Review Jurnal 1 “Profil Struktur Komunitas Lamun Di Perairan Pantai Kelapa Indah Desa Mahu Kecamatan Saparua Timur Sebagai Sumber Pembelajaraan Biologi”. Penulis : Tuapattinaya et al. (2023)
Jurnal ini dilakukan dengan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif digunakan untuk mengungkapkan infromasi tentang kondisi hidrologi, komposisi jenis dan keanekaragaman jenis penelitian ini dilakukan pada Perairan Pantai Kelapa Indah, Desa Mahu, Kecamatan Saparua Timur.
Lamun merupakan salah satu tumbuhan ekosistem sumberdaya alam yang berada diperairan dangkal dan memiliki banyak manfaat bagi biota yang berasosiasi dengan lingkungan sekitarnya. Lamun dapat dikatakan juga sebagai sumber kehidupan bagi kehidupan biota laut yang bernaungan di dalamnya. Padang lamun memiliki peran dan fungsi ekologi yang penting di ekosistem perairan. Ekosistem lamun memiliki fungsi selain sebagai produsen juga sebagai habitat biota lain yaitu berupa tempat pemijahan, daerah asuhan, dan daerah mencari makan. Selain itu ekosistem padang lamun berfungsi sebagai penangkap sedimen, serta sebagai pendaur zat hara.
Metode yang digunakan yaitu penelitian deskriptif digunakan mengungkapkan infromasi untuk tentang: (1) kondisi hidrologi, (2) komposisi jenis, (3) keanekaragaman jenis. Penelitian ini dilakukan pada Perairan Pantai Kelapa Indah, Desa Mahu, Kecamatan Saparua.
Hasil dan kesimpulan dari jurnal ini terdapat 5 jenis lamun yang diperoleh di perairan pantai kelapa indah desa mahu. Jenis lamun tersebut mewakili 3 famili lamun yaitu Hydrocharitaceae, Potamogetonaceae dan Hydrocaritaceae.Tinggi rendahnya keanekaragaman jenis pada suatu komunitas dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain; bermacam-macam kedudukan fungsional hidup (niche), stabilitas lingkungan, produktivitas, transfer energi, jaring-jaring makanan, predasi, kompetisi, ukuran tubuh dan pembagian relung yang secara ekologis berlangsung baik.
Keragaman tinggi pada suatu daerah berarti daerah tersebut mempunyai siklus rantai makanan yang lebih kompleks dan persediaan makanan banyak, daripada sekedar simbiosis. Tingkat keragaman di perairan pantai pulau Saparua yang tergolong sedang, maka dapat dijelaskan bahwa siklus rantai makanan pada daerah tersebut cukup kompleks, sehingga persediaan makanan relatif cukup.
Review jurnal 2 “Preferensi Makanan Teripang (Holothuria atra) Di Perairan Pantai Lhok Bubon, Kabupaten Aceh Barat”. Penulis : Lubis et al. (2023)
Teripang merupakan salah satu hewan epibentik yang memiliki peran penting untuk mengurangi eutrofikasi yang disebabkan oleh alga. Teripang tidak hanya memiliki nilai ekonomis akan tetapi memiliki peran penting dalam ekologi perairan sebagai pemakan deposit (deposit feeders) dan pemakan suspensi (suspension feeders).
Perairan Pantai Lhok Bubon merupakan ekosistem yang memiliki jenis teripang hitam (Holothuria. Atra) yang berasosiasi dengan lamun dan berbagai jenis karang. Lingkungan habitat ini memberikan ketersediaan makanan bagi organisme bentik sehingga nutrisi yang diserap dapat memenuhi kebutuhan untuk kelangsungan hidup.
Adanya teripang ini dibutuhkan juga oleh organisme lain di perairan dalam periode yang panjang. Sehingga, sumber makanan teripang juga tersedia dari ekosistem disekitarnya dan kemampuan menangkap makanan tersebut dapat dimanfaatkan seutuhnya. Teripang mencerna lebih banyak sedimen dan isi pencernaan yang terdiri dari bakteri, diatoms, alga, kerang-kerangan dan moluska lainnya.
Pengambilan sampel teripang menggunakan metode sensus. Metode ini bertujuan untuk memperoleh organisme akuatik di perairan yang populasinya cenderung berjumlah sedikit. Tahap pertama yang dilakukan di lapangan meliputi sampel teripang dikumpulkan oleh penyelam (divers), Tahap kedua dilakukan di laboratorium meliputi sampel teripang dibedah mulai dari ujung anterior sampai posterior yang menggunakan sectio set dan yang terakhir semua sampel dianalisis di Laboratorium Produktivitas Lingkungan Perairan Universitas Teuku Umar.
Hasil dan kesimpulan pada jurnal ini Preferensi makanan teripang di perairan Lhok Bubon merupakan pemakan endapan yang bersifat spesialis. Komposisi makanan yang disukai meliputi fitoplankton, makroalga, moluska, larva koral, patahan karang (rubbles), detritus dan pasir halus. Informasi ini dapat dikaitkan dengan faktor lingkungan dan keanekaragaman spesies. Sehingga hasil ini dapat dipertimbangkan sebagai informasi dalam memenuhi ketersedian sumber makanan di perairan Pantai Lhok Bubon.
Review jurnal 3 “Struktur Komunitas Gastrpoda Pada Ekosistem Lamun Di Perairan Gangga Minahasa Utara”. Penulis : Sitanggang et al. (2021)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis Gastropda di Ekosistem lamun perairan desa Gangga I, Kabupaten Minahasa Utara melalui: Kepadatan Spesies, Kepadatan Relatif, Keanekaragaman dan Dominansi di perairan Desa Gangga I Kabupaten Minahasa Utara.
Secara ekologi, gastropoda merupakan komponen penting dalam rantai makanan di ekosistem lamun dan bermanfaat terhadap pertumbuhan ekosistem lamun melalui proses fotosintesis. Tingginya aktivitas eksploitasi oleh manusia dapat berdampak pada penurunan populasi gastropoda dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi keanekaragaman dan kelimpahan spesies itu sendiri, serta berpengaruh pada struktur komunitas suatu spesies.
Metode penelitian dilakukan pada ekosistem lamun di perairan Desa Gangga I, kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 transek. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik transek kuadrat berukuran 1 x 1 m2. Panjang transek berukuran 100m dengan jumlah 10 kuadrat per transek (total 30 kuadrat). Garis transek ditarik tegak lurus dari garis pantai ke arah laut sepanjang 100 m.
Hasil dan kesimpulan pada jurnal terdapat Jenis Gastropoda yang diperoleh di Ekosistem lamun peraian Desa Gangga I, Kabupaten Minahasa Utara yaitu terdiri atas 13 spesies (7 genera) dari 7 famili (3 ordo). Berdasarkan hasil analisis kepadatan jenis, titik dengan nilai kepadatan tertinggi terdapat pada titik 1, sedangkan titik 3 memiliki nilai kepadatan terendah.
Kesimpulan dari ketiga jurnal tersebut
Hasil review ketiga jurnal diatas didapatkan kesimpulan bahwa bila suatu ekositem seimbang dan harmonis maka jaring makanan akan berlangsung dengan baik, termasuk dalam ekosistem terrestrial maupun perairan atau aquatik. Sebaliknya apanila keadaan suatu ekosistem tidak seimbang maka jaring makanan tidak akan berlangsung dengan baik.
Daftar Pustaka
Lubis, F., Najmi, N., Lisdayanti, E., & Nasution, M. A. (2023). Preferensi Makanan Teripang (Holothuria atra) Di Perairan Pantai Lhok Bunon, Kabupaten Aceh Barat. Jurnal Perikanan Unram, 13(1), 89–97.
Sitanggang, G, R., Jety, K, R., Ruddy, D, M., Jans, D, J, L., & Joshian, N, W, S.(2021). Struktur Komunitas Gastrpoda Pada Ekosistem Lamun Di Perairan Gangga Minahasa Utara. Jurnal Ilmiah Platax, 9(2), 304-313.
Tuapattinaya, P., Pattiasina, E., Pattipeilohy, J., Sahetapy, M., & Wattimena, C. (2023). Profil Struktur Komunitas Lamun Di Perairan Pantai Kelapa Indah Desa Mahu Kecamatan Saparua Timur Sebagai Sumber Pembelajaran Biologi. Biopendix: Jurnal Biologi, Pendidikan Dan Terapan, 10(1), 148-155.