Review jurnal ” Produktivitas Primer Perairan Kolong Bekas Tambang Bauksit di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau”
Kelompok 5 Kelas 3B
- Feni Tria Trianti (2224220054)
- Chyntia Widyastuti (2224220057)
- Jum Azizah (2224220058)
- Melviana Dwi Juliyanti (2224220092)
Judul Artikel : Produktivitas Primer Perairan Kolong Bekas Tambang Bauksit di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau
Penulis : Tri Apriadi, Risandi Dwirama Putra, dan Fadhliyah Idris
Tahun : 2019
Nama jurnal : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, 4(2), 113-121.
Tujuan : Mengetahui nilai parameter fisika-kimia, kelimpahan fitoplankton, indeks biologi biota, serta produktivitas primer perairan bekas galian bauksit Senggarang, Kota Tanjungpinang.
- Latar belakang
Pulau Bintan, kawasan penangkapan ikan komersial di Indonesia, menghadapi tantangan dalam penangkapan ikan komersial karena polusi udara yang tinggi, terutama di daerah timah dan pasir, dan adanya gelombang besar. Kolong perairan baru yang terbentuk memiliki struktur komunitas fitoplankton yang belum stabil, dengan kelimpahan, keanekaragaman, dan keseragaman yang rendah serta dominasi sedang. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan nutrisi. Terdapat makrofita pionir berupa purun yang ditemukan di beberapa kolong bauksit di Pulau Bintan. Meski memiliki potensi besar untuk dikembangkan, kolong bauksit ini belum dimanfaatkan secara optimal dalam sektor perikanan. Beberapa penelitian telah dilakukan, antara lain analisis logam berat dan mineral sedimen, keanekaragaman fitoplankton, dan mikroalga epifit.
Produktivitas primer perairan sangat penting dalam pengelolaan ekosistem akuatik, termasuk ekosistem baru seperti lubang tambang bauksit. Namun, belum ada laporan mengenai produktivitas primer di pit bauksit Pulau Bintan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui parameter fisika-kimia, kelimpahan fitoplankton, indeks biologi biota, dan produktivitas primer perairan bekas galian bauksit di Senggarang, Kota Tanjungpinang. Penelitian ini memberikan informasi dasar yang penting, karena belum ada penelitian serupa di lubang bekas galian bauksit di Pulau Bintan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan potensi pemanfaatan lubang tambang bauksit di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
- Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Agustus 2018, dengan pengumpulan data dari tiga lokasi di Senggarang, Tanjungpinang, Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, dengan analisis fitoplankton dan analisis nutrien yang dilakukan di Universitas Maritim Raja Ali Haji.
Lokasi penelitian di perairan kolong tambang bauksit di Senggarang, Kota Tanjungpinang, Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Pengambilan sampel dilakukan pada dua kolam bekas penambangan bauksit (kolong) di Senggarang, Kota Tanjungpinang, Pulau Bintan. Kolong pertama (stasiun 1) memiliki luasan 6.777,19 m2, sedangkan luasan kolong kedua (stasiun 2) yaitu 11.314,06 m2. Luasan sebaran purun di stasiun 2 yaitu 10.268,72 m2 (91% dari luasan kolong) sedangkan di stasiun 1 hanya 1.567,06 m2 (23% dari luasan kolong). Stasiun 1 terdiri atas tiga titik sampling, dan stasiun 2 sebanyak enam titik sampling. Pengukuran parameter insitu perairan pH, suhu, DO (menggunakan multitester), kecerahan (menggunakan secchi disc), serta pengambilan sampel air dilakukan pada pukul 09.00-14.00 WIB. Sampel air untuk keperluan analisis nutrien (NH3- ,NO2-, NO3-, total fosfat) diambil dengan mempergunakan Vandorn water sampler pada kolom air, kemudian diawetkan dengan H2SO4 hingga pH<2 dan didinginkan pada suhu 4ºC . Sampel fitoplankton diambil sebanyak 100 L dengan mempergunakan plankton net nomor 25 (ukuran 40 µm) pada kedalaman eufotik (berdasarkan hasil pengukuran kecerahan dengan mempergunakan secchi disc). Fitoplankton diawetkan dengan lugol 10% (Pottasium Iodida/KI, kristal iodine, serta asam asetat sebagai pengawet) untuk selanjutnya dianalisis di laboratorium. Untuk pengukuran produktivitas primer perairan, botol gelap-terang diletakkan pada kedalaman eufotik untuk inkubasi selama 2 jam, dan kemudian diukur kandungan oksigennya menggunakan metode Winkler.
- Hasil dan Pembahasan
Kelimpahan Fitoplankton Berdasarkan hasil identifikasi, pada bekas galian bauksit di Senggarang ditemukan tiga divisi fitoplankton yang terdiri dari tiga kelas dan delapan genera. Indeks Ekologi Fitoplankton Indeks keanekaragaman pada kedua stasiun tergolong rendah, mengindikasikan bahwa jumlah spesies fitoplankton yang terdapat di kolam pengendapan limbah tailing bauksit tersebut sedikit. Indeks keseragaman stasiun 1 dan stasiun 2 tergolong rendah dengan nilai yang mendekati 0, sedangkan indeks dominansi tergolong tinggi. Produktivitas Primer Laju respirasi, NPP, dan GPP berdasarkan oksigen terlarut di perairan pada stasiun 2 lebih besar dari stasiun 1. Laju produksi karbon (NPP) oleh fitoplankton di stasiun 2 (1,23 mgC/L/hari) lebih tinggi dibandingkan stasiun 1 (0,25 mgC/L/hari).
Sebagai ekosistem yang baru terbentuk, kestabilan ekologis (parameter fisika-kimia perairan, serta biologi) di perairan kolong bauksit dipengaruhi oleh durasi penggenangan. Dalam proses penambangan bauksit, proses pencucian terhadap tanah bagian atas (topsoil) menyebabkan tailing bauksit sedikit mengandung tanah, dan didominasi oleh batu kerikil dan pasir. Tekstur kerikil dan pasir hanya sedikit dapat menahan air. Hal ini dapat menyebabkan penurunan pH H2O dan pH KCl yang terdapat di tailing bauksitsir. Tekstur kerikil dan pasir hanya sedikit dapat menahan air. Hal ini dapat menyebabkan penurunan pH H2O dan pH KCl yang terdapat di tailing bauksit.
Besi (Fe) merupakan logam yang memiliki konsentrasi tertinggi pada limbah tailing bauksit di Pulau Bintan yaitu 0,14-0,74 mg/L di daerah Wacopek dan 0,61-1,45 mg/L di Sei Carang.Tingginya konsentrasi besi oksida menyebabkan warna merah pada limbah tailing bauksit (red mud).Nilai pH pada tailing/red mud bauksit tergolong rendah yaitu berkisar antara 4,08 – 4,72.Amonia di perairan umumnya berasal dari penguraian bahan organik yang mengandung nitrogen. Di perairan lubang tambang bauksit, sumber bahan organiknya adalah fitoplankton dan serasah tanaman air pionir. Fosfor umumnya menjadi faktor pembatas di air tawar, namun fitoplankton di air tawar lebih responsif terhadap nitrogen dan fosfor, sementara ganggang bentik lebih dibatasi oleh fosfor. Meski konsentrasi oksigen terlarut tinggi di kedua lokasi penelitian, amonia segera teroksidasi menjadi nitrat melalui proses nitrifikasi. Hal ini terlihat dari tingginya kandungan nitrat di perairan lubang tambang bauksit.
Kondisi yang lebih baik di stasiun 2 membuat kelimpahan fitoplankton lebih tinggi dibandingkan stasiun 1, terutama karena Eleocharis sp. yang tumbuh di tepi perairan. Mougeotia sp. mendominasi di kedua stasiun karena habitat yang cocok dan toleransi terhadap kondisi asam dan suhu air hangat. Kekurangan fitoplankton di perairan diduga karena ekologi perairan tidak mendukung, hanya jenis tertentu yang dapat bertahan. Cekungan tersebut baru terbentuk dalam kurun waktu 5 tahun dan jumlah individu setiap spesies fitoplankton tidak seimbang. Mougeotia sp. mendominasi dan kondisi tersebut menunjukkan tekanan dari lingkungan. Perubahan dominansi fitoplankton terjadi sebagai respons terhadap perubahan lingkungan yang terjadi secara periodik di danau dan rawa.
Fitoplankton memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas primer dan oksigen terlarut dalam air. Dalam studi ini, ditemukan bahwa stasiun 2 memiliki kelimpahan fitoplankton yang lebih tinggi daripada stasiun 1, dan hal ini diduga menjadi penyebab tingginya nilai NPP dan GPP. Semakin tinggi kelimpahan fitoplankton, semakin tinggi pula produksi oksigen yang dikeluarkan, sehingga NPP dan GPP juga meningkat. Namun, jika dilihat lebih lanjut, nilai respirasi pada kedua stasiun terbukti lebih tinggi daripada NPP. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas fotosintesis fitoplankton masih rendah, sehingga produktivitas primer juga rendah. Fenomena ini menggambarkan bahwa perairan pit bauksit belum mampu mencapai produktivitas primer yang optimal. Hasil penelitian ini juga menyimpulkan bahwa perairan bekas galian bauksit memiliki tingkat kesuburan yang rendah (oligotrofik) dan laju respirasi yang lebih tinggi daripada laju produksi.
- Kesimpulan
Parameter fisika dan kimia perairan yang diukur pada bekas galian bauksit di Senggarang< Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau masih memenuhi baku mutu untuk kegiatan perikanan. Perairan bekas galian bauksit di Senggarang memiliki tiga divisi fitoplankton yang terdiri dari tiga kelas dan delapan genera. Mougeotia sp. merupakan jenis fitoplankton yang dominan. Perairan bekas galian bauksit di Senggarang tergolong labil dan komunitas fitoplankton dalam kondisi tertekan akibat adanya dominasi spesies. Bekas galian bauksit memiliki produktivitas primer yang rendah dengan tingkat kesuburan rendah (oligotrofik).
- Daftar pustaka
Apriadi, T., Risandi, D.P., & Fadhliyah, I. (2019). Produktivitas Primer Perairan Kolong Bekas Tambang Bauksit di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau . Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, 4(2):113-121
Assalamualaikum wr.wb
Kami dari kelompok 6 yang beranggotakan
– Rahma Hayati (2224220019)
– Fitriyanti Luthfiyyah (2224220020)
– Siti Hujatilah (2224220049)
– Nadya Apriliyani (2224220099)
Izin menyampaikan tanggapan dan kritikan terhadap jurnal yang direview oleh kelompok 5 (Produktivitas Primer Perairan Kolong Bekas Tambang Bauksit di Kota Tanjungpinang,Kepulauan Riau)
Berdasarkan hasil review jurnal tersebut, menurut kelompok kami terdapat beberapa hal kurang dijelaskan terutama terkait:
1. Metode Winkler yang digunakan untuk pengukuran produktivitas primer perairan
2. Di latar belakang disebutin salah tujuan penelitiannya yaitu mengetahui parameter fisika-kimia tetapi di bagian pembahasan tidak menjelaskan terkait parameter fisika-kimia yang di dapatkan dari penelitian
3. Dalam hasil review tidak dipaparkan teori analisis data yang digunakan dalam penelitian
Assalamualaikum wr.wb
Kami dari kelompok 6 yang beranggotakan
– Rahma Hayati (2224220019)
– Fitriyanti Luthfiyyah (2224220020)
– Siti Hujatilah (2224220049)
– Nadya Apriliyani (2224220099)
Izin menyampaikan tanggapan dan kritikan terhadap jurnal yang direview oleh kelompok 5 (Produktivitas Primer Perairan Kolong Bekas Tambang Bauksit di Kota Tanjungpinang,Kepulauan Riau)
Berdasarkan hasil review jurnal tersebut, menurut kelompok kami terdapat beberapa hal kurang dijelaskan terutama terkait:
1. Metode Winkler yang digunakan untuk pengukuran produktivitas primer perairan
2. Di latar belakang itu disebutin salah tujuan penelitiannya itu mengetahui parameter fisika-kimia tetapi di bagian pembahasan tidak menjelaskan terkait parameter fisika-kimia yang di dapatkan dari penelitian
3. Dalam hasil review tidak dipaparkan teori analisis data yang digunakan dalam penelitian
4. Pada hasil review tidak disebutkan kelimpahan fitoplankton apa saja yang terdapat di stasiun 1 dan 2 yang terdapat di kolong penambangan bauksit Senggarang, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau
Baik izi menjawab :
1. Untuk metode winkler didalam artikel ilmiah yang kami analisis tidak dijelaskan secara rinci hanya saja metode winkler ini dalam artikel yang kami analisis digunakan untuk pengukuran produktivitas primer perairan. Namun dari sumber lain menjelaskan bahwa Prinsip metode Winkler adalah oksigen didalam sampel akan mengoksidasi MnSO4 yang ditambahkan ke dalam larutan pada keadaan alkalis,
sehingga terjadi endapan MnO2. Penambahan asam sulfat dan kalium iodida menyebabkan dibebaskannya iodin yang ekuivalen dengan oksigen terlarut. Iodin yang dibebaskan tersebut
kemudian dianalisis dengan metode titrasi iodometri dengan larutan standard tiosulfat dan
indikator kanji. Kelebihan metode Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut (DO) adalah lebih
mudah karena hanya dilakukan cara titrasi, lebih teliti dan akurat apabila dibandingkan dengan cara alat DO-meter ( Septiawan et al., 2014).
2. hasil Hasil pengukuran terhadap beberapa parameter fisika dan kimia perairan di bekas galian bauksit pada lokasi studi memberikan indikasi bahwa secara umum parameter fisika dan kimia perairan masih memenuhi baku mutu untuk peruntukan kegiatan budidaya air tawar . Namun demikian, nilai pH di perairan kolong bauksit ini tergolong asam, pH sangat rendah serta nilai amonia (NH3-) sedikit melebihi ambang batas baku mutu yang dipersyaratkan.
3. Teori analisis data yang digunakan
a. Produktivitas Primer Perairan
Berdasarkan metode botol gelap terang, maka akan diperoleh konsentrasi oksigen pada botol inisial (I), botol gelap (D), serta botol terang (L). Produktivitas primer perairan dihitung dengan rumus Wetzel dan Likens.
b. Kelimpahan fitoplankton
Fitoplankton diamati menggunakan metode sensus dengan bantuan mikroskop dan sedgewick rafter counting chamber (SRC). Identifikasi fitoplankton menggunakan buku identifikasi plankton Illustrations of the Freshwater Plankton of Japan (Mizuno, 1979) dan The Marine and Fresh-water Plankton (Davis, 1955).
c. Indeks Keanekaragaman (𝑯), Indeks keanekaragaman dihitung menggunakan rumus Indeks Shannon-Wiener.
d. Indeks Keseragaman
Indeks keseragaman digunakan untuk melihat tingkat kemerataan jenis dalam suatu komunitas. Indeks keseragaman dihitung menggunakan rumus Indeks Evenness.
e. Indeks Dominansi dihitung menggunakan rumus Indeks Simpson.
4. jenis fitoplankton yang didapatkan pada stasiun 1 dan dua sama, hanya saja pada stasiun 2 kelimpahan fitoplanktonnya lebih tinggi.
a. Rhizosolenia sp
stasiun 1 : 41.07
stasiun 2 : 7,736.07
b. Navicula sp.
stasiun 1 : 19.15
stasiun 2 : 17.56
c. Nitzchia sp.
stasiun 1 : 41.71
stasiun 2 : 24.49
d. Istmia sp.
stasiun 1 : 188.24
stasiun 2 : 69,762.54
e. Mougeotia sp.
stasiun 1 : 9,082.06
stasiun 2 : 2,518,508.49
f. Penium sp.
stasiun 1 : 130.29
stasiun 2 : 111,042.40
g. Melosira sp.
stasiun 1 : 21.17
stasiun 2 : 27.32
h. Ochromonas sp.
stasiun 1 : 15.11
stasiun 2 : 10.340,99
total kelimpahan fitoplankton
stasiun 1 : 9,538.81
stasiun 2 : 2,717,459.87