Pada jurnal Creating new littoral zones in a shallow lake to forward-restore an aquatic food web, membahas bagaimana cara menciptakan zona pesisir baru di danau dangkal untuk memulihkan jaring makanan. Hilangnya habitat seperti zona litoral di ekosistem air tawar memiliki dampak negatif terhadap keanekaragaman hayati global. Restorasi habitat yang inovatif dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini. Habitat pesisir memiliki peran penting dalam siklus hidup banyak spesies. Misalnya, fitoplankton dan vegetasi pada tingkat trofik yang lebih rendah dapat memanfaatkan air dangkal yang hangat untuk tempat berlindung dan nutrisi. Vegetasi ini juga memberikan tempat berlindung, makanan, dan struktur bagi konsumen seperti zooplankton dan makroinvertebrata. Zona litoral juga penting sebagai tempat pemijahan dan pembibitan ikan muda karena memberikan perlindungan dari predator, angin, ombak, dan sumber makanan yang cukup. Namun, data kuantitatif yang memadai tentang pentingnya mempertahankan kondisi abiotik di zona litoral masih terbatas. Meskipun demikian, keputusan untuk menginvestasikan dalam membangun zona lindung selama proyek restorasi membutuhkan prediksi kuantitatif tentang manfaat bagi komunitas ikan. Sebuah studi di Danau Markermeer di Belanda menunjukkan dampak positif dari restorasi habitat seluas 1000 hektar terhadap keanekaragaman spesies air. Meskipun danau ini adalah sebelumnya muara, restorasi habitat telah menciptakan lebih banyak jaring makanan bagi spesies air.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons lokal jaring-jaring makanan akuatik terhadap habitat pesisir baru dengan berbagai jenis sedimen. Harapannya, habitat baru ini dapat menjadi tempat perlindungan yang lebih baik dan kaya nutrisi. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi peran habitat ini sebagai tempat pembibitan dan mencari makan bagi ikan-ikan muda. Kepulauan Marker Wadden adalah sistem studi yang dibangun di danau Markermeer di Belanda. Sistem ini terdiri dari lima pulau yang dibangun dengan menggunakan bahan bangunan lokal. Sampel diambil dari 18 lokasi yang berbeda selama bulan Mei hingga Agustus. Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi keanekaragaman dan kelimpahan organisme di perairan dan tumpukan sedimen di 18 lokasi yang berbeda. Parameter biotik yang dianalisis meliputi produsen primer, zooplankton, makroinvertebrata, dan ikan. Terdapat tiga tipe garis pantai yang dapat dibedakan berdasarkan variasi abiotik yang meliputi jenis sedimen, paparan gelombang, dan kandungan nutrisi.
Tumbuhan hanya tumbuh di garis pantai yang terlindung dengan tanah liat dan pasir, tidak di garis pantai pasir terbuka. Kepadatan dan komposisi zooplankton serupa di semua jenis garis pantai, tetapi menunjukkan pola musiman yang jelas. Kepadatan Cladocera tertinggi pada bulan Mei, dengan penurunan di bulan Juni dan Juli di semua jenis garis pantai. Kepadatan Copepoda lebih tinggi di garis pantai pasir terbuka dan kepadatan Rotifera meningkat secara signifikan pada bulan Juni. Kepadatan makroinvertebrata tertinggi di tanah liat yang terlindung, lebih rendah di garis pantai pasir terbuka, dan tidak ada perbedaan di pasir terlindung. Kelimpahan ikan muda juga mengalami perubahan sepanjang musim, dengan perkiraan kelimpahan yang awalnya meningkat pada bulan Mei dan kemudian menurun 10 kali lipat pada bulan Agustus. Selama musim ini, kelimpahan ikan muda secara signifikan berbeda di antara tiga jenis garis pantai, dengan kelimpahan yang lebih rendah di garis pantai yang terbuka dibandingkan dengan pasir yang terlindung. Kelimpahan ini meningkat hingga 10 kali lipat lebih tinggi di dua jenis habitat terlindung, terutama pada bulan Juni.
Penelitian ini menunjukkan bagaimana menciptakan transisi darat-perairan yang terlindung dapat meningkatkan habitat pesisir dengan kelimpahan spesies dan komunitas yang tinggi. Pendekatan restorasi tradisional terkendala, namun pendekatan yang dimodifikasi membuka potensi restorasi ekosistem yang terdegradasi di seluruh dunia. Jaring makanan akuatik merespons penciptaan habitat pesisir baru dengan pembentukan vegetasi. Sedimen halus bekas laut cocok untuk pembentukan vegetasi, tetapi tidak menjamin pembentukan yang cepat.
Kesimpulannya Restorasi danau dangkal dengan menambahkan zona pesisir secara bertahap dapat membentuk habitat baru yang produktif secara lokal. Penerapan sedimen kaya nutrisi untuk membangun garis pantai yang terlindung lebih baik bagi ikan muda. Pendekatan restorasi berwawasan ke depan dapat meningkatkan integritas ekosistem di tengah degradasi global.
Pada jurnal Ecological network-based food web dynamic model provides an aquatic population restoration strategy, menjelaskan mengenai
Model dinamis jaring makanan berbasis jaringan ekologi menyediakan strategi restorasi populasi perairan mengkaji jaring-jaring makanan dengan menganalisis jenis simpul spesies, hubungan, dan interaksi mangsa-pemangsa. Ditemukan bahwa reproduksi spesies non-native dan penurunan populasi spesies asli terkait dengan interaksi rantai makanan. Pendekatan penangkapan ikan efektif dalam menghilangkan spesies asing dengan frekuensi lebih pendek, sementara pendekatan peningkatan stok meningkatkan jumlah spesies asli, tetapi sulit untuk mengurangi populasi spesies non-native.
Restorasi ekologi adalah praktik penting dalam pengelolaan ekosistem. Restorasi bertujuan membangun kembali kondisi sebelum intervensi manusia, seperti ekstraksi sumber daya, melalui perubahan struktur, fungsi, keanekaragaman, dan proses sistem yang terdegradasi. Restorasi ekosistem perairan melibatkan regenerasi populasi, rekonstruksi keanekaragaman hayati, dan rekonfigurasi habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan dinamika jaring makanan dan karakteristik habitat perairan dalam pendekatan restorasi ekosistem akuatik. Penelitian ini akan memberikan model yang berguna untuk pengelolaan ekosistem akuatik.
Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan Danau Changhai sebagai studi kasus untuk membuat dan memverifikasi model dinamis jaring-jaring makanan serta melakukan restorasi ekologi perairan. Dalam model ini, terdapat 9 jenis simpul spesies dan 12 mata rantai, termasuk 1 interaksi mangsa-pemangsa yang tidak pasti. Setelah melakukan verifikasi dan analisis sensitivitas, para peneliti meningkatkan keandalan dan ketahanan model dinamis jaring-jaring makanan tersebut. Hasil simulasi model menunjukkan tingkat korelasi yang tinggi dengan data terukur dan efek fitting yang memuaskan.
Melalui analisis sensitivitas, para peneliti menemukan bahwa beberapa simpul ikan yang dimodelkan, seperti spesies A, N, W, F, dan J, sangat sensitif terhadap laju metabolisme pernapasan (ki). Selanjutnya, melalui analisis prediksi hubungan, para peneliti menemukan bahwa tidak ada hubungan mangsa-pemangsa antara spesies A dan N, yang ditunjukkan oleh dinamika populasi yang sama dalam 3 kondisi yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa reproduksi massal ikan bandeng Neosalanx tangkahkeii taihuensis (N), yang bukan spesies asli, serta penurunan populasi spesies asli (A, W), keduanya terkait dengan interaksi rantai makanan secara tidak langsung.
Akhirnya, para peneliti melakukan simulasi pada 27 skenario, termasuk pendekatan penangkapan ikan dan peningkatan stok, untuk memprediksi efek restorasi. Dalam pendekatan penangkapan ikan, mereka menemukan bahwa penangkapan perlu diatur secara hati-hati agar tidak menyebabkan penurunan populasi yang berlebihan. Selain itu, peningkatan stok juga terbukti efektif dalam memulihkan jaring-jaring makanan. Namun, diperlukan pendekatan yang berkelanjutan dan terpadu untuk mencapai restorasi yang berhasil. Penelitian ini memberikan informasi yang berharga dalam memahami dinamika jaring-jaring makanan dan memberikan wawasan untuk melakukan restorasi ekologi perairan. Temuan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan strategi pemulihan yang efektif dan berkelanjutan dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Jurnal Microplastics impact simple aquatic food web dynamics through reduced zooplankton feeding and potentially releasing algae from consumer control, membahas mengenai dampak mikroplastik pada dinamika jaring makanan akuatik yang sederhana melalui berkurangnya jumlah makanan dari zooplankton dan berpotensi melepaskan alga dari kendali konsumen membahas mengenai Konsentrasi mikroplastik di lingkungan akuatik terus meningkat karena industri dan polusi. Namun, masih ada banyak yang belum diketahui tentang efek mikroplastik terhadap ekosistem, terutama dalam interaksi biotik dan dinamika rantai makanan. Dalam penelitian ini, efek mikroplastik pada dua spesies zooplankton kerak air tawar, yaitu Daphnia dentinosa dan Arctodiaptomus dorsalis, telah dieksplorasi. Kedua spesies ini terpapar dengan konsentrasi mikroplastik yang berbeda, mangsa fitoplankton, dan isyarat predator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa . dentinosa lebih banyak menyerap mikroplastik, tetapi kedua spesies mengalami penurunan konsumsi alga pada konsentrasi mikroplastik yang tinggi. Konsentrasi klorofil-a di air juga lebih tinggi pada perlakuan konsentrasi mikroplastik yang tinggi. Terakhir, efek predator hanya terlihat pada D. dentinosa, di mana adanya predator meningkatkan penyerapan mikroplastik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mikroplastik dapat memiliki dampak negatif pada kemampuan zooplankton dalam mengkonsumsi alga dan dapat mempengaruhi rantai makanan.
Penelitian ini melihat pengaruh konsentrasi mikroplastik pada dua spesies zooplankton yang terpapar dengan isyarat predator, yang mensimulasikan jaring makanan air tawar sederhana. Temuan penelitian ini adalah bahwa perbedaan dalam frekuensi partikel plastik per milliliter (PPM) terjadi antara dua spesies zooplankton, dimana D. dentifera menyerap PPM yang lebih tinggi dibandingkan dengan A. dorsalis. Kedua spesies zooplankton menunjukkan respons yang lebih rendah terhadap konsentrasi mikroplastik yang tinggi dengan mengkonsumsi alga yang lebih sedikit. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa konsentrasi mikroplastik yang tinggi dapat mengganggu kemampuan zooplankton untuk memakan alga dan berpotensi melepaskan alga dari kontrol konsumen. Namun, penelitian ini hanya menemukan pengaruh kecil dari isyarat predator terhadap interaksi antara alga dan zooplankton. Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi mikroplastik yang tinggi dapat memiliki dampak negatif pada kemampuan zooplankton dalam memakan alga, namun efek isyarat predator terhadap interaksi alga-zooplankton terbatas.
Pada percobaan ini, dilakukan penelitian tentang pengaruh mikroplastik terhadap klorofil-a pada Scenedesmus sp. Klorofil-a digunakan sebagai indikator ukuran biomassa alga dan potensi fotosintesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam konsentrasi klorofil-a antara kelompok yang terpapar mikroplastik dengan kelompok kontrol lingkungan (tanpa mikroplastik). Konsentrasi klorofil-a meningkat pada Scenedesmus sp. yang terpapar konsentrasi mikroplastik tinggi. Kadar klorofil-a tertinggi terdapat pada kelompok yang terpapar mikroplastik tinggi, dan secara signifikan lebih tinggi daripada semua kelompok kontrol dan kelompok lain yang terpapar mikroplastik. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam konsentrasi klorofil-a antara kelompok yang terpapar mikroplastik rendah atau sedang dan kelompok kontrol. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a meningkat dalam waktu 24 jam pada semua kelompok percobaan, termasuk kelompok kontrol.
Daftar pustka Malinowski ,C.R., Catherine, L. S., James, S. , Tomas, O. H. 2023. Microplastics impact simple aquatic food web dynamics through reduced
zooplankton feeding and potentially releasing algae from consumer control. Science of the Total Environment , 904 ,166691.
Van Leeuwen , C.H.A., J.J. de Leeuw , J.J., Volwater , J.J.J., van Keeken , O.A., Jin , H., Drost , A.M., Waasdorp, D., Reichman , E., Ursem, L., & Bakker,
E.S. 2023.Creating new littoral zones in a shallow lake to forward-restore an aquatic food web. Science of the Total Environment, 904, 166768.
Xu, Y., Xumeng, H., Shu, H., Fei, H., Yanpeng, C., & Jianfeng, P. 2023. Ecologicalnetwork-based food web dynamic model provides an aquatic population
restoration strategy. Ecological Indicators ,154, 110735.