Profile Photo

Diah Ayu SaraswatiOffline

    • Profile picture of Diah Ayu Saraswati

      Diah Ayu Saraswati posted

      • 3 years, 3 months ago

      Nama : Diah Ayu Saraswati
      NIM : 2224200070
      Kelas : 6A

      Pada mata kuliah evolusi terdapat beberapa materi yang disampaikan yaitu Sejarah dan perkembangan Evolusi, Bukti dan petunjuk evolusi, Spesiasi, Makro evolusi dan mikro evolusi, Klasifikasi Makhluk hidup, Genetika populasi Hardy Weinberg, Evolusi mikrorganisme, Evolusi Protista dan jamur, Evolusi tumbuhan (non vaskuler dan bervaskuler), Evolusi hewan (vertebrata dan nonvertebrata), evolusi manusia. Namun, pada pembahasan kali ini materi yang akan di jelaskan yaitu mengenai evolusi hewan. Sebelum membahas lebih jauh lagi terkait materi evolusi hewan. Perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan evolusi. Evolusi adalah perubahan bertahap pada rentang waktu yang sangat panjang (makro evolusi). Pendapat lain juga menjelaskan bahwa evolusi adalah perubahan frekuensi alel dari suatu populasi persatuan waktu (mikro evolusi).

      Evolusi terjadi ketika ada perubahan di dalam struktur genetika dari suatu populasi. Untuk memahami bagaimana suatu populasi berubah, para ahli biologi mempelajari jenis dan jumlah gen dari suatu populasi. Kumpulan gen (gene pool) adalah seluruh alela dari seluruh gen yang terdapat dalam seluruh individu dari suatu populasi pada suatu periode tertentu. Proporsi relatif alela dalam suatu populasi dinyatakan dengan frekuensi alela. Struktur genetik suatu populasi ditentukan oleh frekuensi alel dan genotipnya.

      Evolusi dapat terjadi melalui seleksi alam, hanyutan/pergeseran genetik (genetic drift), Aliran gen (gene flow), Mutasi, dan Perkawinan Tidak Acak. seleksi alam adalah suatu proses di mana organisme-organisme yang lebih baik penyesuaiannya terhadap lingkungan akan menghasilkan keturunan yang lebih banyak dibanding yang lain. Sebagai hasil dari seleksi alam, proporsi organisme suatu spesies dengan karakteristik yang bersifat adaptif terhadap lingkungan akan meningkat pada masing-masing generasi. Oleh karena itu, seleksi alam secara acak memodifikasi variasi asal dari ciri-ciri genetik suatu spesies sehingga alel-alel yang bersifat menguntungkan karena survive akan mendominasi, sedangkan alel-alel yang tidak menguntungkan akan berkurang. Seleksi alam mengakibatkan alel diturunkan ke generasi berikutnya dalam jumlah yang tidak proporsional dengan frekuensi relatif generasi saat itu, sehingga mengubah kumpulan gen. Seleksi alam mengakumulasi dan mempertahankan genotip yang menguntungkan dalam suatu populasi.

      Hanjutan/pergeseran genetik adalah perubahan dalam frekuensi gen pada suatu populasi berukuran kecil akibat kejadian acak. Secara ideal suatu populasi harus berukuran besar agar hanjutan/pergeseran genetik tidak mempengaruhi kumpulan gennya. Pada umumnya hanjutan/pergeseran genetik disebabkan oleh bencana besar dan pembentukan koloni baru oleh sejumlah kecil individu. Bencana besar misalnya letusan gunung berapi dan tsunami dapat mengurangi ukuran populasi secara drastis. Akibatnya, struktur genetik populasi kecil yang selamat mungkin tidak mewakili struktur populasi semula, situasi ini biasanya disebut sebagai efek leher botol (bottleneck effect).

      Aliran gen (juga disebut campuran gen atau migrasi gen) adalah pertukaran dari variasi genetik antar populasi, ketika faktor geografi dan habitat bukan rintangan. Aliran gen dapat menyebabkan perubahan pada frekuensi alel suatu populasi, kita tahu jika frekuensi alel suatu populasi berubah maka disana telah terjadi proses mikroevolusi.

      Mutasi adalah perubahan dalam DNA suatu organisme. Suatu mutasi baru yang diturunkan melalui gamet dapat dengan segera mengubah kumpulan gen suatu populasi. Mutasi selalu terjadi. Hampir semua gen mungkin mengalami mutasi sekali pada saat pembelahan yang ke 50.000 hingga 100.000. Kecepatan mutasi dari berbagai gen bervariasi. Alel yang lebih stabil, frekuensinya akan cenderung bertambah banyak, sedangkan alel yang mudah bermutasi akan cenderung untuk berkurang frekuensinya. Meskipun mutasi pada suatu lokus gen tertentu jarang terjadi, dampak kumulatif mutasi tersebut pada semua lokus bisa signifikan. Hal ini disebabkan oleh setiap individu memiliki ribuan gen, dan banyak populasi memiliki ribuan atau jutaan individu. Dengan begitu, dalam jangka panjang mutasi sangat penting bagi evolusi karena mutase mempertinggi variabilitas yang berfungsi sebagai bahan mentah untuk seleksi alam.

      Syarat lain agar kesetimbangan Hardy-Weinberg dapat dipertahankan adalah perkawinan acak. Tetapi pada kenyataannya, individu lebih sering kawin dengan anggota populasi yang lebih dekat dibandingkan dengan yang lebih jauh jaraknya, terutama pada spesies yang penyebarannya dekat. Hal ini akan mendorong perkawinan antarkerabat (inbreeding). Perkawinan tidak acak lainnya adalah perkawinan asortatif atau perkawinan berdasarkan pilihan, di mana individu memilih pasangan yang sama dengan dirinya dalam fenotip tertentu. Perkawinan yang tidak acak akan meningkatkan jumlah genotif homozygot dari lokus gen pada individu. Setiap perubahan dalam perilaku kawin asortatif atau kawin antar kerabat populasi akan menggeser frekuensi genotif yang berlainan. Dengan demikian, perkawinan tidak acak dapat menyebabkan populasi berevolusi.
      Dengan beberapa penyebab evolusi diatas yang paling mudah dipahai yaitu mekanisme seleksi alam. Nenek moyang suatu organisme akan terus berkembang karena adanya penyesuaian atau adaptasi dari struktur maupun fisiologi tubuh organisme tersebut. Adaptasi tersebut tentunya akan menghasilkan organisme baru namun dari nenek moyang yang sama. Teori mengenai seleksi alam yang umum diketahui adalah nenek seleksi alam yang terjadi pada jerapah berleher pendek dengan jerapah berleher Panjang. Awalnya jerapah memiliki leher yang pendek yang mirip dengan keledai. Karena makananya yang tinggi, jerapah berusaha mengambil makananya tersebut sehingga lehernya terus memanjang. Karena jerapah terus meneus menjulurkan lehernya untuk meraih makananya, sehingga struktur dari leher jerapaah tersebut memanjang, sehingga lama kelamaan jerapah akan memiliki leher yang Panjang seperti yang kita lihat sekarang.

      Hewan vertebrata adalah kelompok hewan yang memiliki kerangka dalam berupa tulang belakang atau tulang punggung. Vertebrata termasuk dalam filum Chordata, yang juga mencakup hewan-hewan lain seperti invertebrata seperti ubur-ubur, cacing, dan lainnya. Asal usul hewan vertebrata dapat ditelusuri ke zaman Prakambrium, sekitar 530 juta tahun yang lalu. Evolusi vertebrata dimulai dengan munculnya organisme laut awal yang memiliki beberapa ciri khas yang menjadi ciri khas hewan vertebrata modern. Fosil tertua yang diketahui termsuk dalam hewan vertebrata adalah Conodonts, yang hidup sekitar 530 juta tahun yang lalu. Conodonts adalah organisme kecil dengan gigi-gigi kecil yang digunakan untuk makan. Kemudian, pada periode selanjutnya, muncul kelompok hewan laut primitif yang dikenal sebagai ikan bertulang rawan. Ikan-ikan ini memiliki tulang rawan sebagai kerangka internal mereka. Fosil ikan bertulang rawan tertua yang diketahui berasal dari sekitar 450 juta tahun yang lalu. Selanjutnya, pada periode Devonian sekitar 360 juta tahun yang lalu, munculah ikan bertulang sejati atau ikan bertulang keras yang memiliki kerangka internal yang terbuat dari tulang. Ikan bertulang keras merupakan nenek moyang dari semua vertebrata darat, termasuk amfibi, reptil, burung, dan mamalia.

      Pada tahap selanjutnya, vertebrata darat berevolusi menjadi beragam kelompok hewan, termasuk amfibi yang merupakan kelompok pertama yang berhasil beradaptasi di daratan, diikuti oleh reptil, burung, dan mamalia. Jadi, asal usul hewan vertebrata dapat ditelusuri kembali ke zaman Prakambrium, dengan evolusi dari organisme laut awal menjadi ikan bertulang rawan, kemudian menjadi ikan bertulang sejati, dan akhirnya berkembang menjadi berbagai kelompok hewan vertebrata yang ada saat ini. Hewan verterbrata juga mengalami evolusi. Evolusi vertebrata dimulai dari evolusi Chordata. Chordata mengalami evolusi membentuk tulang belakang. Selanjutnya hewan bertulang belakang disebut Vertebrata. Vertebrata paling primitif tidak memiliki rahang. Selanjutnya hewan tersebut terus berevolusi sebagai bentuk adaptasinya. Kelas pertama yang muncul adalah Pisces. Selanjutnya Pisces berevolusi sehingga muncul Amphibi. Amphibi adalah Vertebrata pertama yang mampu hidup di darat. Selanjutnya Amphibi berevolusi sehingga muncul Reptil. Muncul pula reptil bersayap sebagai nenek moyang Aves. Akhirnya setelah itu muncul mamalia sebagai hewan yang memiliki kelenjar susu.

      Amphibi berkembang sebagai vertebrata terestrial pertama yang pertama kali berevolusi pada periode Devonian (360-408 juta tahun yang lalu). Pada periode ini, arthropoda terestrial berkembang cukup pesat. Sarcopterygii yang merupakan leluhur dari semua vertebrata berkaki empat (tetrapoda) mulai beradaptasi untuk berjalan di darat, sirip pektoral dan pelvis yang kuat secara bertahap berubah menjadi tungkai. Evolusi tetrapoda dimulai dari tetrapodomorph yang hidup di lingkungan air dangkal. Salah satu tetrapoda paling awal adalah Acanthostega yang dilengkapi dengan kaki fungsional dan paru-paru serta insang. Acanthostega muncul pada akhir periode Devonian dan terkenal memiliki anatomi peralihan antara karakter ikan bersirip lobus dan tetrapoda yang sepenuhnya mampu hidup di darat.

      Munculnya hewan multisel terjadi dalam peristiwa yang dikenal sebagai ledakan Kambrium. Asal muasal kehidupan multisel dari sekelompok organisme kolonial didasarkan pada asumsi tentang bagaimana embrio berkembang dan kesamaan di dalam struktur molekulnya. Menurut evolusionis, karena organisme ini terus berkembang, mereka menginvasi daratan. Persaingan sumber daya, baik di laut maupun di darat, menyebabkan berbagai macam bagian tubuh berkembang. Organisme bersel tunggal (dibahas sebelumnya) konon mulai membentuk koloni. Koloni menawarkan organisme ini keuntungan yang tidak diketahui. Jadi seleksi alam menyebabkan semakin banyak koloni. Seiring berjalannya waktu, organisme colonial ini mulai mengembangkan sel-sel khusus dan kemudian membentuk bola dengan lekukan yang dapat menelan sesuatu dan memanfaatkan sumber makanan baru. Memanfaatkan sumber makanan baru ini mengarah pada lebih banyak kemajuan, dan akhirnya ada ribuan bentuk kehidupan invertebrata yang terbentuk berenang di laut purba.

      Selain vertebrata terdapat juga avertebrata atau yang sering kita sebut invertebrata. Pada vertebrata hewan memiliki tulang belakang, namun pada invertebrate ini tidk memiliki tulang belakang. Evolusi Invertebrata dimulai dari nenek moyang berupa protista yang hidup di laut. Ketika itu evolusi biologis berlangsung semakin cepat dibandingkan dengan evolusi biologis pertamakali. Protista bercabang tiga, dimulai dari filum Porifera, filum Cnidaria, dan filum Platyhelminthes. Plathyhelminthes bercabang tiga, cabang pertama bercabang tiga lagi menjadi filum Mollusca, filum Annelida, dan filum Arthropoda. Cabang kedua menjadi filum nematoda. Sedangkan cabang ketiga menjadi dua filum yaitu Echinodermata dan filum Chordata.” dari evolusi invertebrata dapat diketahui bahwa evolusi invertebrata berasal dari nenek moyang berupa Echinodermata. Echinodermata akan berkembang menjadi Echinodermata modern yang ada sekarang ini, misalnya bintang laut, bulu babi Hemichordata, Chordata primitif seperti Tunicata dan lanceleolatus.

      Evolusi biologis pada invertebrata tidak secara intrinsik lebih cepat daripada evolusi biologis pada organisme lainnya. Laju evolusi dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tingkat mutasi genetik, seleksi alam, dan perubahan lingkungan. Namun, dalam beberapa kasus, invertebrata dapat menunjukkan laju evolusi yang relatif cepat dibandingkan dengan organisme lainnya. Beberapa indikator yang dapat mengarah pada kesimpulan bahwa evolusi invertebrata berlangsung lebih cepat adalah Tingkat reproduksi yang tinggi. Invertebrata seringkali memiliki tingkat reproduksi yang tinggi dan siklus hidup yang singkat. Hal ini dapat mempercepat laju evolusi karena lebih banyak generasi terbentuk dalam waktu yang lebih singkat, memberikan lebih banyak peluang bagi perubahan genetik dan evolusi.

      Keanekaragaman spesies: Invertebrata adalah kelompok yang sangat beragam secara spesies. Tingginya keanekaragaman ini dapat mengarah pada laju evolusi yang lebih cepat karena variasi genetik yang lebih besar dalam populasi. Variasi ini memberikan bahan mentah bagi seleksi alam untuk bertindak. Ketahanan terhadap perubahan lingkungan: Invertebrata seringkali memiliki toleransi yang lebih besar terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan organisme lain. Mereka mungkin memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kondisi lingkungan, termasuk perubahan suhu, keasaman, atau ketersediaan sumber daya. Hal ini dapat memungkinkan evolusi yang lebih cepat dalam respons terhadap tekanan seleksi baru. Tingkat mutasi yang tinggi: Tingkat mutasi genetik yang tinggi dalam invertebrata juga dapat mempercepat laju evolusi. Mutasi adalah sumber utama variasi genetik yang diperlukan untuk evolusi, dan jika tingkat mutasi lebih tinggi, maka ada peluang yang lebih besar bagi perubahan genetik yang menguntungkan untuk muncul.

      Dalam mempelajari materi evolusi terdapat beberapa materi yang perlu waktu lebih lama untuk dimengerti karena materi yang sangat abstrak. Materi yang dijelaskan pada pembahsaan kali ini adalah mengenai evolusi hewan. Dalam pembelajaranya, evolusi ini dilakukan secara berkelompok. Dari tiap-tiap kelompok akan mempresentasikan hasil dikusinya melalui presentasi dikelas. Karena kelompok saya mendapatkan materi evolusi hewan, pastinya saya akan jauh lebih mengerti mengenai materi yang dibahas dibanding teman-teman yang lain karena saya harus memahami apa yang akan saya bahas pada presentasi nanti. Menurut saya materi yang cukup mudah dipahami yaitu evolusi hewan, sehingga tulisan kali ini akan membahas mengenai evolusi hewan.
      Dalam mempelajari materi evolusi terdapat beberapa tantangan yang di hadapi selama pembelajaran. Tantangan tersebut yaitu sulitnya mendapatkan sumber bacaan yang sesuai dan jelas. Selain itu, materi evolusi sangat bersifat abstrak dan terkadang terdapat materi yang sulit untuk di mengerti. Dengan keterbatasan sumber bacaan siswa, serta sulitnya mahasiswa untuk memahami materi yang sedang dipelajari, seharusnya setelah pelaksanaan presentasi dan diskusi kelompok terdapat penguatan dari dosen. Hal ini perlu dilakukan agar mahasiswa memiliki pemahaman yang sama dan juga benar.

      Sulitnya mendapatkan sumber bacaan atau referensi serta sulitnya memahami materi dapat ditanggulangi dengan mencari literatur yang sesuai di aplikasi ataupu website lain, sehingga tidak terpaku pada salah satu aplikasi atau website saja. Dengan mencari literatur di beragai media, maka besar kemungkinan juga untuk mendapatkan bahan bacaan yang lebih banyak dan sesuai. Hasil dari membaca literatur, biasanya akan dilakukan diskusi terkait materi evolusi, agar memiliki pemahaman yang sama dan memiliki banyak pandangan dan juga pemahaman yang berbeda-beda.

      Setelah mempelajari materi evolusi hal yang dapat diambil selama pembelajaran yaitu saya dapat mengetahui asal-usul terbentuknya kehidupan. Meskipun, dalam mempelajarinya agak sulit untuk dipahami. Namun, pemahaman terkait evolusi ini sangat diperlukan, agar dapat memahami serta dapat lebih mensyukuri segala hal yang dimiliki dan yang ada saat ini.

    Media

    Group logo of Evolusi
    Evolusi
    Public Group