-
ARNAYANTI posted
Oleh : ARNAYANTI
Semester : 6
Kelas : BEvolusi Fungi
Jamur merupakan salah satu kingdom dari sistem klasifikasi makhluk hidup. Jamur merupakan organisme heterotrof atau menjadi pengurai di lingkungan. Ini berarti memperoleh nutrisi dengan menyerap partikel organik kecil dari lingkungan. Untuk mendapatkan molekul organik kecil tersebut, organisme jamur mengeluarkan enzim hidrolitik ke lingkungan, sehingga pencernaan terjadi di luar saluran pencernaan, dan organisme jamur menyerapnya melalui miselium. Lebih dari 100.000 spesies jamur telah ditemukan, dan ahli mikologi memperkirakan ada 1-1,5 juta spesies di seluruh dunia. Para ahli membagi divisi menjadi beberapa bagian berbeda berdasarkan karakteristik yang berbeda. Penggunaan pembagian tersebut menunjukkan bahwa jamur dikelompokkan dalam Kingdom Plantae pada taksonomi sebelumnya. Jamur memiliki 4 divisi: Chytridiomycota, Zygomycota, Basidiomycota dan Ascomycota.
Tidak seperti tumbuhan dan hewan, sisa-sisa fosil jamur sedikit. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kelangkaan fosil spesies jamur meliputi: sifat tubuh jamur yang lunak dan berdaging, jaringan yang mudah membusuk, dan ukuran mikroskopis sebagian besar struktur jamur. Jamur fosil sulit dibedakan dari mikroba lain dan paling mudah diidentifikasi jika mirip dengan yang sudah ada.
Meskipun fosilnya tersebar, fosil tersebut dapat diidentifikasi sebagai jamur sapotropik besar (mungkin juga Basidiomycota). Fosil ini merupakan fosil prototaxite yang umum ditemukan di seluruh belahan dunia selama Periode Pertengahan hingga Devonian (sekitar 419,2 hingga 358,9 juta tahun yang lalu). Fosil jamur tidak jarang, dan untuk fosil ini periode Devonian diterima oleh para sarjana. Fosil jamur dari periode ini telah banyak ditemukan di Rhynnie Red Tile dekat desa Rhynnie, Aberdeenshire, Skotlandia. Sebagian besar fosil jamur ini adalah fosil Zygomycota dan Chytridiomycota. Pada saat yang sama, sekitar 400 juta tahun yang lalu, Ascomycota dan Basidiomycota menghilang, dan semua jamur modern muncul di akhir Zaman Karbon (Pennsylvania, sekitar 318,1 – 299 juta tahun yang lalu).
Karena kurangnya fosil, karakter biokimia telah menjadi penanda dalam peta hubungan evolusi jamur. Kelompok jamur dapat dikaitkan dengan komposisi dinding sel, pengaturan enzim triptofan dan sintesis lisin. Analisis filogenetik pada 1990-an memberikan kontribusi yang signifikan untuk memahami asal dan evolusi jamur. Pertama, analisis ini menciptakan pohon evolusi jamur dengan membandingkan urutan gen tunggal, biasanya gen ribosomal RNA (rRNA). Belakangan, data dari berbagai gen penyandi protein membantu memperbaiki kesalahan tersebut, dan pohon filogenetik jamur sekarang dibangun dengan data yang berbeda ini.
Hasil penelitian para ahli jamur mencoba mengungkap hubungan jamur dengan organisme lain serta keterkaitan antara anggota kerajaan jamur didasarkan pada hasil penelitian morfologi reproduksi dan ada tidaknya flagela serta diperkuat dengan penelitian . Pembentukan dinding sel dari lisin dan polisakarida, kerajaan jamur yang terdiri dari 4 filum monofiletik, menunjukkan bahwa filum jamur ke-4 muncul dari nenek moyang yang sama dan berbeda dari organisme lain seperti acrasiomycota aspaltik, myxomycota atau Dictyosteliomycota.
Sampai saat ini, sebagian besar ahli sistematika telah menekankan ketiadaan sel phalangeal sebagai norma bagi anggota kingdom Fungi. Dengan indikasi tersebut, chytrid dikeluarkan dari kingdom Fungi dan dimasukkan ke dalam protista (dalam sistem lima kingdom), karena chytrid individu membentuk spora berflagel yang disebut zoospora. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, ahli sistematika molekuler yang membandingkan urutan protein dan urutan asam nukleat pada chytrid dan jamur telah menemukan bukti kuat untuk chytrid dengan jamur sebagai salah satu cabang monofiletik dari pohon eukariotik. ditemukan di chytrid adalah cara untuk menyerap nutrisi dan dinding sel terbuat dari kitin. Kebanyakan chytrid membentuk hifa senoselular, meskipun beberapa uniseluler. Chytridia memiliki beberapa enzim dan jalur metabolisme yang ditemukan pada jamur, tetapi pada beberapa protista, mereka disebut jamur (lendir). Bukti yang tersedia telah menyebabkan banyak ahli biologi menempatkan chytrid di bagian Chitridiomykota dari kingdom Fungi.
Bukti molekuler juga mendukung hipotesis bahwa chytrid adalah jamur primitif. Ini berarti bahwa chytrid termasuk dalam garis keturunan percabangan tertua dalam filogeni jamur. Perpanjangan yang masuk akal dari hipotesis ini adalah bahwa jamur berevolusi dari protista yang memiliki flagela, ciri kerajaan jamur yang hanya dipertahankan oleh chytrid. Pada reproduksi seksual dan aseksual terdapat fase-fase perkembangan yang menunjukkan fase flagel (fase gamet pada reproduksi seksual dan zoospora pada fase aseksual).
Terlepas dari perdebatan yang menarik ini, sebagian besar ahli sistematika sekarang setuju bahwa kerajaan hewan adalah monofiletik, yang berarti bahwa jika kita dapat melacak semua garis keturunan hewan kembali ke asalnya, hewan tersebut akan terkait dengan nenek moyang yang sama. Nenek moyang mungkin membentuk koloni protista bertanda yang hidup lebih dari 700 juta tahun yang lalu selama Periode Perairan Prakambrium. Protista ini mungkin terkait dengan choanophalgelata, kelompok yang muncul sekitar satu miliar tahun yang lalu. Hal yang sama terbukti di Kingdom Jamur. Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa jamur itu monofiletik. Salah satu jamur nenek moyang yang paling terkenal masih diwakili oleh kelompok jamur yang masih memiliki hubungan yang cukup erat dengan nenek moyangnya, yaitu kelompok Chirididiomycota yang menurut para ahli merupakan keluarga jamur tertua.
Hasil studi sistematis menunjukkan bahwa jamur utama adalah organisme flagelata yang hidup di air. Ini mirip dengan apa yang diyakini para ahli tentang sekelompok hewan. Tampaknya jamur dan hewan diturunkan dari nenek moyang yang sama. Hal ini juga diperkuat dengan studi perbandingan rDNA, faktor pemanjangan dan protein sitoskeletal, yang menunjukkan bahwa jamur lebih dekat kekerabatannya dengan kelompok hewan dibandingkan dengan kelompok tumbuhan. Namun masalah ini masih dibahas oleh para ahli.
Alasan saya memilih materi evolusi fungi yaitu karena jamur merupakan organisme yang memiliki ukuran yang kecil dan memiliki fosil – fosil yang jumlahnya sedikit sehingga sangat perlu untuk dipelajari agar dapat membantu pemahaman mengenai asal usul jamur dan evolusi jamur. Materi jamur menjadi menarik karena evolusinya berkaitan dengan tumbuhan dan juga hewan seperti yang telah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya. Namun, jamur lebih berkaitan dengan hewan daripada tumbuhan. Bukti yang mendukung adanya kaitan yang sangat erat antara jamur dan hewan yaitu analisis protein, urutan jalur biosintesis, sistem sitokrom, materi genetik mitokondria, fitur biokimia, dan struktural seluler. Tantangan atau kendala dalam memilih materi evolusi fungi yaitu yaitu mengenai jumlah fosilnya yang sangat sedikit dan untuk mendapatkan fosil dengan kualitas baik dan jelas sangat sulit karena jamur memiliki struktur tubuh yang mudah hancur sehingga tidak dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, terdapat jamur mikroskopik, yaitu jamur yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop sehingga untuk mengetahui perkembangan evolusi dari tahun ke tahun sangat sulit untuk dilakukan. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut mengenai yaitu dalam mengkaji evolusi mengenai jamur maka dapat dilihat dengan menggunakan karakteristik biokimia yang dapat menjadi penanda peta hubungan evolusi jamur.
Jika saya menjadi seorang guru dan tutor maka saya akan menggunakan modul sebagai bahan ajar atau media pembelajaran untuk mempelajari evolusi. Modul dapat diartikan sebagai perangkat pembelajaran dan bahan ajar bagi siswa yang disusun secara sistematis dan tepat untuk meningkatkan pemahaman dan minat siswa dalam belajar. Metode seperti bahan ajar merupakan ciri dari prinsip belajar mandiri dimana siswa dituntut untuk berpartisipasi penuh dalam pembelajarannya agar maju tanpa diadakan di depan guru, siswa dan pertemuan kelas tatap muka. Hal ini diimbangi dengan kurikulum 2013 yang mengharuskan siswa mengambil peran lebih besar dalam pembelajaran. Hasil penelitian pembelajaran mengantisipasi kebutuhan dan tantangan yang berbeda, sejalan dengan abad ke-21 yang ditandai dengan tingkat informasi, komputer, otomatisasi, dan komunikasi yang sangat cepat. Dalam menggunakan modul sebagai bahan bahan ajar saya akan menggunakan model pembelajaran Think, Talk, Write. Model ini adalah adalah model pembelajaran kolaboratif yang didasarkan pada keterampilan berpikir, berbicara, dan menulis. Pembelajaran ini diawali dengan berpikir melalui materi yang dibaca (menyimak, mengkritik dan alternatif), kemudian membagikan hasil bacaan dengan presentasi dalam diskusi, dan kemudian melaporkan hasil presentasi. Model ini dapat meningkatkan dan meningkatkan kreativitas siswa untuk berpikir kritis, berkreasi, dan komunikasi aktif melalui diskusi kelompok dan presentasi. Pengembangan modul menitikberatkan pada peran modul dalam bahan ajar dan alat bantu yang memungkinkan terbentuknya kemandirian siswa.
Jika saya menjadi seorang peneliti maka saya akan menggunakan pendekatan Pendekatan analisis Isi (Content analisys) yang berarti suatu model yang dipakai untuk meneliti dokumentasi data yang berupa teks, gambar, simbol, dan sebagainya. Content analysis secara umum juga dapat diartikan sebagai metode yang meliputi semua analisis mengenai isi teks, tetapi di sisi lain analisis isi juga digunakan untuk mendeskripsikan pendekatan analisis khusus,3 yang dalam hal ini adalah Evolusi fungi. Selain itu dapat juga menggunakan pendekatan dengan metode menemukan mengumpulkan data atau benda-benda etnografi pada berbagai suku bangsa di dunia, untuk mengetahui persamaan tingkat evolusi. Selain dari hasil pengumpulan yang dilakukan oleh ahli antropologi, bahan etnografi diperoleh dari para misionaris, para penjelajah. Pada perkembangan selanjutnya, penelitian evolusi menggunakan metode penelitian lapangan terhadap unsur-unsur masyarakat dengan tinggal menetap pada masyarakatnya.
Jika saya menjadi seorang tenaga ahli maka saya akan menggunakan pendekatan dengan mengkaji fosil – fosil jamur makroskopik yang masih ada untuk mengetahui bagaimana perkembangan jamur dalam segi morfologi tubuhnya dari tahun ke tahun. Pendekatan yang kedua yaitu dengan mengkaji anatomi dan embriologi jamur untuk mengetahui susunan dasar tubuh dari jamur dan tahap perkembangan embrio. Pendekatan selanjutnya yaitu mengkaji penyebaran geografik atau distribusi makhluk hidup hingga ke tempat awal kemunculannya karena dapat menjadi salah satu petunjuk evolusi. Pendekatan keempat yaitu mengkaji biologi molekuler. Salah satu yang menjadi petunjuk adanya evolusi termasuk pada jamur yaitu adanya variasi dalam spesies. Variasi dalam spesies ini dikaji dalam biologi molekuler karena hal ini memberikan bukti yang paling detail dan meyakinkan tentang evolusi yang didapatkan dari DNA. DNA menyimpan materiinformasi lengkap dan petunjuk evolusi.
Jika saya menjadi seorang kurator maka saya akan bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara berbagai fosil – fosil yang menjadi petunjuk evolusi berbagai makhluk hidup serta melakukan pencatatan dan pendokumentasian terhadap fosil – fosil yang masih ada. Selain itu, saya juga akan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai fosil – fosil makhluk hidup bahwa fosil – fosil tersebut merupakan bukti yang snagat penting sehingga untuk tetap menjaga , memelihara, dan merawat.
Saran dan solusi untuk memudahkan pemahaman tentang ilmu evolusi yaitu sebagai berikut.
1. Dalam mengkaji ilmu evolusi harus melengkapi sarana pembelajaran karena hal tersebut merupakan hal yang paling menunjang keberhasilan dan tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Di zaman modern seperti ini tentu sarana pembelajaran menjadi lebih modern dan lebih mempermudah pendidik maupun peserta didik dalam mempelajari berbagai macam materi termasuk evolusi. Sarana pembelajaran dapat menggunakan teknologi digital untuk menampilkan materi pembelajaran seperti melalui video, animasi, gambar yang memperlihatkan proses visual dari suatu pembelajaran. Sehingga siswa dapat memahami konsep pembelajaran dengan sangat baik.
2. Dalam mengkaji ilmu evolusi, harus menggunakan berbagai referensi agar materi yang didapatkan mengenai ilmu evolusi cukup luas dan tidak hanya mengacu pada 1 referensi saja. Referensi tersebut dapat berupa buku, jurnal penelitian, dan artikel – artikel yang jelas identitasnya. Namun, referensi yang dipilih harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta didik. Agar peserta didik dapat mudah untuk memahami dan harus dilengkapi dengan contoh – contoh yang konkret.
3. Dalam mengkaji ilmu evolusi, dapat dilakukan dengan mengadakan kunjungan ke museum – museum. Di museum terdapat pameran evolusi yang menampilkan berbagai macam fosil makhluk hidup, replika hewan purba, dan informasi tentang perubahan kehidupan selama sejarah bumi. Sehingga peserta didik maupun masyarakat dapat melihat secara langsung berbagai macam bukti evolusi dari tahun ke tahun.
4. Dalam mengkaji ilmu evolusi, dapat dilakukan dengan melakukan diskusi bersama. Dengan membahas konsep – konsep evolusi makhluk hidup, fosil – fosil makhluk hidup, dan bukti – bukti evolusi lainnya.
5. Mengkaji ilmu evolusi juga dapat dilakukan dengan bantuan tutor atau ahli evolusi untuk memberikan pemahaman evolusi dengan sangat jelas dan rinci sehingga pengetahuan mengenai evolusi itu sendiri mudah dipahami dan terjamin kebenarannya.
Kesimpulan dan value kehidupan yang dapat dipetik setelah mempelajari materi evolusi fungi (jamur) yaitu mengungkapkan betapa luar biasanya perubahan evolusi yang terjadi dari zaman ke zaman. Materi ini juga mengungkapkan bahwa setiap organisme memiliki nenek moyang dan saling berkaitan dalam jaringan kehidupan. Evolusi fungi mengungkapkan keajaiban dan kompleksitas alam semesta yang berlangsung selama jutaan tahun. Hal ini menunjukkan bahwa keteraturan dan prinsip – prinsip yang teratur di alam dan mengajarkan kita untuk menghargai keindahan alam, mengamati, dan memahami proses alamiah yang menghasilkan kehidupan yang luar biasa seperti fungi dan mendorong rasa ingin tahu dan pengembangan pengetahuan. Fungi mengalami perubahan evolusi yang cukup signifikan karena merupakan evolusi dari hewan. Dari hal tersebut mengajarkan bahwa kuasa tuhan sangat luar biasa dan harus selalu bersyukur atas apapun yang sudah ada di muka bumi ini. Fungi sebagai makhluk hidup meskipun telah melakukan perubahan dari zaman ke zaman tetap memiliki keterbatasan dalam beberapa hal. Namun, manusia tentu memahami proses evolusi yang terjadi pada fungi maupun makhluk lainnya. Hal ini mengajarkan bahwa pentingnya untuk tidak sombong dan rendah hati dalam mengahadapi keterbatasan kita sendiri sambil terus mendorong kemajuan dan pengetahuan.
Media
Photos
Videos
Audios
Files
Sorry, no items found.
Evolusi
Public Group