mereka berada – meneruskan gen mereka ke generasi berikutnya. Melalui proses seleksi alam ini, secara bertahap selama beberapa generasi, spesies berevolusi untuk menyesuaikan dengan lingkungannya. Saat lingkungan terus berubah, seleksi alam terus terjadi. Seleksi alam berarti bahwa populasi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya dari waktu ke waktu. Namun, seiring berkembangnya populasi, mereka juga akhirnya dapat terpecah menjadi dua atau lebih spesies berbeda, yang kemudian dikatakan memiliki ‘nenek moyang yang sama’. Spesies baru ini pada akhirnya dapat membelah lagi, menjadi lebih banyak spesies baru dan seterusnya, hingga akhirnya seluruh ‘pohon evolusi’ spesies terbentuk. Dalam perjalanannya, beberapa spesies punah. Proses ini adalah bagaimana semua spesies di bumi berevolusi, termasuk manusia.
Menurut Darwin, leluhur pertama manusia hidup di benua Afrika, yang barangkali bergigi taring besar. Mereka lambat laun terbiasa menggunakan batu, pentungan atau senjata lain untuk berkelahi dengan musuh-musuh atau saingan. Mereka tentu makin lama makin jarang menggunakan gigi dan rahang. Dalam hal ini, ukuran rahang dan gigi menyusut. Dari penggolongan inilah dapat diketahui bahwa pernah adanya manusia kera, sehingga berkesimpulan bahwa nenek moyang manusia adalah kera. Terdapat jenis-jenis manusia purba yang ada di indonesia seperti, Meganthropus Paleojavanicus, Pithecanthropus Erectus, Homo Sapiens. Antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari manusia (anthropos). Secara etimologi, antropologi berasal dari kata anthropos (manusia) dan logos (ilmu). Dalam antropologi, manusia dipandang sebagai sesuatu yang kompleks dari segi fisik, emosi, sosial, dan kebudayaannya. secara akademis antropologi adalah sebuah ilmu tentang manusia pada umumnya dengan titik fokus kajian pada bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaan manusia. Sedangkan secara praktis, antropologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari manusia dalam beragam masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku bangsa tersebut. Terdapat beberapa jenis antropologi yaitu antropologi fisik yang diaman diartikan sebagai cabang antropologi yang memfokuskan kajiannya pada manusia sebagai organisme biologis, yang menekankan pada kajian masalah evolusi manusia. Antropologi fisik mempelajari keragaman manusia di dunia dilihat dari segi fisiknya. Antropologi budaya dimana diartikan sebagai cabang antropologi umum yang berupaya mempelajari kebudayaan pada umumnya dan beragam kebudayaan dari berbagai bangsa di seluruh dunia. Ilmu ini mengkaji bagaimana manusia mampu berkebudayaan dan mengembangkan kebudayaannya dari masa ke masa. Kemudian yang terakhir yaitu antropologi prasejarah yang merupakan sejarah perkembangan dan persebaran semua kebudayaan manusia sebelum manusia mengenal tulisan. secara umum, perkembangan sejarah kebudayaan umat manusia dapat dibagi ke dalam 2 bagian yaitu masa belum mengenal tulisan dan masa setelah mengenal tulisan.
Catatan fosil manusia membantu kita memahami manusia purba. Makhluk pertama yang sangat mirip manusia modern hidup kurang lebih satu juta tahun yang lalu. Hominid pertama, dikenal sebagai nenek moyang manusia, tinggal di Afrika sekitar delapan sampai enam juta tahun yang lalu, Beberapa manusia purba memiliki kasus otak yang panjang dan besar, Neanderthal 1.Salah satu hominid terbaru memiliki tengkorak besar dan otak yang bahkan lebih besar dari manusia modern 2.Kepala Neanderthal lebih rendah, lebih panjang, dan memiliki rongga mata bulat alis tebal, dan gigi besar, Homo heidelbergensis, yang hidup sekitar 250.000 hingga 1.000.000 tahun yang lalu memiliki ukuran otak yang sama seorang manusia modern, Australopithecus afarensis, yang hidup tiga hingga dua juta tahun lalu, 1. Memiliki gigi taring yang kecil, gigi pipi yang tebal dan tulang yang lebih tebal; 2. Memiliki lengan yang besar dan kuat; 3. Seperti manusia modern Australopithecus afarensis memiliki punggung berbentuk s, lutut lebar, dan menghadap ke depan jari kaki, Homo erectus, yang hidup 2.500.000 sampai 250.000 tahun yang lalu, memiliki otot pengunyah yang kuat, kubah berbentuk kepala, dan wajah lebar datar, Australopithecus garhi, yang hidup sekitar 2,5 juta jiwa memiliki kaki yang panjang.
Sejarah manusia adalah asal usul manusia. Fakta atau bukti yang diperoleh untuk mempelajari sejarah manusia dengan bantuan fosil-fosil yang ditemukan pada lapisan bumi. Dari fosil-fosil yang ditemukan, didapatkan kesimpulan bahwa deretan-deretan fosil yang terdapat di batuan muda berbeda apabila dibandingkan dengan fosilfosil dari batuan yang lebih tua. Perbedaan itu disebabkan oleh perubahan yang perlahan-lahan. Cara penyebaran hewan dan tumbuhan dapat membuka tabir mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada moyangnya. Tidak akurat untuk menganggap kalau manusia berkembang dari makhluk yang mirip atau identik dengan kera yang hidup di masa kini. Sebenarnya, baik manusia maupun kera berkembang dari nenek moyang bersama yang barangkali sama sekali tidak mirip dengan kera masa kini dalam hal ciri-ciri spesifiknya. Manusia dan kera telah berdivergensi dan menjalani jalur-jalur adaptif yang berbeda selama sekitar 8 juta tahun. Banyak antievolusionis menganggap bahwa evolusi menyatakan kalau kera yang mirip sekali dengan gorilla masa kini memunculkan manusia dalam jangka waktu yang relatif pendek (ribuan tahun). Pandangan-pandangan itu mencegah pertimbangan terbuka akan nilai teori evolusi untuk menjelaskan keberagaman pada semua organisme. Berhubungan dekat dengan perspektif tersebut adalah ide yang sama salahnya, bahwa evolusi selalu berjalan lurus (evolusi ortogenik) dari bentuk nenek moyang melalui serangkaian bentuk turunan hingga menjadi organisme yang sangat adaptif dan relatif permanen. Proses evolusi berlangsung terus, dan pada banyak kasus garis-garis keturunan berkembang seperti semak-semak, bukannya pohon. Tidak ada bentuk yang teramat khusus yang merupakan perwujudan penuh sebuah garis keturunan, akan tetapi percabangan terus menerus terjadi dan jarang ada serangkaian bentuk yang membentuk sebuah garis keturunan tunggal yang tak bercabang. Pada kasus manusia, garis keturunan hominid menghasilkan sebuah genus dan spesies berbeda, yang mungkin pernah bereksistensi satu sama lain untuk jangka waktu yang cukup lama. Pada saat yang sama, beberapa kera menjalani garis-garis evolusionernya sendiri untuk menghasilkan kera-kera masa kini, kera-kera lain menjadi punah. Banyak diantara bentuk-bentuk yang punah itu merupakan cabang dari garis keturunan kera dan bukan merupakan nenek moyang langsung dari kera masa kini. Setiap spesies mempunyai ciri-ciri khas yakni ciri struktur, ciri fisiologi, dan ciri tingkah laku yang membedakan dari spesies yang lain. Kadang-kadang sukar untuk dapat membedakan spesies yang berlainan tetapi yang dekat hubungan kekeluargaannya. Meskipun diantara individu dalam spesies manusia banyak terdapat keanekaragaman, spesies manusia dapat dibedakan dengan jelas dari hewan yang paling menyerupai, yakni Primata besar lainnya.
Hambatan dalam menelaah evolusi manusia dapat dipahami karena “rasa sebagai manusia dan kemanusiaannya” tersentuh, apalagi dalam pembentukan dirinya antara lain melalui pendidikan agama. Kajian sains modern tentang alam semesta dan asalusul kehidupan seringkali menghasilkan pada kesimpulankesimpulan yang mengarah pada eksistensi Tuhan. Pandangan sains yang mengarah pada bidang teologi tersebut telah menunjukkan adanya korelasi antara agama dan sains. Perbincangan yang mengkorelasikan antara agama dan sains, telah menarik perhatian banyak kalangan, baik ilmuwan maupun agamawan. Agama dan sains merupakan dua hal yang memainkan peran penting dalam sejarah umat manusia. Teori penciptaan terpisah (separated creation theory) atau yang lebih dikenal dengan kreasionisme menyatakan bahwa makhluk hidup diciptakan sendiri-sendiri dan jumlah spesies asal adalah sebanyak spesies yang ada sekarang. Gagasan penciptaan terpisah ini berasal dari pendapat masyarakat pada umunnya dan penafsiran harfiah Injil (Kitab Kejadian), yang mengatakan bahwa manusia diciptakan sebagai manusia, begitu pula makhluk hidup yang lain. Selama ini asal-usul makhluk hidup masih menjadi permasalahan di kalangan ilmuwan, agamawan maupun masyarakat pada umumnnya. Sebagaimana telah disebutkan di depan, bahwa yang masih menjadi permasalahan bagi rnereka adalah antara teori evolusi dan penciptaan terpisah. Keduanya masih sering menghadapi kritik dari berbagai kalangan. Kritik-kritik tersebut patut dikaji secara obyektif dan serius oleh para pakar masa kini, khususnya para ahli biologi. Sebagian besar kalangan agamawan hingga kini masih menolak teori evolusi. Kekhawatiran mereka terhadap teori evolusi terutama disebabkan karena penafsiran teori evolusi cenderung meniadakan Tuhan. Teori evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup termasuk manusia, muncul melalui proses seleksi alam (natural selection) yang gradual, sehingga bagi sementara pihak, peran Tuhan sebagai pencipta akan terusik. Pernyataan teori evolusi tersebut tentang keberadaan makhluk hidup secara kebetulan (by chance) dan tidak memiliki tujuan (non purposive) membuat signifikansi Tuhan bagi kehidupan meluntur.
Alasan mengapa saya memilih materi evolusi mengenai evolusi manusia yaitu karena masih terdapat banyak miskonsepsi yang terjadi pada teori evolusi manusia yang menyebutkan bahwa manusia berasal dari kera dimana hal tersebut bertentangan dengan agama. Padahal hal ini hanyalah sudut pandang dari sains biologi dan tidak perlu dikaitkan dengan agama. Menurut saya tidak semua teori dapat dikaitkan dengan agama karena yang terpenting kita mempercayai adanya tuhan dan ciptaannya sedangkan evolusi manusia ini hanya sekedar teori buatan manusia saja.
Media
Photos
Videos
Audios
Files
Sorry, no items found.
Evolusi
Public Group