Profile Photo

Jahro Aprilia PutriOffline

    • Profile picture of Jahro Aprilia Putri

      Jahro Aprilia Putri

      2 years, 6 months ago

      Nama : Novita Anggraeni
      NIM : 2224220030
      Kelas : 3C
      Jurnal 1:
      a. Identitas jurnal
      Nama jurnal Jurnal Pengendalian Pencemaran Lingkungan (JPPL)
      Judul artikel Dampak Pencemaran Mikroplastik di Ekosistem Laut
      terhadap Zooplankton : Review
      Volume, Nomor dan Halaman Vol 2, No 1, 29-36
      Tahun 2020
      Penulis Mardiyana dan Ari Kristiningsih
      b. Hasil Telaah
      Pencemaran yang bersumber dari mikroplastik merupakan salah satu
      permasalahan global yang saat ini sedang menjadi sorotan bagi para pemerhati
      lingkungan. Ukuran mikroplastik yang kecil dan cenderung mengapung di kolam air
      memungkinkannya untuk masuk dengan mudah pada organisme laut dan salah
      satunya adalah zooplankton. Dampak mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh
      zooplankton menyebabkan dampak negatif bagi ekologi dan zooplankton itu sendiri.
      Metodologi yang digunakan untuk mengetahui dampak mikroplastik di
      ekosistem laut yaitu dengan mencari literatur yang komprehensif mengenai
      mikroplastik yang ada di zooplankton dengan bantuan mesin pencari komersil yakni
      setac.onlinelibrary.wiley.com/,pubs.acs., org/ojs.unud.ac.id/, link.springer.com/,
      sciencedirect.com.
      Berdasarkan hasil review dari literatur yang digunakan, mikroplastik telah
      terdeteksi di semua samudera dunia dan juga di ekosistem air tawar, terakumulasi
      dalam sedimen, di garis pantai, tersuspensi di kolam air dan dicerna oleh plankton,
      ikan, burung, maupun mamalia laut. Mikroplastik yang berada di perairan dapat
      mengalami degradasi dan perubahan komposisi karena cahaya matahari, radiasi panas,
      oksidasi, dan pertumbuhan biofilm sinar matahari. Proses degradasi ini menyebabkan
      perubahan bentuk ukuran menjadi lebih kecil (size reduction), terjadi perubahan
      densitas dan warna, perubahan morfologi permukaan, dan perubahan kristalinitas.
      Mikroplastik masuk ke zooplankton secara tidak sengaja karena sifat dari zooplankton
      dalam mencari makan yaitu dengan menyaring (filter feeding) lalu akan keluar
      melalui fesesnya dan proses masuknya berlangsung dalam hitungan jam. Dampak
      mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh zooplankton menyebabkan kinerja fisiologi
      berkurang, fesesnya mengandung mikroplastik dan memungkinkan terjadinya transfer
      kontaminan ke predator. Mikroplastik yang termakan oleh zooplankton tidak hanya
      memberikan dampak pada zooplankton itu sendiri, tetapi juga terhadap ekosistem laut.
      Hal ini dikarenakan zooplankton memiliki peran penting dalam ekologi sebagai
      makanan utama bagi biota-biota karnivora kecil seperti larva udang, larva bivalvia,
      dan ikan-ikan kecil. Zooplankton (planktonic organisms) yang memakan mikroplastik
      dapat termakan oleh udang yang merupakan organisme dari satu tingkat trofik yang
      lebih tinggi sehingga dampaknya akan terjadi transfer mikroplastik (trophic transfer)
      dalam rantai makanan dan memungkinkan terjadinya akumulasi dalam jaring
      makanan.

      Jurnal 2 :
      a. Identitas jurnal
      Nama jurnal ALBACORE
      Judul artikel Dampak Penangkapan Terhadap Ekosistem: Landasan
      Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan
      Volume, Nomor dan Halaman Volume 4, No 1, Hal 109-118
      Tahun 2020
      Penulis Am Azbas Taurusman, Budy Wiryawan, Besweni, dan
      Isdahartati
      b. Hasil Telaah
      Kegiatan penangkapan berdampak langsung dan tidak langsung terhadap
      ekosistem secara dinamis (spasial dan temporal). Penangkapan berpengaruh pada
      semua tingkatan organisasi biologi dari individu hingga populasi, karakteristik
      demografi dan genetik juga komunitas serta ekosistem, termasuk struktur trofik dan
      aliran energi. Ekosistem merupakan unit organisasi biologi dimana terjadi hubungan
      fungsional antara komponen-komponen biotik dan lingkungan abiotiknya pada suatu
      area tertentu (ecological boundary).
      Metodologi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode analisis dan
      review terhadap referensi dan penelitian terkini terkait konsep dampak penangkapan
      ikan terhadap ekosistem dan pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem
      (EAFM).
      Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat dikatakan bahwa kegiatan
      penangkapan ikan akan mempengaruhi ketersediaan dan keberlanjutan ikan yang
      menjadi target tangkapan, juga sumberdaya ikan lainnya yang bukan menjadi target
      tangkapan, serta berdampak terhadap habitat dan lingkungan perairan. Akibat
      eksploitasi ikan target tangkapan, maka akan terjadi kematian akibat penangkapan
      (fishing mortality), yang berdampak luas terhadap populasi ikan target, seperti
      penurunan jumlah spesies, kelimpahan individu, serta keragaman jenis. Sebagian besar
      kegiatan penangkapan bersifat tidak cukup selektif hanya untuk mengeksploitasi ikan
      target. Sehingga tertangkap juga jenis-jenis ikan atau biota lainnya yang bukan target
      atau bukan ukuran yang diinginkan, hal ini dikenal sebagai bycatch (hasil tangkapan
      sampingan). Selain ikan, pada bycatch terdapat biota yang dilindungi seperti penyu,
      lumba-lumba, beberapa jenis hiu dan pari yang dilindungi, bahkan burung laut.
      Penangkapan ikan dapat merusak habitat sumberdaya ikan karena operasional suatu
      alat tangkap atau penerapan suatu teknik penangkapan. Disamping itu kegiatan
      penangkapan ikan juga berpotensi mencemari lingkungan seperti besarnya bycatch
      yang dibuang ke dasar perairan (offal), alat tangkap yang dibuangatau hilang, limbah
      dari pengolahan ikan di atas kapal, serta limbah lainnya dari kapal ikan yang
      beroperasi di laut. Alat tangkap yang dibuang atau hilang saat operasi penangkapan di
      samping mencemari perairan, juga masih dapat menangkap ikan atau biota lainnya
      dikenal sebagai ‘ghost fishing’. Akibat dari penangkapan ikan target, non target, dan
      kerusakan lingkungan perairan berpengaruh terhadap degradasi struktur dan fungsi
      ekosistem.

      Jurnal 3 :
      a. Identitas jurnal
      Nama jurnal Jurnal Geografi
      Judul artikel Padang Lamun Sebagai Ekosistem Penunjang Kehidupan
      Biota Laut Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Indonesia
      Volume, Nomor dan Halaman Volume 20, No 1, Hal 44-53
      Tahun 2020
      Penulis Muzani Jalaluddin, Ika Nur Octaviyani, Aufeeazzahra
      Nurani Praninda Putri, Winny Octaviyani, dan Iqbal
      Aldiansyah
      b. Hasil Telaah
      Salah satu sumber daya laut yang diakui dan memiliki peranan yang begitu
      penting bagi kehidupan laut beserta biota lautnya selain terumbu karang dan
      mangrove yaitu padang lamun. Padang lamun merupakan sumberdaya laut yang
      penting baik secara ekologis maupun secara ekonomis. Fungsi ekologis padang lamun
      diantaranya adalah sebagai daerah asuhan, daerah pemijahan, daerah mencari makan,
      dan daerah untuk mencari perlindungan berbagai jenis biota laut seperti ikan,
      krustasea, moluska, echinodermata, dan sebagainya.
      Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif
      analitik untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti
      melalui data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa melakukan
      analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.
      Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, Padang Lamun yang terdapat di
      hamparan pesisir Pulau Pramuka khususnya di bagian timur memiliki banyak manfaat
      yaitu sebagai produsen primer habitat biota laut, stabilitator dasar perairan, penangkap
      sedimen, dan pendaur hara yang dapat menciptakan air dengan kualitas yang jernih di
      sekitar perairan tersebut. Terdapat berbagai jenis fauna yang berassosiasi di sekitar
      ekosistem padang lamun Pulau Pramuka bagian timur, biota – biota yang terdapat
      ditempat tersebut senantiasa hidup, berkembang biak, dan mencari makan bahkan
      bergantung dengan tanaman lamun tersebut. Peranan lamun yang begitu besar
      menjadikannya sebagai salah satu dari komponen rantai makanan di lautan. Sistem
      rantai makanan merupakan siklus, semua kehidupan hewan bergantung pada
      kemampuan tumbuh-tumbuhan hijau yang memiliki klorofil untuk berfotosintesis dan
      fungsi dari rantai makanan adalah untuk menjaga jumlah makhluk hidup di dalamnya
      agar tetap seimbang. Sumber energi utama pada ekosistem padang lamun adalah
      cahaya matahari. Cahaya tersebut digunakan oleh lamun dan fitoplankton sebagai
      produsen untuk berfotosintesis. Rantai makanan di ekosistem padang lamun Pulau
      Pramuka dibagi menjadi 2, yaitu Rantai makanan rerumputan dimana sumber
      nutriennya secara langsung adalah tumbuhan lamun itu sendiri yang daunnya dimakan
      oleh konsumen tingkat pertama, yaitu dugong, penyu, ikan baronang dan bulu babi.
      Kemudian konsumen tingkat pertama ini dimakan oleh para predator, kecuali bulu
      babi, dan bulu babi akan dimakan oleh ikan buntal sebagai konsumen tingkat dua.
      Lalu yang kedua adalah Rantai makanan detritus, pada rantai makanan detritus ini,
      guguran daun dari lamun yang telah dimakan oleh konsumen tingkat satu (epifit)
      sebagai nutrien yang diurai oleh bakteri, kemudian akan dimakan oleh cacing, udang,
      dan kepiting sebagai konsumen pertama dan hewan-hewan tersebut dimakan oleh ikan
      sedang sebagai konsumen tingkat dua. Konsumen tingkat dua pun dimakan oleh ikan besar, ikan hiu dan burung laut sebagai predator yang menduduki tingkatan trofik
      paling tinggi memakan konsumen tingkat dua dan ikan besar sebagai konsumen
      tingkat tiga. Saat predator tersebut mati, maka bangkainya akan diurai oleh bakteri
      sebagai detrivitor yang menguraikan materi dan bangkai predator tersebut, agar
      detrivitor itu dikonsumsi kembali oleh konsumen pertama dan begitulah seterusnya.
      – Kesimpulan
      Berdasarkan hasil analisis ketiga jurnal tentang jaring-jaring makanan di
      ekosistem akuatik, dapat disimpulkan bahwa adanya mikroplastik hasil aktivitas
      manusia, ikan-ikan pelagis kecil, plankton, dan sebagainya merupakan komponen
      terpenting dalam menjaga rantai makanan yang ada di lautan, jika komponen-
      komponen rantai makanan tidak terganggu, maka akan memiliki dampak positif
      terhadap ekosistem perairan.
      – Daftar Pustaka
      Jalaluddin, M., Octaviyani, I. N., Putri, A. N., Octaviyani, W., & Aldiansyah, I. (2020).
      Padang Lamun Sebagai Ekosistem Penunjang Kehidupan Biota Laut di Pulau
      Pramuka, Kepulauan Seribu, Indonesia. Jurnal Geografi, 20(1), 44-53.
      Mardiyana, & Kritiningsih, A. (2020). Dampak Pencemaran Mikroplastik di Ekosistem Laut
      terhadap Zooplankton : Review. Jurnal Pengendalian Pencemaran Lingkungan
      (JPPL), 2(1), 29-36.
      Taurusman, A. A., Wiryawan, B., Besweni, & Isdahartati. (2020). Dampak Penangkapan
      Terhadap Ekosistem: Landasan Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan. ALBACORE,
      4(1), 109-118.

    Media