TUGAS INDIVIDU

EKOLOGI UMUM

Dosen Pengampu Mata Kuliah Dr. Dian Rachmawati, M.Si

 

Disusun Oleh:

Nama                   : Hana Najwa Paramitha

NIM                   : 2224220079

Kelas                   : IIIC Pendidikan Biologi

 

 

  • Review Jurnal 1 Berjudul “ Peranan Ekologi Makroalga Bagi Ekosistem Laut“

 

Pada pendahuluan jurnal, penulis menjelaskan tentang peran makroalga bagi ekosistem laut terutama sebagai produsen primer untuk dikonsumsi oleh mahluk hidup laut yang berperan sebagai konsumen. Namun, tidak hanya peranan secara ekologi saja, penulis dalam pendahuluan jurnalnya menekankan betapa pentingnya peranan makroalga yang dampaknya sangat signifikan dalam kehidupan terhadap perikanan secara tidak langsung. Manfaat makroalga seringkali dipandang sebelah mata karena tidak memberikan dampak langsung terhadap kehidupan manusia.

Ekosistem didefinisikan sebagai gabungan dari organisme hidup dan lingkungan yang terdapat interaksi antara organisme satu dengan organisme lainnya dan terhadap lingkungannya. Di mana ekosistem berdasarkan tempatnya terbagi menjadi ekosistem terestial dan ekosistem akuatik. Dalam jurnal ini membahas mengenai ekosistem laut, yaitu bagian dari sistem akuatik terbesar di planet ini, meliputi lebih dari 70 persen permukaan bumi. Habitatnya membentuk area sistem yang luas mulai dari daerah dekat pantai yang produktif hingga dasar laut. Ekosistem akuatik memiliki macam jenisnya, di antaranya ekosistem berdasarkan komunitas adalah ekosistem mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Masing-masing ekosistem tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ekosistem laut menjadi habitat bagi beragam jenis mahluk hidup perairan asin, mulai dari fitoplankton, zooplankton dan hewan-hewan tingkat tinggi, seperti ikan dari kelas Chondrichthyes dan Osteonichthyes. Keberagaman hewan ini saling berkorelasi satu dengan yang lain untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya melalu interaksi dan membentuk jaring-jaring makanan. Dalam jurnal ini, dijelaskan bahwa salah satu mahluk hidup yang berperan besar di ekosistem laut dalam jaring-jaring makanan ialah makroalga. Makroalga merupakan salah satu biota penyusun dari tiga ekosistem tersebut. Makroalga memiliki peranan secara ekologis bagi ekosistem laut sebagai produsen primer dalam rantai makanan. Makroalga mengandung pigmen fotosintetik sehingga dapat menyediakan makanan sendiri dengan bantuan sinar matahari dan nutrisi yang ada di air laut. Makroalga memiliki potensi produktivitas primer cukup tinggi. Makroalga merupakan makanan utama bagi ikan laut herbivora. Sebanyak 5% ikan merupakan ikan herbivora, tetapi hanya 30% saja yang hidup di laut. Ikan laut herbivora tersebut umumnya hidup di terumbu karang. Tempat hidup ikan herbivora di terumbu karang menyebabkan interaksi tidak hanya antara makroalga dan ikan herbivora, tetapi juga terjadi interaksi segitiga antara makroalga, ikan herbivora dan karang. Sebagai produsen primer dalam rantai makanan, makroalga merupakan sumber pangan bagi biota laut lainnya (herbivora). Pemangsaan makroalga oleh herbivora tidak selalu memberi pengaruh negatif bagi ekosistem, tetapi juga merupakan salah satu cara alami untuk menjaga keseimbangan ekosistem dengan cara mencegah terjadinya ledakan populasi makroalga di ekosistem. Salah satu konsumen pemakan makroalga ialah bulu babi, yaitu biota bentik yang hidup di batuan, serta terumbu di zona subtidal dan merupakan salah satu herbivora pemangsa makroalga. Makroalga merupakan salah satu sumber makanan bagi gastropoda. Setiap spesies gastropoda memiliki kegemaran makan makroalga yang berbeda- beda. Gastropoda seperti Elysa sp. Peranan makroalga ini menjadi salah satu komponen penting dalam jaring makanan akuatik laut.

 

  • Review Jurnal 1 Berjudul “ Preferensi Makanan Teripang (Holothuria Atra) Di Perairan Pantai Lhok Bubon, Kabupaten Aceh Barat

Pada jurnal Preferensi Makanan Teripang (Holothuria atra) Di Perairan Panta Lhok Bubon, Kabupaten Aceh Barat. Perairan Pantai Lhok Bubon merupakan ekosistem yang memiliki jenis teripang hitam (Holothuria atra)  yang  berasosiasi  dengan  lamun  dan berbagai  jenis  karang. Lingkungan  habitat  ini  memberikan  ketersediaan  makanan  bagi  organisme  bentik  sehingga  nutrisi  yang  diserap  dapat  memenuhi  kebutuhan  untuk  kelangsungan  hidup.  Hal  ini  akan menunjukkan kebiasaan makanannya di setiap tingkat jaring-jaring makanan (food web). Teripang  merupakan salah  satu  hewan  epibentik  yang  memiliki  peran  penting  untuk  mengurangi eutrofikasi yang disebabkan oleh alga. Teripang tidak hanya memiliki  nilai  ekonomis  akan  tetapi  memiliki  peran  penting  dalam  ekologi  perairan  sebagai  pemakan  deposit  (deposit  feeders)  dan pemakan  suspensi  (suspension  feeders). Teripang merupakan salah satu kelompok echinodermata, termasuk teripang hitam biasanya  hidup  di  sekitar  karang,  pasang surut  pantai,  substrat  lumpur  berpasir, puing-puing pecahan karang dan lamun di kedalaman 0 hingga 20 meter. Teripang  mempunyai peran  penting  terhadap  terumbu  karang  dan  komunitas  bentik  melalui  bioturbasi  sedimen.  Adanya  teripang  ini dibutuhkan juga  oleh  organisme  lain  di  perairan dalam periode yang panjang.  Teripang  yang  merupakan  hewan  bentik,   dikenal  sebagai  pemakan  endapan  dan   berhubungan  langsung  dengan sedimen. Makanan tambahan  teripang  juga,  yaitu tumbuhan  makroalga  (IP  =  1,66%)  dengan  jenis  Halimeda sp. dan  Sargasum sp.  sebagai  preferensi  makanannya. Selain makroalga,  sedimen  yang  terasosiasi  langsung dengan  habitat  berpasir  umumnya  dimanfaatkan hewan  bentik  sebagai  penyerapan  organik  melalui  jaring-jaring  makanan.

Kelompok Holothuria sebagai pemakan makroalga dan endapan menggunakan bahan organik yang tertutup oleh sedimen dan partikel detritus sebagai sumber  makanan.  Sehingga,  ukuran  partikel  ditentukan  sebagai  pemisahan  sumber  makanan  yang   optimal   untuk   mencari   makan.   Hubungan   interaksi   antar   spesies   mempengaruhi   kompetisi antara hewan pemakan endapan.

 

 

  • Review Jurnal “ Pemanfaatan Data Satelit Oseanografi Untuk Memprediksi Daerah Penangkapan Ikan Lemuru Berbasis Rantai Makanan Dan Pendekatan Statistik Gam ”

Pada jurnal yang berjudul Pemanfaatan Data Satelit Oseanografi Untuk Memprediksi Daerah Penangkapan Ikan Lemuru Berbasis Rantai Makanan Dan Pendekatan Statistik Gam, menjelaskan mengenai ikan lemurung Ikan lemuru tergolong jenis ikan pelagis kecil dalam famili clupeidae, termasuk jenis ikan pemakan penyaring (filter feeder) dengan makanan utama berupa fitoplankton dan zooplankton. Hal ini mengindikasikan posisi ikan lemuru sebagai konsumen primer dalam rantai makanan. Ikan lemurung termasuk ikan pelagis kecil yang memakan fitoplankton. Kelimpahan fitoplankton yang dapat direpresentasikan dengan nilai konsentrasi klorofil- a pada perairan. Zooplankton merupakan konsumen tingkat tropik pertama yang memangsa fitoplankton, sehigga diduga pada daerah yang kaya akan fitoplankton akan dijumpai zooplankton yang melimpah pula. Kelimpahan plankton juga dipengaruhi oleh tingginya kandungan nutrien walaupun nilai korelasinya tidak sebesar suhu dan salinitas. Analisis korelasi antara hasil prediksi kelimpahan zooplankton dan hasil tangkapan ikan lemuru sebesar 59,57%. Hal ini menunjukkan kegiatan penangkapan ikan pada daerah yang memiliki kelimpahan zooplankton tinggi dimungkinkan akan mendapatkan ikan lemuru yang tinggi pula. Hasil tangkapan ikan lemuru semakin tinggi seiring dengan melimpahnya sumber makanan, yaitu zooplankton. Keberadaan ikan lemuru sebagai konsumen primer dalam rantai makanan dapat dijadikan dasar dalam penyusunan informasi daerah penangkapannya.

 

 

  • Kesimpulan Review Ketiga Jurnal Diatas

Secara definisi, Jaring-jaring makanan merujuk pada hubungan trofik antara berbagai organisme dalam suatu ekosistem yang mencakup produsen (tumbuhan), konsumen (hewan pemakan tumbuhan dan hewan pemakan hewan), dan dekomposer (bakteri dan jamur). Hubungan ini membentuk rantai makanan dan jaring makanan yang kompleks. Melalui review jurnal yang telah saya lakukan, jurnal pertama membahas mengenai peranan  makroalga sebagai produsen primer dalam ekosistem akuatik yang berpengaruh besar dalam perikanan. Makroalga berperan sebagai produsen karena sifatnya yang autotroph yaitu mampu memproduksi makanananya sendiri atau berfotosintesis dibantu oleh klorofil. Makroalga dikonsumsi oleh konsumen tingkat I, organisme akuatik laut, seperti ikan. Pada jurnal kedua membahas tentang teripang sebagai konsumen primer makroalga dan sedimen laut, seperti pasir-pasir laut. Hal ini menandakan adanya interaksi antar komponen spesies laut tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selanjutnya, pada jurnal ketiga membahas tentang peranan ikan pelagis. Salah satunya ialaah ikan lemurung yang berperan sebagai herbivora sekaligus omnivora laut dengan menjadi konsumen primer fitoplankton. Dalam hal ini fitoplankton termasuk kedalam jenis makroalga laut. Dalam interaksi ini, makroalga berperan sebagai produsen primer, teripang berperan sebagai konsumen bagi makroalga dan ikan sebagai konsumen bagi fitoplankton yang termasuk makroalga. hubungan interaksi antara makhluk hidup dalam suatu ekosistem, yaitu predasi. Predasi merupakan hubungan berburu dan memburu antara mangsa dan pemangsa. Dalam review ketiga jurnal ini, makroalga, teripang, serta ikan menjadi komponen-komponen dalam proses predasi. Terakhir, terdapat indikator hubungan ikan lemurung dengan teripang dalam jaring-jaring makanan, yaitu kompetisi. Kompetisi merupakan hubungan persaingan untuk mendapatkan makanan. Hubungan ini terjadi di antara spesies yang memiliki jenis makanan sama dan tinggal di habitat yang sama. Dalam proses ini, terjadi jarring makanan karena termasuk gabungan dari beberapa rantai makanan yang siklusnya saling terhubung satu sama lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

Handayani, T. (2019). Peranan ekologi makroalga bagi ekosistem laut. OSEANA, 44(1), 1-14.

 

Lubis, F., Najmi, N., Lisdayanti, E., & Nasution, M. A. (2023). Preferensi Makanan Teripang (Holothuria Atra) Di Perairan Pantai Lhok Bubon, Kabupaten

Aceh Barat. Jurnal Perikanan Unram13(1), 89-97.

 

Susilo, E., & Wibawa, T. A. (2016). Pemanfaatan data satelit oseanografi untuk memprediksi daerah penangkapan ikan lemuru berbasis rantai makanan

dan pendekatan statistik gam. Jurnal Kelautan Nasional, 11(2), 77-87.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *