-
Riza Indriyani posted
Nama : Riza Indriyani
NIM : 2224200031
Mahasiswi semester 6 kelas AEVOLUSI HEWAN
Evolusi merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari perubahan struktur tubuh atau fisik makhluk hidup dari waktu ke waktu. Seluruh makhluk hidup mengalami evolusi yaitu evolusi manusia, hewan, tumbuhan dan mikroorganisme. Pada pembahasan kali ini, saya akan membahas mengenai evolusi hewan vertebrata (darat dan laut) dan invertebrata (darat dan laut) serta terdapat beberapa contoh dari evolusi hewan. Hewan diklasfikasikan menjadi 2 kategori yaitu hewan vertebrata dan invertebrara. Hewan vertebrata adalah kelompok hewan yang memiliki kerangka berupa tulang belakang atau tulang punggung (vertebrae), contohnya gajah, jerapah, kambing, ular dan burung. Hewan invertebrata merupakan hewan yang tidak memiliki tulang belakang atau tulang punggung (vertebrae), contohnya cacing, ubur-ubur, keong, lintah dan kerang. Hewan-hewan tersebut mengalami evolusi hingga memiliki bentuk tubuh seperti saat ini.
Hewan vertebrata termasuk dalam filum Chordata, yang juga mencakup hewan-hewan lain seperti invertebrata seperti ubur-ubur, cacing, dan lainnya. Asal usul hewan vertebrata dapat ditelusuri ke zaman prakambrium, sekitar 530 juta tahun yang lalu. Evolusi vertebrata dimulai dengan munculnya organisme laut awal yang memiliki beberapa ciri khas yang menjadi ciri khas hewan vertebrata modern. Fosil tertua yang diketahui dari hewan vertebrata adalah Conodonts, yang hidup sekitar 530 juta tahun yang lalu. Conodonts adalah organisme kecil dengan gigi-gigi kecil yang digunakan untuk makan. Kemudian, pada periode selanjutnya muncul kelompok hewan laut primitif yang dikenal sebagai ikan bertulang rawan. Ikan-ikan ini memiliki tulang rawan sebagai kerangka internal mereka. Fosil ikan bertulang rawan tertua yang diketahui berasal dari sekitar 450 juta tahun yang lalu. Selanjutnya, pada periode Devonian sekitar 360 juta tahun yang lalu, munculah ikan bertulang sejati atau ikan bertulang keras yang memiliki kerangka internal yang terbuat dari tulang. Ikan bertulang keras merupakan nenek moyang dari semua vertebrata darat, termasuk amfibi, reptil, burung, dan mamalia. Pada tahap selanjutnya, vertebrata darat berevolusi menjadi beragam kelompok hewan, termasuk amfibi yang merupakan kelompok pertama yang berhasil menaklukkan daratan, diikuti oleh reptil, burung, dan mamalia Jadi, asal usul hewan vertebrata dapat ditelusuri kembali ke zaman Prakambrium, dengan evolusi dari organisme laut awal menjadi ikan bertulang rawan, kemudian menjadi ikan bertulang sejati, dan akhirnya berkembang menjadi berbagai kelompok hewan vertebrata yang ada saat ini.
Terdapat contoh evolusi hewan vertebrata darat dan laut yaitu evolusi amfibi, jerapah dan paus. Amphibi berkembang sebagai vertebrata terestrial pertama yang pertama kali berevolusi pada periode Devonian (408-360 juga tahun yang lalu. Pada periode ini, arthropoda terestrial berkembang cukup pesat. Sarcopterygii yang merupakan leluhur dari semua vertebrata berkaki empat (tetrapoda) mulai beradaptasi untuk berjalan di darat, sirip pektoral dan pelvis yang kuat secara bertahap berubah menjadi tungkai. Evolusi tetrapoda dimulai dari tetrapodomorph yang hidup di lingkungan air dangkal. Salah satu tetrapoda paling awal adalah Acanthostega yang dilengkapi dengan kaki fungsional dan paru-paru serta insang. Acanthostega uncul pada akhir periode Devonian dan terkenal memiliki anatomi peralihan antara karakter ikan bersirip lobus dan tetrapoda yang sepenuhnya mampu hidup di darat. Evolusi jerapah terjadi karena adanya fenomena alam yaitu adaptif dan selektif. Evolusi paus, paus pertama muncul 50 juta tahun yang lalu, jauh setelah kepunahan dinosaurus, tetapi jauh sebelum kemunculan manusia pertama. Nenek moyang mereka kemungkinan besar adalah artiodactyl kuno, yaitu mamalia darat berkaki empat, yang memiliki kemampuan untuk berlari. Nenek moyang paus saat ini diyakini sebagai Pakicetus. Itu adalah hewan berkaki empat berukuran panjang 1 hingga 2 meter. Kerangka yang ditemukan di Pakistan menunjukkan bahwa hewan itu memiliki pergelangan kaki yang khas dan tengkorak cetacea yang khas pula. Selama ribuan tahun, tulang panggul paus terlepas dari tulang belakangnya agar mereka bisa berenang dengan lebih efisien. Penemuan fosil-fosil tentang paus masih terus dilakukan untuk mengonfirmasi bagaimana transisi mereka dari hewan berkaki empat menjadi mamalia raksasa di muka bumi.
Selain hewan vertebrata, hewan invertebrata juga mengalami evolusi. Munculnya hewan multisel terjadi dalam peristiwa yang dikenal sebagai ledakan Kambrium. Asal muasal kehidupan multisel dari sekelompok organisme kolonial didasarkan pada asumsi tentang bagaimana embrio berkembang dan kesamaan di dalam struktur molekulnya Menurut evolusionis, karena organisme ini terus berkembang, mereka menginvasi daratan. Persaingan sumber daya, baik di laut maupun di darat, menyebabkan berbagai macam bagian tubuh berkembang. Organisme bersel tunggal (dibahas sebelumnya) konon mulai membentuk koloni. Koloni menawarkan organisme ini keuntungan yang tidak diketahui. jadi seleksi alam menyebabkan semakin banyak koloni. Seiring berjalannya waktu, organisme kolonial ini mulai mengembangkan sel-sel khusus dan kemudian membentuk bola dengan lekukan yang dapat menelan sesuatu dan memanfaatkan sumber makanan baru. Memanfaatkan sumber makanan baru ini mengarah pada lebih banyak kemajuan, dan akhirnya ada ribuan bentuk kehidupan invertebrata yang terbentuk berenang di laut purba. Evolusi invertebrata dimulai dari nenek moyang berupa protista yang hidup di laut. Pada saat itu evolusi biologis berlangsung semakin cepat dibandingkan dengan evolusi biologis pertamakali. Protista bercabang tiga, dimulai dari filum Porifera, Cnidaria dan Platyhelminthes. Plathyhelminthes bercabang tiga, cabang pertama bercabang tiga lagi menjadi filum Mollusca, Annelida dan Arthropoda. Cabang kedua menjadi filum Ematoda. Sedangkan cabang ketiga menjadi dua filum yaitu Echinodermata dan filum Chordata. Dari evolusi invertebrata dapat diketahui bahwa evolusi invertebrata berasal dari nenek moyang berupa Echinodermata. Echinodermata akan berkembang menjadi Echinodermata modern yang ada sekarang ini, misalnya bintang laut, bulu babi, hemichordata, chordata primitif seperti tunicata dan lanceleolatus.
Terdapat contoh evolusi dari hewan invertebrata darat dan laut yaitu evolusi ngengat biston betularia dan evolusi bintang laut serta udang. Pada evolusi bintang laut terdapat C. hystera dan C. pentagona merupakan fauna yang secara kekerabatan dekat namun punya karakteristik yang berbeda jauh. Secara habitat misalnya, C. hystera mendiami wilayah pantai dan kepulauan di ujung selatan dari habitat C. pentagona. Sementara, secara reproduksi, C. pentagona punya pejantan dan betina yang masing-masing akan menghasilkan sperma dan sel telur, lalu melakukan pembuahan eksternal. Sementara, C. hystera adalah individu hermaprodit dimana individu baru akan dihasilkan lewat kelahiran. Dalam riset, para peneliti melihat keragaman DNA dari kedua spesies bintang laut itu dan memperkirakan lamanya proses spesiasi. Hasilnya, peneliti menemukan bahwa terpisahnya C. hystera dan C. pentagona yang memacu pembentukan kedua spesies berlangsung 6000 – 22.000 tahun yang lalu. Kedua spesies terisolasi dan mengalami perubahan DNA secara cepat. Diperkirakan, 11.000 tahun lalu, batasan antara laut dingin dan hangat di Coral Sea berfluktuasi. Populasi moyang bintang laut, mungkin juga hanya satu individu, mungkin mengkolonisasi wilayah selatan kemudian akhirnya justru terisolasi oleh perubahan arus laut.
Studi yang dipimpin oleh ilmuwan kelautan Juliet Wong, Jorge L. Perez-Moreno dan Heather Bracken-Grissom di Departemen Ilmu Biologi FIU, adalah studi paling komprehensif tentang hubungan evolusi antara udang laut dalam hingga saat ini. Spesimen dikumpulkan dari Teluk Meksiko, Samudera Atlantik Utara, Spanyol, Vietnam, Filipina dan Taiwan dan terdiri dari 30 spesies udang laut dalam. Bioluminescence merupakan cahaya yang dihasilkan oleh makhluk hidup yang digunakan untuk bertahan hidup, khususnya di laut dalam di mana cahaya terbatas. Bioluminesensi di laut dalam sangat kurang dipelajari karena kesulitan yang terkait dengan melakukan penelitian di kedalaman yang luar biasa dan tantangan yang terkait dengan mengumpulkan spesimen tanpa merusaknya saat dibawa ke permukaan. Udang laut dalam menunjukkan bioluminesensi dengan cara sekresi biru dari mulut yang digunakan untuk pertahanan predator dan organ yang memancarkan cahaya di sepanjang tubuh, termasuk mata, tungkai, dan perut. Diyakini organ pemancar cahaya mungkin telah berevolusi pada spesies yang cenderung menghuni perairan dangkal, di mana sinar matahari dari permukaan akan lebih menonjol di dalam air dan di mana cahaya akan memungkinkan mereka untuk menyamarkan diri dari pemangsa. Dengan melihat ciri-ciri pada spesies masa kini dan melacaknya ke nenek moyang yang sama, para peneliti menemukan bioluminesensi sekretori memiliki asal evolusi tunggal dan kemungkinan besar muncul pada nenek moyang yang sama. Ketika RNA mata diurutkan diketahui bahwa terdapat pigmen visual khusus yang tidak ditemukan pada organ lain, pigmen tersebut dimiliki oleh udang yang dapat memancarkan cahaya. Di laut dalam, satu-satunya bentuk cahaya adalah bioluminescence dan sinar matahari redup dari permukaan, paling sering memuncak pada spektrum biru. Oleh karena itu, sebagian besar spesies laut dalam memiliki satu fotopigmen yang peka terhadap cahaya biru-hijau. Mereka menemukan udang laut dalam dengan sekretorik dan bioluminesensi photophore memiliki dua photopigment yang membuat mereka sensitif terhadap cahaya biru-hijau dan ultra-ultraviolet (mendekati-UV).
Evolusi ngengat biston terjadi karena fenomena alam yaitu adaptif san seleksi alam. Sebelum terjadi evolusi industri di inggris, jumlah populasi ngengat cerah lebih banyak daripada ngengat gelap. Sebelum evolusi industri ini lingkungan, pohon dan bunga berwarna cerah sehingga ngengat warna cerah lebih adaptif dengan lingkungannya sehingga tidak terlihat oleh predator atau mangsa. Maka dari itu jumlah ngengat cerah lebih banyak. Namun sebaliknya, ngengat gelap mudah terlihat oleh mangsa sehingga semakin lama jumlahnya semakin berkurang atau terkena seleksi alam. Setelah terjadi evolusi industri, lingkungan, pojon-pohon dan bunga-bunga tertutupi oleh jelaga atau debu berwarna gelap. Sehingga ngengat gelap lebih adaptif dengan lingkungan dibanding ngengat cerah, karena ngengat gelap tidak terlihat oleh mangsa, maka dari itu ngengat gelap tetap hidup, berkembang biak dan jumlahnya semakin banyak. Namun sebaliknya, ngengat cerah mudah terlihat oleh mangsa sehingga lama kelamaan jumlahnya semakin berkurang atau terkena seleksi alam. Selanjutnya yaitu evolusi bintang laut, pada walnya bintang laut berukuran besar hingga saat ini memiliki ukuran yang lebih kecil. Pada evolusi udang ditemukan fosil udang berbentuk ‘koma’ (Eobodotria muisca) yang diperkirakan berusia 90 juta tahun lalu, sebelum akhirnya menjadi udang yang sering ditemukan pada kehidupan masa kini.
Alasan saya memilih materi evolusi hewan yaitu karena setelah mempelajari materi ini saya merasa senang mempelajarinya. Penjelasan dari beberapa sumber yang saya baca mengenai materi ini cukup menarik dan tidak bosan untuk dipelajari. Selain itu dari beberapa sumber juga dicantumkan gambar-gambar yang membuat saya dapat membayangkan dengan mudah perubahan bentuk dari hewan-hewan sebelum mengalami evolusi. Setelah mempelajari materi ini saya dapat mengetahui tantangan dan kendala yang saya alami saat mempelajari materi ini.
Kendala yang saya alami yaitu cukup sulit dalam mencari informasi dalam pembelajaran mengenai evolusi hewan ini. Pada beberapa sumber dapat ditemukan materi ini, namun sumber tersebut kurang akurat dengan kata lain tidak berbentuk artikel. Sumber yang saya temukan lebih banyak berbasis web dan video, informasi mengenai evolusi hewan pada artikel masih kurang. Kemungkinan hal tersebut dapat terjadi karena kurangnya penelitian atau analisis menganai evolusi hewan, sehingga sulit ditemukan penelitian terbaru mengenai evolusi hewan. Dengan kendala tersebut, saya mendapat tantangan untuk lebih tekun mencari informasi atau sumber terkait evolusi hewan. Dengan tantangan dan kendala tersebut juga saya perlu mengupayakan sesuatu untuk mengantisipasi kendala yang saya alami. Upaya yang saya lakukan yaitu dengan mencari artikel di jurnal internasional karena sebelumnya saya hanya mencari artikel pada jurnal dalam negeri saja. Mungkin karena hal tersebut informasi mengenai evolusi hewan yang saya dapatkan masih kurang, sehingga diperlukan literasi yang lebih dalam.
Apabila suatu saat saya menjadi seorang pendidik, tutor, peneliti, tenaga ahli atau kurator, metode dan pendekatan yang akan saya gunakan dalam mengkaji materi evolusi hewan adalah metode diskusi dengan pendekatan kontekstual. Dengan begitu saya dapat menerapkan pembelajaran dengan mengambil, mensimulasikan, menceritakan, berdialog, bertanya jawab (diskusi) yang terjadi pada kehidupan nyata. Dengan metode dan pendekatan tersebut, seseorang dapat mempelajari dahulu beberapa sumber kemudia mendiskusikan dengan teman-teman yang lain untuk mendapatkan informasi tambahan mengenai evolusi hewan. Selain itu dalam pembelajaran tersebut juga harus melibatkan kehidupan dunia nyata dengan evolusi yang terjadi pada hewan tersebut. Peserta didik harus dapat mengaitkan evolusi hewan dengan keadaan lingkungan saat ini.
Dengan kendala yang saya alami dalam mempelajari materi evolusi hewan, saya memiliki saran agar pembelajaran evolusi lebih mudah dipahami. Saran saya yaitu untuk para peneliti evolsui sebaiknya lakukan penelitian evolusi hewan lebih jauh lagi agar pembaca dapat mengetahui informasi terbaru mengenai evolusi hewan. Selain itu saya juga ingin memberi saran kepada pendidik dalam membahas materi ini sebaiknya membuat bahan ajar inovatif dengan isi yang lebih komprehensif. Hal tersebut dapat membantu untuk peningkatan pemahaman peserta didik terhadap materi evolusi hewan dan membuat pembelajaran tidak membosankan. Terdapat saran lain juga agar pembelajaran tidak membosankan yaitu dengan mengunjungi museum-museum terkait evolusi hewan. Pembelajaran di luar kelas akan memberi motivasi kepada peserta didik yang jenuh karena pembelajaran yang hanya dilakukan dalam ruang kelas.
Dengan mempelajari materi evolusi hewan saya dapat mengetahui asal usul hewan vertebrata maupun invertebrata. Dengan segala bentuk perubahan fisik dan kebiasaan hidup, evolusi hewan terjadi dari ke waktu. Setelah mempelajari materi ini, saya memahami suatu value kehidupan yaitu setiap makhluk hidup tidak akan berhenti pada suatu tahapan dan pasti akan mengalami perubahan seiring perkembangan zaman maupun kondisi lingkungan yang memaksa untuk melakukan perubahan. Perubahan tersebut harus terjadi agar setiap makhluk hidup dapat bertahan dan melangsungkan hidupnya.
Media
Photos
Videos
Audios
Files
Sorry, no items found.
Evolusi
Public Group