Nama: Nadhia Affiani
NIM: 2224220044
Kelas: 3A
JURNAL 1
Dalia, B, P, I., & Leksono, A, S. (2014). “Interaksi antaracapung dengan arthopoda dan vertebrata predator dikepanjen, kabupaten malang”. Jurnal Bioptika, 2(1): 26-30
Hasil:
Capung (Ordo:Odonata) merupakan salah satu musuhalami yang penting untuk dunia pertanian, selain sebagaibioindikator lingkungan bersih dan memiliki sifat polifaga. Dalam jaring-jaring makanan, capung juga menjadi mangsabagi burung, laba-laba, dan katak. Sawah berperan pentingbagi masyarakat Indonesia, karena hasil produksinya, seperti beras, dimanfaatkan sebagian besar masyarakatsebagai bahan makanan pokok dan mata pencaharian.Capung berperan penting dalam jaring- jaring makanan di pertanian. Imago capung berkemampuan memangsa banyakjenis serangga, seperti kutu daun, wereng, walang sangit, nyamuk, lalat, kupu-kupu sehingga dapat menguntungkandunia pertanian, terutama pertanian organik.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampaiAgustus 2013, dengan total 13 kali pengamatan pada area sawah padi organik padi organik dan konvensional di DesaSengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Area pertanian padi terletak di titik koordinatS 8 09’42,6” dan E 112 33’40” dengan ketinggian 348 m dpl. Identifikasi imago capung dilakukan sampai tingkattaksa spesies sesuai dengan buku identifikasi Dragonflies and Damselflies of Peninsular India-A Field Guide danNaga Wendit.
Hasil pengamatan di lapang terlihat capung spesiesOrthetrum sabina dimangsa Mabuya sp. Capung tersebutjuga pernah terlihat menyambar walang sangit yang sedangterbang, kemudian dimangsa. Beberapa peristiwa interaksicapung dengan Arthropoda berhasil didokumentasikan, antara lain O. sabina yang sedang memangsa Acrididae danO. sabina yang sedang memangsa Pelopidas conjunctus.Capung, Athropoda, dan vertebrata yang ditemukan selamapengamatan memiliki interaksi predasi. Capung berperansebagai predator berbagai Arthropoda di pertanian, terutama bagi ordo Lepidoptera, Hymenoptera, Hemiptera, Orthoptera, dan Diptera. Capung juga menjadi mangsa bagiArthropoda, seperti Araneida, dan vertebrata, sepertiAnura, Mabuya sp., dan Todiramphus chloris.
JURNAL 2
Muhammad, F., Hidayat, J, W,. & Mukid, M, A. (2013). Aplikasi Bio-Ekologi sebagai indicator tingkat kesuburantambak. Jurnal Sains dan Matematika, 21(3): 75-83
Hasil:
Makrobenthos yang hidup pada ekosistem mangrove dapat digunakan untuk memprediksi peran dan proporsitanaman mangrove sebagai sumber makanan alami di lingkungan sekitar tambak. Mereka juga memainkanperanan penting dalam rantai makanan, mentransfer karbonorganik kembali ke ekosistem pelagis. Karena peningkatanlaju oksidasi sedimen, organisme bentik bereaksi sangatbaik terhadap eutrofikasi dan hipoksia melalui mekanismeseperti siklus nitrogen melalui nitrifikasi dan denitrifikasi, dan oleh karena itu dapat digunakan sebagai bioindikatorpengayaan organik. Peran atau kontribusi ekosistemmangrove sebagai sumber atau reservoir makanan alamibagi lingkungan sekitar tambak masyarakat dapatdiprediksi oleh makrobenthos yang hidup di lingkunganmangrove khususnya kelompok cacing Polychaeta. Ada tidaknya cacing di lingkungan kolam seringkali menjadifaktor kunci dalam pembenihan ikan budidaya.
Penelitian ini dilakukan di pesisir utara Jawa Tengah pada bulan Juni-Agustus 2013. Dibandingkan dengankomponen vegetasi mangrove pada ekosistem tambak, penelitian ini mencakup 3 wilayah yaitu: PantaiMangunharjo, Semarang (vegetasi mangrove minimal/dangkal dengan ekosistem tambak) , PantaiSurodad, Demak (ekosistem mangrove monokultur) danPantai Pasarbang, Rembang (ekosistem mangrove yang didukung oleh lahan basah mangrove multikultural). Parameter yang diamati pada setiap sampel adalahparameter biologi antara lain: indeks keanekaragamanplankton makrobentos (berperan dalam penguraian karkas) yang dilakukan di kolam mangrove dan lokasi referensi(kolam tanpa hutan mangrove).
Kondisi lingkungan sangat mempengaruhiperkembangan keanekaragaman jenis makrobentos danpertumbuhan ekosistem mangrove. Suatu ekosistem secaraalami mempunyai parameter lingkungan berbeda-bedayang menentukan karakteristik ekosistem tersebut. Ekosistem mangrove dipengaruhi oleh kondisi perairan. Intensitas cahaya, suhu, pH, salinitas, dll. merupakan faktorlingkungan yang harus diperhatikan untuk mendukungpertumbuhan dan produksi mangrove.
JURNAL 3
Jalaludin, M., Octaviyani, I, N., Putri, A, N , P., Octaviyani, W., & Aldiansyah, I. (2020). Padang Lamun Sebagai EkosistemPenunjang Kehidupan Biota Laut di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Indonesia. Jurnal Geografi Gea, 20(1): 44-53
Hasil:
Padang rumput yang terdapat di pesisir Pulau Pramukakhususnya di bagian timur adalah banyak keuntungannya yaitusebagai first residen producer habitat biota laut, penstabil dasarair, pengumpul sedimen dan daur ulang nutrisi dapatmenghasilkan air berkualitas tinggi jernih di sekitar perairan. Terdapat berbagai jenis satwa liar berasosiasi dengan ekosistempadang lamun Pulau Ida-Pramuka, satwa liar – kehidupan yang selalu ada untuk hidup, berkembang biak, dan mencari makanan bahkan bergantung pada tanaman lamun berbagai contoh fauna menetap (yang jangan banyak bergerak) yang tinggal di dekatnya ekosistem lamun yaitu bulu babi (Echinoidea), teripang (Holothuroidea) dan fauna lain, seperti ikan baronang(siganus guttatus), penyu (Chelonioidea), kepiting (Brachyura). Juga daun rumput laut menjadi makanan bagi organisme yang hidup di luar di dalam air, seperti burung laut.
Pada penelitian ini rantai makanan dibagi menjadi duabagian yaitu rumput dan serasah. Dalam rantai makanan Ramuan ini merupakan sumber nutrisi langsung adalahtanaman rumput laut itu sendiri yang daunnya dimakan olehkonsumen tingkat dugong pertama, kura-kura, kelinci dan bulubabi. Konsumen primer ini dimakan oleh predator, kecuali bulubabi, bulu babi sendiri memakan ikan bunga. konsumen lain. Dalam rantai makanan yang merusak ini daun-daun bergugurandari alga yang dimakan konsumen kelas satu (epifit) sebagai nutrisi yang dipecah oleh bakteri cacing, udang dan kepitingmerupakan konsumen pertama. Setelah itu, hewan tersebutdimakan ikan berukuran sedang di tingkat konsumen duaBahkan konsumen lapis kedua pun makan menyukai ikan besar, hiu, dan burung laut hewan yang menempati tingkat trofik konsumen sekunder mengkonsumsi paling banyak dan ikanbesar sebagai konsumen tersier.