Analisis Jurnal 1 “Pemanfaatan Data Satelit Oseanografi Untuk Mempresiksi Daerah Penangkapan Ikan Lemuru Berbasi Rantai Makanan dan Pendekatan Statistik Gram” oleh Susilo & Teja (2016).
Dalam famili clupeidae, ikan lemuru adalah jenis ikan pelagis kecil yang memakan zooplankton dan fitoplankton sebagai makanan utamanya. Ini menunjukkan bahwa ikan lemuru adalah konsumen utama rantai makanan. Kopepoda adalah makanan lemuru. Ini menunjukkan bahwa jenis Coscinodiscus sp. banyak ditemukan pada lambung lemuru dan kucing, dan bahwa Peridinium sp. adalah makanan sekundernya di lambung lemuru. Sementara jenis Pleurosigma sp. mendominasi lambung protolan, penangkapan ikan lemuru terutama dipengaruhi oleh ketersediaan sumber makanan utamanya.
Dalam ekosistem pelagis kecil seperti Selat Bali, pola rantai makanan cenderung sangat penting untuk mengatur densitas air laut, yang mendorong pergerakan massa air vertikal yang dapat menyebabkan pengadukan kolom perairan. Selain itu, suhu merupakan komponen fisika yang menghambat perkembangan dan penyebaran organisme. Teknologi penginderaan jauh dapat digunakan untuk mengindera variabel oseanografi tersebut di atas selama perkembangannya. Penelitian ini dilakukan di Aqua/Terra, salah satu satelit yang masih melakukan pengukuran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memprediksi kelimpahan zooplankton, yang merupakan makanan utama ikan lemuru, dengan menggunakan pendekatan statistik GAM berdasarkan variabel oseanografi yang diperoleh dari data satelit oseanografi. Analisis kelimpahan zooplankton dilakukan menggunakan metode Sedwick-Rafter dengan mik.
Kesimpulan : Keberadaan ikan lemuru sebagai konsumen primer dalam rantai makanan dapat dijadikan dasar dalam penyusunan informasi daerah penangkapannya. Sebanyak 7 model kelimpahan zooplankton telah dihasilkan melalui pendekatan statistik GAM berdasarkan parameter oseanografi utama yang mempengaruhi ketersediaan makanan lemuru. Kelimpahan zooplankton dapat diprediksi melalui kombinasi variabel suhu permukaan laut (SST), konsentrasi klorofil-a (SSC) dan Photosynthetically Available Radiation (PAR) sesuai dengan persamaan sqrt(zoo+1) =s(ssc, k=1)+s(sst, k=4)+s(par). Persamaan ini dapat menjelaskan kelimpahan zooplankton sebesar 75,3% dari populasi sampel yang digunakan. Zooplankton cenderung melimpah pada kisaran SST antara 25-26oC, SSC antara 0,5–0,7 mg/m3 , dan PAR antara 40-45 einsten/m2 /day. Variabel SST dan PAR memiliki tingkat signifikansi yang lebih tinggi dari pada variabel SSC. Korelasi hasil prediksi kelimpahan zooplankton dan hasil tangkapan ikan lemuru yang cukup tinggi memungkinkan pendekatan ini dapat digunakan untuk menentukan daerah penangkapan ikan lemuru di Selat Bali.
Sumber :
Susilo, E & Teja, A. W. (2016). Pemanfaatan Data Satelit Oseanografi Untuk Mempresiksi Daerah Penangkapan Ikan Lemuru Berbasi Rantai Makanan dan Pendekatan Statistik Gram, JURNAL KELAUTAN NASIONAL, 11(2), 77-87.
Analisis Jurnal 2 “Struktur Komunitas Zooplankton di Perairan Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat” oleh Junaidi et al., (2018)
Plankton adalah makhluk hidup di perairan yang melayang secara pasif dan tidak dapat melawan arus. Fitoplankton dan zooplankton adalah komponen utama plankton. Sementara zooplankton adalah konsumen tingkat pertama yang langsung memangsa fitoplankton, fitoplankton bersifat autotrof dan berfungsi sebagai produsen utama perairan. Karena berfungsi sebagai mata rantai penghubung produser primer dengan biota yang lebih trofik, zooplankton adalah salah satu biota yang sangat penting.Diukur berdasarkan nilai produksi ekosistem, zooplankton adalah salah satu komponen rantai makanan. Ini disebabkan oleh fakta bahwa zooplankton berfungsi sebagai konsumen tingkat pertama dan kedua, berfungsi sebagai penghubung antara plankton dan nekton.
Keberadaan zooplankton dalam perairan mengontrol produksi fitoplankton, yang berbanding lurus dengan fitoplankton. Karena fitoplankton adalah makanan bagi zooplankton, kelimpahan zooplankton sangat dipengaruhi oleh kandungan fitoplankton yang tinggi. Selain itu, perubahan lingkungan perairan fisik, kimia, dan biologi sangat berpengaruh pada kelimpahan zooplankton. Zooplankton hanya dapat hidup dan berkembang dengan baik dalam kondisi perairan yang sesuai. Jika kondisi perairan dan ketersediaan fitoplankton tidak sesuai dengan kebutuhan zooplankton, zooplankton tidak dapat bertahan hidup dan akan mencari kondisi lingkungan yang sesuai.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi struktur komunitas zooplankton di perairan Kabupaten Lombok Utara, termasuk jenis, populasi, dan indek ekologi zooplankton, serta hubungan antara zooplankton dan kualitas air. Untuk mengumpulkan data, sistem informasi geografis (SIG) digunakan pada 23 stasiun pengamatan yang dipilih dengan teknik acak sederhana. Sampel zooplankton dikumpulkan dengan menyaring air dari lapisan permukaan sebanyak 100 liter menggunakan ember bervolume 10 liter. Untuk menyaring sampel, plankton net berukuran 45 mm digunakan. Air sampel yang telah disaring dimasukkan ke dalam botol sampel dengan volume 100 mililiter, dan dua tetes pengawet lugol digunakan untuk mengawetkannya. Saat analisis dilakukan, satu mililiter diambil dengan pipet dan diamati dengan mikroskop dan Sedgewick Rafter Cell (SRC). Untuk masing-masing sampel, pengamatan diulang tiga kali. Fitoplankton diidentifikasi sampai tingkat genus dengan bantuan buku.
Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis zooplankton dan jumlah yang ditemukan di perairan Kabupaten Lombok Utara cukup bervariasi, dengan 9 genus yang termasuk dalam 5 kelas, dengan 6 genus dalam kelas Crustacea.Struktur komunitas zooplankton termasuk dalam kategori perairan yang kurang stabil, menurut perhitungan indeks ekologi seperti indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominasi. Kondisi lingkungan (fisik-kimia) perairan, termasuk kecerahan, pH, dan konsentrasi oksigen terlarut, memengaruhi kelempahan dan indeks ekologi zooplankton.
Sumber :
Junaidi, M., Nurliah., Fariq, A. (2018). Struktur Komunitas Zooplankton di Perairan Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jurnal Biologi Tropis, 18(2), 159-169.
Analisis Jurnal 3 “Diversitas Perifiton pada Daun Lamun Enhalus acoroides di Perairan Karangsewu, Teluk Gilimanuk, Taman Nasional Bali Barat” oleh Razali et al., (2019)
Ekosistem lamun terletak di daerah laut dangkal dan memiliki keanekaragaman hayati dan produktivitas primer yang tinggi. Karena fungsinya sebagai stabilisator sedimen dan penahan endapan, lamun merupakan salah satu ekosistem penting secara fisik maupun biologis. Selain itu, lamun juga berfungsi sebagai produsen jaring makanan, tempat naungan, mencari makan, dan berkembangbiak berbagai jenis biota, baik vertebrata maupun invetebrata. Dibandingkan dengan jenis lamun lainnya, Enhalus acoroides paling banyak ditemukan di Perairan Karangsewu dan Teluk Gilimanuk karena daunnya yang panjang dan lebar membuatnya lebih disukai oleh mikroorganisme karena memiliki substrat yang lebih stabil (TNBB, 2017). Berbagai kelompok organisme berinteraksi di ekosistem ini; perifiton adalah salah satu yang dekat dengan tumbuhan lamun.
Perifiton dalam perairan adalah kumpulan jasad renik hewan dan tumbuh-tumbuhan, termasuk ganggang cyanobacteria dan mikroinvertebrata yang hidup di sekitar epifiton. Karena mampu melakukan proses fotosintesis, yang dapat menghasilkan zat organik dari zat anorganik, perifiton memainkan peran penting dalam penyediaan produktivitas perairan. Selain itu, organisme ini memanfaatkan nutrien yang tersedia di lingkungan lamun. Karena perifiton hidup menempel pada batuan, kayu, tumbuhan, atau benda air lainnya, benda-benda ini rentan terhadap bahan pencemar.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui komposisi jenis perifiton dan diversitas perifiton yang menempel pada daun lamun. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel perifiton dilakukan dengan cara mengerik permukaan daun lamun yang bertujuan untuk memisahkan perifiton dari permukaan daun lamun. Pengerikan perifiton pada permukaan daun lamun dilakukan dengan scalpel. Daun lamun yang diambil sampel perifitonnya dikerik dari bagian ujung sampai pangkal daun lamun. Sampel perifiton yang telah dikerik ditaruh pada cawan petri. Kemudian sampel perifiton diamati menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10×10 dan dianalisis menggunakan sedgewick rafter.
Kesimpulan: Perhipiton yang ditemukan terdiri dari 23 jenis, terdiri dari 4 kelas: Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Euglenophyceae, dan Chlorophyceae. Amphora sp. adalah spesies dari kelas Bacillariophyceae yang paling umum ditemukan di stasiun. Berdasarkan kelasnya, diketahui bahwa komposisi jenis tertinggi terletak pada kelas Bacillariophyceae, dengan 70%, dan komposisi jenis terendah terletak pada kelas Chlorophyceae, dengan hanya 4%.
Sumber :
Razali, A. C., Ni, L. W., & Ayu, P. W. K. D. (2019). Diversitas Perifiton pada Daun Lamun Enhalus acoroides di Perairan Karangsewu, Teluk Gilimanuk, Taman Nasional Bali Barat. Current Trends in Aquatic Science, 2(2), 25-32.