Setelah membaca ke 3 jurnal dapat disimpulkan, pada jurnal pertama membahas tentang model pemangsa antara phytoplankton dan zooplankton dimana berada dilingkungan beracun pada ekosistem lautan. Bahwasannya, Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organisme lain di lingkungan hidupnya, organisme yang memakan organisme lain dinamakan predator atau pemangsa, sedangkan yang dimakannya disebut mangsa. Media kemostat merupakan suatu media pertumbuhan yang ditanam dua bakteri untuk berkompetisi mengonsumsi nutrien yang sejeni. Hubungan yang terjadi antara individu sangat kompleks dan bersifat saling mempengaruhi satu sama lain. Hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem. Rantai makanan adalah pengalihan energi dalam sumbernya pada tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan. Rantai makanan yang terjadi pada ekosistem laut berupa phytoplankton dan zooplankton sebagi produsen primer atau tingkat trofik 1 , zooplankton pemakan phytoplankton sebagi tingkat trofik 2, selanjutnya karnifor pemakan zooplanton sebagi tingkat trofik 3 dan seterusnya. Proses pertumbuhan phytoplankton dipengaruhi oleh ketersedian nutrisi, sedangkan zooplankton yang merupakan predator tingkat tinggi pertumbuhannya dipengaruhi ketersedian phytoplankton. Phytoplankton dan zooplankton selanjutnya akan mengalami kematian secara alami dan menjadi dekomposer. Dekomposer ini akan mengurai bangkai atau sisa sisa mahluk hidup menjadi lebih kecil agar dapat digunakan kembali oleh phytoplankton sebagai sumber nutrisi. Penelitian ini merupakan hasil dari pengembangan dari beberapa penelitian yang berhubungan dengan pemodelan suatu populasi pada lingkungan beracun, hasilnya sistem mangsa pemangsa antara phytoplakton dan zooplankton dimana phytoplankton terkena penyakit namun tidak fatal tetapi terdapat konsentrasi racun pada lingkungan populasinya. Populasi phytoplankton yang terinfeksi tidak akan menyebabkan kematian bagi populasi zooplankton sehingga penurunan populasi zooplankton hanya bergantung pada kematian alami. Sedangkan penurunan phytoplankton dapat disebabkan oleh pemangsa zooplankton dan penyakit yang menginfeksi phytoplankton diperairan. Populasi phytoplankton dan zooplankton akan dihitung menggunakan teorema Lasalle. Pemasukan konsentrasi racun pada lingkungan bernilai konstan, konsentrasi racun kemudian diserap oleh populasi phytoplankton sehingga menyebabkan populasi phytoplanton menurun.
Pada jurnal kedua, membahas tentang komposisi jenis dan tingkat trofik diperairan kabupaten Maluku. Plankton merupakan organisme kecil yang hidup diair dengan pergerakan yang sangat terbatas. Planton terbagi menjadi 2 yaitu plankton hewani ( phytoplankton ) dan plankton hewani ( zooplankton ). Fitoplankton merupakan mahluk hidup yang memiliki peran penting dalam ekosistem yaitu sebagai produsen pertama pada jaring makanan yang dapat berfotosintesis , juga dapat dijadikan indikator kesuburan perairan. Tingkatan trofik menggambarkan tahapan transfer material atau energi dari seiap tingkat atau kelompok berikutnya yang dimulai dengan produsen primer, konsumen primer (herbivora), sekunder, tersier dan predator puncak, pada dasarnya tingkat trofik merupakan urutan tingkat pemanfaatan pakan atau material dan energi seperti tergambarkan rantai makanan (food chain). Hasil tangkapan selama penelitian berjumlah 1.356 ekor terdiri dari 3 spesies yaitu ikan layang, ikan lemuru, dan ikan selar. Tingkat trofik hasil tangkapan ikan dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi. Faktor persaingan memperoleh makanan dapat menjadi suatu faktor yang mempengaruhi keberadaan makanan dalam lambung ikan. Hasil perhitungan indeks propenden menujukan bahwa ikan layang, lemuru,dan selar memiliki makanan utama berupa crustacea dan makanan pelengkapnya berupa hancuran karang, sisik dan duri ikan. Sedangkan ada makanan tambahannya yaitu hancuran ikan dan bivalvia. Berdasarkan tingkat trofik pada umumnya ikan didaerah penelitian ini bersifat omnivora yang cenderung memakan zooplankton.
Pada jurnal ke 3, tentang padang lamun sebagai ekosistem penunjang kehidupan biota laut di Kepulauan Seribu. Padang lamun berperan penting karena memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah asuhan, daerah pemijahan, daerah mencari makan dan daerah perlindungan bagi biota laut seperti ikan crustacea , moluska, echinodermata dan sebagainya. Sebagian besar ikan menjadikan lamun sebagai sumber pencari makanan karena lamun mengandung detrius yang menyediakan nutrien. Ada juga hewan herbivora yang mengkonsumsi lamun sebagai sumber makanannya yaitu penyu hijau dan duyung atau dugong. Lamun juga sebagai tempat berburu mangsa bagi ikan ikan karnivora karena didalam lamun yakni berupa ikan – ikan seperti kepiting, teripang dan lain-lain untuk dimangsa ikan – ikan karnivora. Lamun merupakan salah satu tumbuhan laut yang memiliki klorofil untuk berfotosintesis sehingga dapat memproduksi makanan yang diperlukan oleh biota laut seperti ada ikan baronang, bulu babi, penyu.dan lain-lain. Rantai makanan pada lamun juga terbagi menjadi 2 yaitu ; rantai makanan rerumputan (grazing food chain) dimulai dari tumbuhan hijau sebagai produsen seperti tumbuhan lamun lalu daunnya dimakan oleh konsumen tingkat pertama yaitu dugong, penyu ikan baronang dan bulu babi, kemudian konsumen tingkat pertama ini dimakan oleh predator, kecuali bulu babi. Bulu babi itu sendiri dimakan oleh ikan buntal sebagai konsumen tingkat kedua. Rantai makanan detritus (detritus food chain). Rantai makanan ini diawali oleh sisa-sisa organisme mati (detritus), organisme yang memakan detritus disebut detrivora. Pada rantai makanan detritus ini dimulai saat guguran daun dari lamun yang telah dimakan oleh konsumen tingkat satu (epifit) sebagai nutrien yang diurai oleh bakteri – kemudian detritus dimakan oleh cacing, udang dan kepiting sebagai konsumen pertama – Setelah itu dimakan oleh ikan sedang sebagi konsumen tingkat dua – Konsumen tingkat dua pun dimakan oleh ikan besar, ikan hiu dan burung laut sebagai predator yang menduduki tingkat trofik paling tinggi. Saat predator tersebut mati maka jasadnya akan diurai oleh bakteri sebagai detrivitor agar dikonsumsi kembali oleh konsumen pertama pertama dan seterusnya.
Dari ketiga jurnal ini mempunyai kesamaan yang dapat ditarik kesimpulan bahwa jaring makanan diaquatik dapat dimulai dari lamun yaitu sumber energi utama pada ekosistem padang lamun adalah cahaya matahari. Cahaya tersebut digunakan oleh lamun dan fitoplankton sebagai produsen untuk berfotosintesis. Setelah itu rantai makanan tersebut dibagi dalam 2 bagian, yaitu rantai makanan detritus dan rantai makanan merumput. Pada rantai makanan rerumputan, sumber nutriennya secara langsung adalah tumbuhan lamun itu sendiri yang daunnya dimakan oleh konsumen tingkat pertama yaitu dugong, penyu, ikan beronang dan bulu babi. kemudian konsumen tingkat pertama ini dimakan oleh predator kecuali bulu babi, bulu babi itu sendiri dimakan oleh ikan buntal sebagai konsumen kedua. Aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab dapat merusak ekosistem padang lamun dan hal itu pun dapat merusak rantai makanan yang terjadi didalamnya. Jika saja terjadi kerusakan tingkatan trofik atau produsen akan memutuskan rantai makanan dan keseimbangannya terganggu. Maka dari itu kita sebagai manusia harus merawat dan menjaga kelestarian ekosistem yang berada di laut seperti ekosistem lamun, terumbu karang dan mangrove.
Sedangkan pada rantai makanan detritus, guguran daun sebagai sumber nutrient yang diurai oleh bakteri, kemudian detritus itu dimakan oleh cacing, udang dan kepiting yang sebagai konsumen pertama. Setelah itu hewan-hewan tersebut dimakan oleh ikan sedang sebagai konsumen tingkat dua. Konsumen tingkat kedua pun dimakan oleh ikan besar. Ikan hiu dan burung laut sebagai predator yang menduduki tingkatan trofik paling tinggi memakan konsumen tingkat dua dan ikan besar sebagai konsumen tingkat tiga. Saat predator tersebut mati dan jasadnya akan diurai oleh bakteri sebagai detrivor yang menguraikan materi dari bangkai predator tersebut, agar detrivor itu akan dikonsumsi kembali oleh konsumen pertama dan begitulah seterusnya.Guguran daun tidak semua menjadi detritus, karena ada juga sebagian yang menjadi bahan organik terlarut dan bahan organik tersebut akan dimanfaatkan oleh fitoplankton yang sebagai produsen. Produsen tersebut akan dikonsumsi oleh zooplankton yang sebagai konsumen pertama. Setelah itu zooplankton tersebut akan dimakan oleh ikan kecil yang sebagai konsumen tingkat dua. Ikan kecil ini akan kembali dimakan oleh ikan sedang dan pada akhirnya transport energi dan materi akan masuk kedalam rantai makanan detritus.