Nama : Sri Rahayu
NIM : 2224220072
Kelas : 3C
1. Jurnal Pertama
Judul: Peran Ekosistem Hutan Mangrove Sebagai Habitat Untuk Organisme Laut
Penulis: Karimah
Publikasi: 2017
Tujuan penelitian: Untuk menjelaskan tentang peran ekosistem hutan mangrove sebagai habitat untuk organisme laut dengan menggunakan analisis deskriptif.
Metode penelitian: Deskriptif
Teknik penelitian: Penelusuran data sekunder dari studi-studi terkait yaitu data mengenai peranan mangrove sebagai habitat berbagai organisme yang ada di laut.
Simpulan hasil penelitian:
Ekosistem hutan mangrove adalah salah satu ekosistem yang memiliki produktivitas tinggi dibanding ekosistem lain dengan dekomposisi bahan organik yang tinggi sebagai mata rantai ekologis yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di perairan. Materi organik yang ada di hutan mangrove menjadikan hutan mangrove sebagi tempat sumber makanan dan tempat tinggal berbagai biota laut, seperti udang, ikan, dan kepiting. Produksi ikan dan udang sangat bergantung pada produksi serasah dari hutan mangrove. Berbagai kelompok moluska berasosiasi dengan tumbuhan penyusun hutan mangrove. Keanekaragaman flora, yakni: Avicennia, Rhizophora, Bruguiera, dan tumbuhan lain yang bertahan hidup disalinitas air laut. Keanekaragaman fauna, yakni: kepiting, ikan, moluska, dan lain-lain. Hutan mangrove memiliki fungsi ekonomi dan ekologi. Fungsi ekonomi sebagai penghasil kebutuhan rumah tangga, industri, dan penghasil bibit. Sedangkan fungsi ekologis sebagai pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, dan habitat bebagai jenis burung.
Hutan mangrove memiliki gradient sifat lingkungan yang sangat ekstrim, hanya beberapa jenis tumbuhan yang mempunyai daya toleransi tinggi terhadap lingkungan yang mampu bertahan. Jenis tumbuhan mempunyai kisaran ekologi tersendiri sehingga mengakibatkan tebentuknya berbagai komunitas, permintakan, atau zonasi sehingga kompetisi jenis berbeda di setiap tempat, hal ini terjadi karena faktor tipe tanah, keterbukaan areal mangrove dari hempasan ombak, salinitas, dan pasang surut. Rhizopora pada tanah lumpur yang dalam dan lembek didominasi oleh Rhizophora mucronata yang tumbuh berdampingan dengan Avicennia marina. Rhizophora stylosa tumbuh pada pantai tanah pasir atau pecahan terumbu karang berasosiasi dengan Sonnerafia alba. Dan Rhizophora apiculata tumbuh pada daerah transisi. Secara ekologis, mangrove berperan sebagai mata rantai maanan di suatu perairan pada jenis ikan, udang, dan moluska. Hutan mangrove sebagai produsen pangan bagi biota akuatik dalam menjaga keseimbangan siklus biologi di suatu perairan. Perakaran Rhizophora sp., Avicennia sp., dan Sonneratia sp. merupakan perlindungan bagi larva berbagai biota laut, menyediakan tempat bertelur, mencari makan berbagai ikan dan udang kecil, dan terlindung dari ikan pemangsa.
Penyebaran fauna penghuni hutan mangrove terdapat dua cara, yakni penyebaran secara vertical dan horizontal. Penyebaran vertical dilakukan jenis fauna yang menempel dan melekat pada akar, cabang, dan batan pohon mangrove, misalnya Liftorina scabra dan Melongena galeodes. Dan penyebaran horizontal dilakukan jenis fauna yang hidup pada substrat yaitu infauna (dalam lubang atau dalam substrat) dan epifauna (hidup bebas di atas substrat). Secara ekologis, jenis Moluska penghuni mangrove memiliki peran penting dalam rantai makanan kawasan mangrove karena sebagai pemangsa detritus, merobek atau memperkecil serasah yang baru jatuh, misalnya Telebraria palustris memecah serasah mangrove untuk dimakan sehingga mempercepat proses deomposisi serasah. Beberapa kepiting membantu dalam penyebaran seedling dengan menarik propagul ke dalam lubang tempat persembunyiannya. Fauna Moluska hutan mangrove Indonesia di dominasi Gastropoda dengan 61 jenis, sedangkan Bivalvia 9 jenis. Gastropoda yang penyebarannya sangat luas adalah Littorina scaba, Terebralia sulcata, dam Terebralia palustris. Jenis yang daya adaptis tinggi dengan lingkungan ekstrim adalah Littorina scabra dan Enigmonia aenigmatica. Gastropoda yang dimanfaatkan untuk dikonsumsi masyarakat adalah Terebralia palustris dan Telescopium telescopium. Sedangkan pada kelas Bivalvia adalah Polymesoda coaxans dan Ostrea cucullata. Pada kelas Crustacea didominasi kepiting (Brachyura) , sedangkan jenis udang (Macrura) sebagian besar penghuni sementara. Dari beberapa penelitian mengatakan bahwa family Grapsidae adalah penyusun utama fauna Crustacea hutan mangrove. Jenis Thalasina anomala adalah udang lumpur sebagai penghuni setia hutan mangrove dengan membuat lubang dan mencari makan di sekitar sarang. Sedangkan hutan mangrove bersubstrat lumpur pejal didominasi Uca dusumeri. Kepiting mangrove yang mempunyai nilai tinggi ekonomi adalah Scylla serrate dan Labnanium politum.
2. Jurnal Kedua
Judul: Padang Lamun Sebagai Ekosistem Penunjang Kehidupan Biota Laut Di Pulau
Pramuka, Kepulauan Seribu, Indonesia
Penulis: Muzani Jalaluddin, Ika Nur Octaviyani, Aufeeazzahra Nurani Praninda Putri, Winny Octaviyani, Iqbal Aldiansyah
Publikasi: 2020
Tujuan penelitian: Untuk mengetahui peranan padang lamun sebagai ekosistem penunjang kehidupan biota laut yang ada di daerah Pulau Pramuka
Metode penelitian: Deskriptif analitik
Simpulan hasil penelitian:
Padang lamun di hamparan pesisir Pulau Pramuka di bagian timur memiliki peran sebagai produsen primer habitat biota laut, stabilisator dasar perairan, penangkap sedimen, dan pendaur hara untuk menciptakan air berkualitas jernih. Kondisi lingkunan Pulau Pramuka yang tenang membuat terjadinya akumulasi pasir yang tinggi pada substrat sehingga banyak spesies tertentu yang tumbuh di Pulau Pramuka yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulate, dan Thalasia hemprichii. Terdapat berbagai jenis fauna yang berasosiasi di ekosistem padang lamun untuk hidup, berkembang biak, mencari makanan, bahkan bergantung dengan tanaman lamun. Fauna tersebut adalah bulu babi (Echinoidea), teripang (Holothuridea), kepiting (Brachyura), penyu (Cheloniodea), ikan baronang (Siganus guttatus). Daun-daun dari padang amun menjadi makanan bagi biota yang hidup di luar perairan contohnya burung laut.
Secara ekologi, lamun adalah sumber utama produktivitas primer pada perairan dangkal di seluruh dunia dan sumber makanan bagi seluruh organisme. Berbagai jenis ikan menjadikan daerah padang lamun sebagai daerah mencari makan (feeding ground). Tumbuhan lamun menjadi komponen utama detritus dalam makanan dengan menyediakan nutrient bagi hewan invertebata dan ikan, serta hewan herbivora seperti penyu hijau (Chelonia mydas) dan duyung (Dugong dugon). Biota laut yang ada di ekosistem lamun yaitu teripang, kepiting, ikan, dan lain-lain. Ikan-ikan ini sering diburu untuk dimangsa ikan-ikan karnivora. Lamun merupakan salah satu tumbuhan laut di laut dangkal yang mempunyai klorofil untuk berfotosintesis agar dapat memproduksi makanan yang diperlukan oleh biota laut (ikan baronang, bulu babi, penyu, dll). Lamun mempunyai produktivitas paling tinggi dibandingkan dengan ekosistem lainnya. Lamun memberikan tempat untuk hewan laut agar dapat berkembang biak, memijah, dan makanan bagi ikan herbivora dan ikan karang. Dan sebagai pelindungan dan tempat menempelnya berbagai hewan laut sehingga peranannya sangat penting dalam ekosistem. Lamun sebagai sumber nutrient yang daunnya dimana oleh konsumen tingkat pertama yaitu dugong, penyu, ikan baronang, dan bulu babi. Kemudian konsumen tingkat pertama dimakan oleh predator, kecuali bulu babi yang dimana oleh ikan buntal sebagai konsumen kedua. Sedangkan untuk detritus sebagai sisa-sisa oganisme mati yang telah dimakan epifit sebagai nutrient diurai oleh bakteri dimakan oleh cacing, udang, dan kepiting, kemudian dimakan oleh predator ikan besar, ikan hiu, dan burung laut sebagai tingkatan trofik paling tinggi, dan saat predator mati, jasadnya akan terurai oleh bakteri sebagai detrivitor, dan akan dikonsumsi kembali oleh konsumen pertama. Guguran daun tidak semua menjadi detritus karena ada yang menjadi bahan organik yang dimanfaatkan oleh fitoplankton sebagai produsen, dan akan dikonsumsi oleh zooplankton sebagai konsumen pertama, dan akan dimakan oleh ikan kecil, kemudian akan dimakan kembali oleh ikanikan sedang, dan akan mentransfer energi dan materi yang masuk.
3. Jurnal Ketiga
Judul: Diversitas Perifiton pada Daun Lamun Enhalus acoroides di Perairan Karangsewu, Teluk Gilimanuk, Taman Nasional Bali Barat
Penulis: Arliza Cynthia Razalia, Ni Luh Watiniasiha , Ayu Putu Wiweka Krisna Dewia
Publikasi: 2019
Tujuan penelitian: Untuk mengetahui komposisi jenis dan diversitas perifiton yang menempel pada daun lamun Enhalus acoroides
Metode penelitian: Observasi dan garis transek
Simpulan hasil penelitian:
Ekosistem lamun merupakan ekosistem dengan keanekaragaman hayati dan produktivitas primer tinggi di daerah laut dangkal. Lamun merupakan salah satu ekosistem yang penting baik fisik maupun biologis karena berperan sebagai stabilisator sedimen dan penahan endapan. Dan sebagai produsen utama dalam jaring-jaring makanan, menjadi tempat naungan, mencari makan dan berkembangbiak berbagai jenis biota, baik invertebrata dan vertebrata. Enhalus acoroides memiliki daun yang panjang dan lebar sehingga disukai oleh mikroorganisme karena mempunyai substrat yang lebih stabil. Ekosistem lamun mempunyai asosiasi dengan berbagai kelompok organisme salah satu organisme yang erat kaitannya dengan tumbuhan lamun adalah perifiton. Perifion merupakan kumpulan jasad renik hewan dan tumbuhan, yaitu kumpulan ganggang Cyanobacteria dan mikroinvertebrata yang menetap di sekitar epifion dalam perairan. Perifiton mempunyai peran penting karena mempunyai peran dalam penyedia produtivitas perairan untuk melakukan fotosintesis yang dapat membentuk zat organik dari zat anorgaik. Perifiton menempel pada batuan, kayu, tumbuhan, atau benda lain. Perifiton dapat dijadikan sebagai indikator biologi suatu peraian. Komposisi jenis perifiton pada daun lamun Enhalus acpoides berdasarkan kelasnya yakni pada kelas Bacillariophyceae 70%, kelas Cyanophyceae 17%, kelas Euglenophyceae 9%, dan kelas Chlorophyeae 4%. Hal ini dapat terjadi karena kelas Bacillariophyceae mempunyai alat berupa tangkai yang panjang atau pendek dengan bantalan berbentuk setengah bulatan yang kuat sehingga dapat menempel pada suatu substrat. Indeks keanekaragaman perifiton tergolong kategori sedang menunjukkan cukup keanekaragaman dan memiliki kestabilan komunitas yang sedang karena hanya terdapat beberapa spesies yang mempunyai kemampuan untuk memanfaatkan dan bertoleransi terhadap faktor lingkungan perairan sehingga produktivitas cukup tinggi.
KESIMPULAN
Baik hutan mangrove, lamun, dan terumbu karang sangat berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem, sebagai tempat tinggal biota laut (kepiting, teripang, bulu babi, dan lain-lain), menjaga kestabilan, sebagai sumber nutrient, dan produsen pada beberapa hewan yang berada dalam habitat akuatik. Hal tersebut dapat terjadi karena tumbuhan atau tanaman dalam ekosistem tersebut mengalami produktivitas yang tinggi dibantu cahaya matahari untuk berfotosintesis sehingga sangat berperan dalam produsen utama pada jaring-jaring makanan dimana kumpulan dari rantai makanan terjadi di dalam satu ekosistem. Aktivitas manusia dapat mengganggu keseimbangan ekosistem terutama di perairan dengan membangun dan merubah lahan yang dapat mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, manusia perlu menjaga dan merawat kelestarian ekosistem terutama di perairan agar biota laut dapat hidup selaras dengan habitatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin, M., Octaviyani, I. K., Putri, A. N. P., Octaviyani, W., & Aldiansyah, I. (2020). Padang Lamun Sebagai Ekosistem Penunjang Kehidupan Biota Laut Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Indonesia. Jurnal Geografi Gea, 20(1), 44-54.
Karimah. (2017). Peran Ekosistem Hutan Mangrove Sebagai Habitat Untuk Organisme Laut. Jurnal Biologi Tropis, 17(2), 51-59.
Razali, A. C., Watiniasih, N. L., & Dewi, A. P. W. K. D. (2019). Diversitas Perifiton Pada Daun Lamun Enhalus acoroides Di Perairan Karangsewu, Teluk Gilimanuk, Taman Nasional Bali Barat. Current Trends In Aquatic Science. 2(2), 25-32.