Judul jurnal “Identifikasi Burung Predator Hama Serangga Palawija Di Desa Gunong Pulo Kecamatan Kluet Utara Kabupaten Aceh Selatan.”
Pemanfaatan burung predator serangga dapat menekan perkembangan hama serangga tanamanan palawija serta menghindari resistensi hama serangga terhadap pestisida kimia yang lebih sering digunakan oleh petani saat ini. Pengumpulan data oleh peneliti dilakukan pada Mei 2021 menggunakan metode purposive sampling, pengamatan line transek dan pendekatan kuantitatif. Berdasarkan jenis makanannya, burung dapat dikelompokkan dalam karnivora (pemakan invertebrata, vertebrata), omnivora (pemakan buah, invertebrata, dan vertebrata), dan herbivora (pemakan buah, dan biji). Burung pemakan serangga dan vertebrata seperti tikus merupakan jenis burung yang berpotensi dalam pengendalian hama pertanian. Pemanfaatan peran burung pemangsa sebagai predator alami dapat membawa banyak keuntungan, salah satunya adalah terjaganya lingkungan dan tidak menyebabkan resistensi terhadap hama tanaman terutama tanaman palawija. Burung pemangsa merupakan salah satu predator alami yang efektif menekan perkembangan hama yang menggangu tanaman palawija. Beberapa burung pemangsa dan burung pemakan serangga mampu mengendalikan hama.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti diketahui 9 spesies dari 7 famili diantaranya merupakan pemangsa serangga primer karena pakan utamanya merupakan serangga, dan 21 spesies dari 11 famili lainnya merupakan pemangsa serangga sekunder karena pakan utamanya adalah mamalia kecil, serangga, ikan, dan moluska. Ciri khusus burung pemangsa serangga terletak pada paruhnya, bentuk paruh burung pemangsa serangga umumnya agak panjang, kecil dan sedikit runcing. Bentuk paruh yang dimiliki burung tersebut memudahkan dalam menangkap serangga, meskipun serangga tersebut terdapat di celah yang sempit maupun di atas permukaan tanah. Setiap jenis burung pemangsa akan memangsa jenis serangga tertentu. Famili burung yang menjadi pemangsa serangga primer adalah Famili Meropidae yang memangsa serangga dari ordo Orthoptera, Isoptera, Hemiptera, Hemoptera, Leupidoptera, Diptera, Coleoptera, Megaloptera, dan beberapa jenis ordo serangga lainnya. Kemudian famili Cuculidae memangsa serangga dari ordo Orthoptera, Isoptera, Hemiptera, Colioptera, Diptera, dan beberapa jenis serangga lainnya. Famili Campephagidae memangsa serangga dari ordoOrtoptera, Isoptera, Lepidoptera, Diptera, Neuroptera, Hemiptera. Famili Hirundinidae memangsa serangga dari ordo Orthoptera, Isoptera, Hemiptera, Coleoptera, Diptera, dan Hymenoptera. Famili Picidae memangsa serangga dari ordo Orthoptera, Dermaptera, Isoptera, Lepidoptera, Diptera, dan Coleoptera. Famili Motacillidae memakan serangga dari ordo Orthoptera, Neuroptera, Lepidoptera, Coleoptera, Diptera, dan Hymenoptera. Famili Coraciidae memangsa serangga dari ordo Orthoptera, Hemiptera, Hetroptera, Homoptera, Coleoptera, dan Hymenoptera. Terdapat 30 spesies dari 18 famili burung predator serangga yang berpotensi sebagai pengendali hama serangga palawija yang ditemukan di desa Gunong Pulo Kecamatan Kluet Utara Kabupaten Aceh Selatan.
Potensi burung pemangsa serangga dapat dikembangkan untuk mengendalikan populasi hama serangga palawija, sehingga dapat meningkatkan hasil produksi pertanian dan juga mempunyai fungsi ekologis karena tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. Pemanfaatan predator alami dalam pengendalian hama juga dapat diterapkan dalam jangka panjang dan relatif lebih murah. Pengendalian hama secara biologi dengan memanfaatkan predator alami memiliki beberapa keuntungan, diantaranya mencegah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh bahan kimia dari pestisida. Salah satu keuntungan dari pengendalihan hama secara hayati adalah dengan memanfaatkan potensi burung pemangsa hama baik itu insektivora (pemakan serangga) maupun raptor (pemangsa hama vertebrata seperti tikus).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti didapatkan spesies burung yang menjadi predator hama serangga yaitu Kirik-kirik Biru, Kadalan Selaya, Bubut Alang-alang, Kapasan Kemiri, Layang-layang Api, Pelatuk Merah, Pelatuk Bawang, Apung Sawah, Tiong Lampu Biasa, Bangau Tongtong, Tiong Emas, Bambangan Merah, Cangak Merah, Kuntul Kerbau, Kuntul Besar, Cica Daun Kecil, Cipoh Kacat, Elang Ular Bido, Elang Bondol, Elang Hitam, Kutilang, Merbah Cerucuk, Cabai Merah, Bondol Haji, Perkutut, Punai, Punai Gading, Punai Ungu, dan Tekukur. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan terdapat 30 jenis spesies burung prodator dari 18 famili di Desa Gunong Pulo Kecamatan Kluet Utara Kabupaten Aceh Selatan.
Judul jurnal “Keragaman Serangga dan Perannya di Ekosistem Sawah (Insect Diversity and its Role in Wetland Ecosystems)”
Peneliti menggunakan metode perangkap sumuran (pit fall traps), perangkap lampu (light traps) dan perangkap nampan kuning (yellow tray traps). Ekosistem sawah merupakan faktor penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Keanekaragaman hayati seperti jenis-jenis tanaman, hewan, dan mikroorganisme yang ada dan berinteraksi dalam suatu ekosistem sawah sangat menentukan tingkat produktivitas pertanian. Serangga sebagai salah satu komponen ekosistem sawah memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu sebagai herbivora, karnivora (predator dan parasitoid), dan detritivora. Di dalam ekosistem sawah terdapat berbagai macam jenis serangga yang hidup dan tinggal di ekosistem sawah tersebut. Serangga sebagai salah satu komponen keanekaragaman hayati juga memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu sebagai herbivor, karnivor dan detritivor. Di dalam ekosistem sawah terdapat berbagai macam jenis serangga yang hidup dan tinggal di ekosistem sawah tersebut. Sebagian serangga menggantungkan hidupnya pada tanaman padi yaitu sebagai hama, sebagian lainnya sebagai predator, sebagian sebagai parasitoid. Serangga herbivor di ekosistem sawah dapat mempengaruhi tingkat produktivitas tanaman padi. Sebagian besar serangga herbivor adalah serangga hama yang menyebabkan kerusakan pada tanaman padi. Dari jutaan macam serangga yang terdapat di dunia, terdapat puluhan ribu yang dapat mengganggu dan merusak tanaman persawahan. Serangga predator merupakan serangga yang memangsa serangga lain dengan cara menangkap, menghisap cairan atau memangsa habis seluruh tubuh. Sedangkan parasitoid merupakan serangga yang larvanya hidup dalam jaringan tubuh serangga lainnya.
Hasil serangga yang diperoleh dari penelitian ini dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan peranannya yaitu serangga herbivor, serangga predator, serangga parasitoid dan serangga detritivor. Dari semua jenis serangga yang teridentifikasi maka 49.6% diantaranya adalah serangga herbivor, 46.1% merupakan serangga predator, 3.5% merupakan serangga parasitoid dan 0.6% adalah serangga detritivor. Keanekaragaman serangga yang ditemukan di lahan sawah adalah dengan perangkap sumuran diperoleh 23 spesies dalam 14 famili dalam 8 ordo, dengan perangkap lampu diperoleh 9 spesies dalam 7 famili dari 4 ordo, dengan perangkap nampan kuning diperoleh 8 spesies dalam 6 famili dan 3 ordo.
Judul jurnal “Efektivitas Pemasangan Rumah Burung Hantu (Rubuha) Sebagai Pengendali Hayati Dalam Mengatasi Hama Tikus Di Desa Musir Kidul Kabupaten Nganjuk”
Penelitian bertujuan untuk mengkaji masalah hama tikus yang terjadi di desa Musir Kidul, Rejoso, Nganjuk. Permasalahan ini dipilih karena dampak yang ditimbulkan oleh hama tersebut mempengaruhi keberlangsungan produksi pertanian dan hasil panen petani. Pengendalian hama tikus di desa ini berbeda dengan desa lainnya karena dilakukan dengan pemasangan rumah hantu sebagai tempat singgah burung hantu liar guna mengusir tikus. Penelitian ini menggunakan metode Participatory Action Research yang melibatkan petani, Dinas Pertanian, Kepala Desa, dan Mahasiswa KKN 84 UIN Sunan Ampel Surabaya.
Hama adalah hewan yang menganggu dalam produksi pertanian contohnya tikus, tupai, serangga dan lain sebagainya. Salah satu hama yang menjadi faktor penentu hasil panen petani desa Musir Kidul adalah tikus. Tikus menjadi masalah yang cukup sulit untuk diselesaikan. Pasalnya petani selalu menanam padi hampir setiap tahun sehingga ketersediaan makanan untuk tikus melimpah. Selain itu, tikus dapat merusak hingga 80% tanaman padi pada satu petak dalam satu malam apalagi jika jumlah tikus yang menyerang cukup banyak. Hama tikus merusak mulai akar, batang, daun, hingga bulir tanaman padi, sehingga tanaman padi tidak dapat berkembang dan bisa memungkinkan kalau pada akhirnya tanaman itu mati. Hal ini tentu menyebabkan kerugian yang tinggi bagi petani. Karena selain tanaman rusak, jumlah anggaran yang dikeluarkan oleh petani cenderung meningkat. Di area persawahan desa Musir Kidul didirikan rumah burung hantu sebagai upaya untuk menghalau hama tikus dengan sarana lain yaitu dengan pemasangan rumah burung hantu. Pengendalian hama tikus dengan burung hantu tergolong dalam pengendalian hayati yang dilakukan secara terpadu dan alami. Artinya, hewan yang menjadi pengganggu tanaman dikendalikan oleh musuh yang juga alami. Sejalan dengan hal itu maka dibuatlah rumah burung hantu (Rubuha) untuk menghalau hama tikus di sawah. Burung hantu ini dipilih karena posisinya menjadi yang paling atas di dalam hierarki rantai makanan. Selain itu, burung hantu adalah predator yang mampu memangsa 2 hingga 5 ekor tikus dan memiliki kemampuan untuk membunuh mangsa melebihi kebutuhannya sehingga diharapkan dapat mengurangi populasi tikus di sawah. Tikus merusak tanaman dengan menggigit batang padi sehingga batang padi terpotong sehingga tanaman padi yang baru ditanam tidak dapat berkembangbiak dengan baik, bahkan menjadi layu dan kemungkinan akan tanaman akan mati. Pada tahap anakan padi aktif, tikus memotong bibit padi yang masih muda dan memakan batang padi. Kerusakan tanaman terjadi ketika tikus menyerang pada saat malam hari sedangkan pada saat siang hari tikus bersembunyi dalam sarangnya.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pemasangan rumah hantu (rubuha) dinilai kurang efektif dari segi efisiensi waktu, karena memerlukan waktu yang lama untuk menarik burung hantu liar agar masuk ke rubuha. Sehingga pengendalian dengan cara ini tidak dapat berjalan dengan baik, burung hantu yang diharapkan singgah di rubuha tidak datang, sementara serangan hama tikus terus berlangsung.
Daftar Pustaka
Afrija, L. N., Abdullah., Devi Syafrianti, D., Khairil. & Asiah, M. D. (2023). Identifikasi Burung Predator Hama Serangga Palawija Di Desa Gunong Pulo Kecamatan Kluet Utara Kabupaten Aceh Selatan. Biofaal Journal, 4 (1), 26-30.
Hadi, M. & Aminah. (2012). Keragaman Serangga dan Perannya di Ekosistem Sawah (Insect Diversity and its Role in Wetland Ecosystems). Jurnal Sains dan Matematika, 20 (3), 54-57.
Yuliana, N., Kholifatun Qibtiyah, K. & Tobroni, A. Y. (2022). Efektivitas Pemasangan Rumah Burung Hantu (Rubuha) Sebagai Pengendali Hayati Dalam Mengatasi Hama Tikus Di Desa Musir Kidul Kabupaten Nganjuk. Fruitset Sains, 10 (3), 116-121.