<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Community | Jahro Aprilia Putri | Activity</title>
	<link>https://upskills.id/community/members/jahroapriliaputri/activity/</link>
	<atom:link href="https://upskills.id/community/members/jahroapriliaputri/activity/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<description>Activity feed for Jahro Aprilia Putri.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 01 May 2026 05:05:48 +0700</lastBuildDate>
	<generator>https://buddypress.org/?v=</generator>
	<language>en-US</language>
	<ttl>30</ttl>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>2</sy:updateFrequency>
	
						<item>
				<guid isPermaLink="false">017d15cfed82a4f1a92088b7af269092</guid>
				<title>Nama : Riris Nurul Hafifah
NIM : 2224220078
Kelas : 3C

1. Judul jurnal : Dampak Pencemaran Mikroplastik di Ekosistem Laut terhadap Zooplankton : Review
 *Pendahuluan* 
Pencemaran yang bersumber dari mikroplastik menyebabkan kerusakan ekologi dan menjadi salah satu ancaman bagi ekosistem laut. Ukuran mikroplastik yang kecil mudah masuk dan terakumulasi pada organisme laut. Salah satu organisme yang dapat memakan mikroplastik yakni zooplankton. Mikroplastik yang termakan oleh zooplankton tidak hanya memberikan dampak pada zooplankton itu sendiri, tetapi juga terhadap ekosistem. 

 *Distribusi dan Degradasi Mikroplastik di Perairan* 
Distribusi mikroplastik di ekosistem laut dipengaruhi baik oleh faktor abiotik (faktor hidrodinamika laut) maupun faktor biotik. Mikroplastik tersebut tersebar pada kolom air, di sedimen dekat dengan pantai, dan di sedimen laut dalam. Proses degradasi makroplastik menjadi mikroplastik relatif lebih cepat terjadi di rawa asin, hanya memerlukan waktu 8 minggu untuk jenis-jenis polyetilen densitas tinggi, polypropylen, dan polystyren.

 *Proses Masuknya Mikroplastik pada Zooplankton* 
Mikroplastik masuk ke zooplankton secara tidak sengaja disebabkan sifat dari zooplankton dalam mencari makan yaitu dengan menyaring (filter feeding) lalu akan keluar melalui fesesnya dan proses masuknya 
berlangsung dalam hitungan jam.

 *Hasil dan pembahasan* 
1. Dampak Bagi Zooplankton 
Mikroplastik yang tertelan oleh zooplankton memberikan banyak dampak buruk dan dapat mengganggu sistem fisiologi tubuhnya. Beberapa peneliti melaporkan bahwa mikroplastik ini terbukti mengganggu fekunditas (reproduksi), kapasitas makan, mengganggu pencernaan, dampak lainnya yakni mempengaruhi feses yang dikeluarkan oleh zooplankton serta dapat memberikan efek akut dan kronis yang menyebabkan kematian.

2. Dampak Mikroplastik Di Zooplankton Terhadap Ekosistem Laut
Mikroplastik yang termakan oleh zooplankton juga berdampak pada ekosistem laut. Hal ini dikarenakan zooplankton memiliki peran penting dalam ekologi sebagai makanan utama bagi biota-biota karnivora kecil seperti larva udang, larva bivalvia, dan ikan-ikan kecil. Zooplankton yang memakan mikroplastik 
dapat termakan oleh udang kemudian udang akan dimakan oleh organisme lainnya. Sehingga sangat besar kemungkinannya terjadi transfer mikroplastik melalui rantai makanan bahkan bisa masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan tersebut.


2. Judul jurnal : Model Mangsa Pemangsa Antara Phytoplankton dan Zooplankton Dimana Phytoplankton Berada di Lingkungan Yang Beracun Pada Ekosistem Lautan 
 *Pendahuluan* 
     Makhluk hidup bersel satu dari jenis plankton dapat diketahui bentuk kompetisinya dan dinamika model mangsa-pemangsa dari rantai makanan phytoplankton dan zooplankton. Organisme yang memakan organisme lain dinamakan predator atau pemangsa (zooplankton), sedangkan yang dimakannya disebut mangsa (phytoplankton). Rantai makanan yang terjadi pada ekosistem laut berupa phytoplankton sebagai produsen primer dianggap sebagai tingkat trofik I, zooplankton pemakan phytoplankton sebagai tingkat trofik II, karnivor pemakan zooplankton sebagai tingkat trofik III, dan seterusnya.
     Proses pertumbuhan phytoplankton dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi, sedangkan zooplankton merupakan predator tingkat tinggi yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh ketersediaan phytoplankton. 
Selanjutnya dari phytoplankton dan zooplankton akan terjadi kematian secara alami yang akan menjadi decomposer. Dekomposer adalah pengurai jasad makhluk hidup yang telah mati. Dekomposer akan mengurai bangkai atau sisa-sisa makhluk hidup menjadi komponen yang lebih kecil lagi agar dapat digunakan kembali oleh phytoplankton sebagai sumber nutrisi untuk membuat makanan. Peranan dekomposer sangat penting di dalam menjaga keseimbangan rantai makanan di laut.

 *Hasil dan pembahasan* 
Lingkungan yang berpolusi dapat mengancam kehidupan makhluk hidup di sekitarnya. Populasi phytoplankton dapat menyerap racun dari lingkungan karena terjadi laju kontak antara keduanya. Kemudian populasi zooplankton dapat memangsa phytoplankton yang terinfeksi. Phytoplankton yang terinfeksi tidak akan menyebabkan kematian bagi zooplankton sehingga penurunan populasi zooplankton hanya bergantung pada kematian alami. Pemangsaan yang dilakukan oleh zooplankton terhadap phytoplankton menyebabkan pertumbuhan populasi zooplankton semakin tinggi. Sedangkan populasi phytoplankton mengalami penurunan karena terinfeksi oleh racun dari lingkungan dan di mangsa oleh zooplankton.


3. Judul jurnal : Fenomena Distribusi Zooplankton di Perairan Laut Makassar
 *Pendahuluan* 
     Salah satu komponen biotik yang menentukan kehidupan di laut yaitu plankton. Organisme ini merupakan mikroorganisme yang melayang-layang di perairan meliputi dua kelompok besar yaitu fitoplankton dan 
zooplankton. Fitoplankton merupakan plankton yang bersifat tumbuhan, sementara itu zooplankton adalah plankton yang bersifat hewani. Fitoplankton mampu berfotosintesis 
dan berperan sebagai produsen di lingkungan perairan, sedangkan zooplankton berperan 
sebagai konsumen pertama yang menghubungkan fitoplankton sebagai produsen dengan organisme yang lebih tinggi jenjang trofiknya.
     Zooplankton juga berperan sebagai bioindikator. Keanekaragaman zooplankton yang tinggi menyebabkan rantai makanan suatu perairan semakin kompleks. Kehidupan zooplankton akan sangat bergantung pada ciri spesifik dari lingkungan perairan tempatnya berkembang biak. Pertumbuhan zooplankton dipengaruhi oleh berbagai faktor oseanografi perairan seperti faktor fisika, kimia dan biologi di perairan. 

 *Hasil dan pembahasan* 
1. Parameter Oseanografi 
Berdasarkan pengamatan, fluktuasi suhu selama pengamatan berada pada kisaran 30-32°C.  Suhu yang didapatkan masih sesuai dengan kisaran pertumbuhan dan perkembangan fitoplankton dan zooplankton. Pada pengukuran salinitas menunjukkan bahwa hasilnya relatif sama dan tidak berfluktuasi yaitu antara 30-32%. Salinitas seperti itu menyebabkan zooplankton dapat bertahan hidup dan memperbanyak diri. Pengukuran nilai pH juga memperlihatkan hasil berkisar antara 7,6-7,9 dan pH yang ideal untuk kehidupan zooplankton berkisar 6.5–8.0. Dari pengukuran nilai kekeruhan, hasil yang diperoleh berkisar antara 1.8- 3,56 NTU, dan dapat diartikan bahwa kekeruhan masih dalam kategori yang aman untuk pertumbuhan zooplankton.

2. Kepadatan Zooplankton 
Komposisi zooplankton terdeteksi sebanyak 19 jenis dari dua kelas yaitu Crustacea dan Chordata. Jenis dari kelas Crustacea lebih mendominasi sebab mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup jika dibandingkan dengan jenis lainnya seperti Chordata.


Daftar Pustaka
Mardiyana. &#038; Ari, K. (2020). Dampak Pencemaran Mikroplastik di Ekosistem Laut terhadap Zooplankton : Review. _Jurnal Pengendalian Lingkungan (JPPL),_ 2(1), 29-36. (JURNAL 1)

Muhtarulloh, F., Fuad, N. &#038; Herri, S. (2019). Model Mangsa Pemangsa Antara Phytoplankton dan Zooplankton Dimana Phytoplankton Berada di Lingkungan Yang Beracun Pada Ekosistem Lautan. _Jurnal Teorema : Teori dan Riset Matematika,_ 4(1), 31-40. (JURNAL 2)

Tambaru, R., Abdul, R. &#038; Faturahman. (2018). Fenomena Distribusi Zooplankton di Perairan Laut Makassar. _Jurnal Pengelola Perairan,_ 1(2), 1-9. (JURNAL 3)</title>
				<link>https://upskills.id/community/activity/p/981/</link>
				<pubDate>Sat, 02 Dec 2023 08:41:02 +0700</pubDate>

									<content:encoded><![CDATA[<div class="activity-inner"><p>Nama : Riris Nurul Hafifah<br />
NIM : 2224220078<br />
Kelas : 3C</p>
<p>1. Judul jurnal : Dampak Pencemaran Mikroplastik di Ekosistem Laut terhadap Zooplankton : Review<br />
 *Pendahuluan*<br />
Pencemaran yang bersumber dari mikroplastik menyebabkan kerusakan ekologi dan menjadi salah satu ancaman bagi ekosistem laut. Ukuran mikroplastik yang kecil mudah masuk dan&hellip;<span class="activity-read-more" id="activity-read-more-981"><a target="_blank" href="https://upskills.id/community/activity/p/981/" rel="nofollow ugc">Read More</a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
				
									<slash:comments>0</slash:comments>
				
							</item>
					<item>
				<guid isPermaLink="false">b71f9b969a7ae830566c0606747441dc</guid>
				<title>Nama	: Roiatul Jannah
NIM	: 2224220101
Kelas	: 3C
Mata Kuliah	: Tugas  Ekologi Umum
Hari, Tanggal	: Jum’at, 01 Desember 2023
Tema	: Jaring makanan di ekosistem Akuatik

1.	Jurnal Pertama Peran Ekosistem Hutan Mangrove Sebagai Habitat Untuk Organisme Laut
	Ekosistem mangrove merupakan ekosistem peralihan antara darat dan laut yang dikenal memiliki peran dan fungsi sangat besar. Secara ekologis mangrove memiliki fungsi yang sangat penting dalam memainkan peranan sebagai mata rantai makanan di suatu perairan, yang dapat menumpang kehidupan berbagai jenis ikan, udang dan moluska. Penyebaran fauna penghuni hutan mangrove memperlihatkan dua cara, yaitu penyebaran secara vertical dan secara horisontal. Penyebaran secara vertikal umumnya dilakukan oleh jenis fauna yang hidupnya menempel atau melekat pada, akar, cabang maupun batang pohon mangrove, misalnya jenis Liftorina scabra, Nerita albicilla, Menetaria annulus dan Melongena galeodes. Sedangkan penyebaran secara horizontal biasanya ditemukan pada jenis fauna yang hidup pada substrat, baik itu yang tergolong infauna, yaitu fauna yang hidup dalam lubang atau dalam substrat, maupun yang tergolong epifauna, yaitu fauna yang hidup bebas di atas substrat. Fauna moluska yang hidup sebagai penghuni hutan mangrove di Indonesia umumnya didominasi oleh Gastropoda, yaitu sekitar 61 jenis, sedangkan dari kelas Bivalvia hanya sekitar 9 jenis saja. Dari fauna Gastropoda penghuni mangrove yang memiliki penyebaran yang sangat luas adalah Littorina scabra, Terebralia palustris, T. sulcata dan Cerithium patalum. Sedangkan jenis yang memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan yang sangat ekstrim adalah Littorina scabra, Crassostrea cacullata dan Enigmonia aenigmatica. Gastropoda penghuni hutan mangrove tersebut beberapa diantaranya dapat dimanfaatkan untuk dikonsumsi masyarakat sekitar mangrove, antara lain adalah jenis Terebralia palustris dan Telescopium telescopium. Sedangkan kelas Bivalvia yang dikonsumsi masyarakat adalah jenis Polymesoda coaxans, Anadara antiquata dan Ostrea cucullata Kelas Crustacea yang ditemukan pada ekosistem hutan mangrove adalah sebanyak 54 jenis, dan umumnya didominasi oleh jenis kepiting (Brachyura) yang dapat dikategorikan sebagai golongan infauna, sedangkan beberapa jenis udang (Macrura) yang ditemukan pada ekosistem mangrove sebagian besar hanya sebagai penghuni sementara. 

2.	Jurnal kedua KONDISI KELIMPAHAN DAN STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON DI PERAIRAN PANTAI SENGGIGI KABUPATEN LOMBOK BARAT
	Fitoplankton didefinisikan sebagai organisme berklorofil mikroskopik yang hidup melayang, mengapung di permukaan dan kolom air serta berkemampuan gerak terbatas. Profil lingkungan dan ketersediaan nutrient umumnya akan mempengaruhi jenis fitoplankton yang ada . Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan tertentu dapat mendeskripsikan kondisi produktivitas primer perairan tersebut. Fitoplankton yang merupakan komponen dasar jaring dan rantai makanan merupakan produsen primer yang berperan penting sebagai makanan bagi organisme laut. Fitoplankton adalah salah satu mikroorganisme akuatik yang memiliki peran penting pada siklus kehidupan di air. Sebagai produsen primer dalam suatu rantai atau jaring makanan, fitoplankton dapat menjadi parameter ekologi untuk menggambarkan kondisi perairan, melalui kelimpahan dan struktur komunitasnya. Kelimpahan fitoplankton di perairan Pantai Senggigi menunjukkan perairan oligotrofik yang berarti kurang subur. Fitoplankton didominasi oleh divisi Chrysophyta, namun tidak ada atau tidak ditemukan genus tertentu yang dominan. 


3.	Jurnal Ketiga PADANG LAMUN SEBAGAI EKOSISTEM PENUNJANG KEHIDUPAN BIOTA LAUT DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU, INDONESIA
	Rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan (produsen) melalui seri organisme atau melalui jenjang makanan (tumbuhan-herbivora carnivora). Sistem rantai makanan merupakan siklus, semua kehidupan hewan bergantung pada kemampuan tumbuhtumbuhan hijau yang memiliki klorofil untuk berfotosintesis dan fungsi dari rantai makanan adalah untuk menjaga jumlah mahluk hidup di dalamnya agar tetap seimbang. Lamun merupakan salah satu tumbuhan laut yang berada di laut dangkal yang memiliki klorofil untuk berfotosintesis sehingga dapat memproduksi makanan yang diperlukan oleh biota-biota laut, seperti ikan baronang, bulu babi, penyu, dll. food chain). Tidak dapat dipungkiri bahwa lamun merupakanekosistem yang kaya akan biota laut. Biota laut yang terdapat di ekosistem lamun yakni berupa berbagai jenis ikan-ikan dan kepiting serta teripang dan lain sebagainya. Ikan-ikan seperti ini kerap kali diburu untuk dimangsa oleh ikan-ikan karnivora dan bagaikan ladang makanan bagi ikan karnivora. Rantai makanan rerumputan (grazing food chain), rantai makanan ini diawali oleh tumbuhan hijau sebagai produsen. Rantai makanan rerumputan misalnya tumbuhan herbivora-carnivora. Pada rantai makanan rerumputan ini, sumber nutriennya secara langsung adalah tumbuhan lamun itu sendiri yang daunnya dimakan oleh konsumen tingkat pertama, yaitu dugong, penyu, ikan baronang dan bulu babi. . Rantai makanan detritus (detritus food chain), rantai makanan ini diawali oleh sisa-sisa organisme mati (detritus). Organisme yang memakan detritus disebut detrivora. Rantai makanan detritus, misalnya: detritus-detrivor apredator. 	

KESIMPULAN
	Dari ketiga jurnal di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa, rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan (produsen) melalui seri organisme atau melalui jenjang makanan (tumbuhan-herbivora carnivora). Habitat juga dapat mempengaruhi rantai makanan.

DAFTAR PUSTAKA
 Karimah. (2017). Peranan Ekosistem Hutan Mangrove Sebagai Habitat Untuk  
                Organisme Laut. Jurnal Biologi Tropis. 17(2). 51-59

Jalaludin.M., Octaviyani.I.N., Putri.A.N.P., Octaviyani.W., &#038; Aldiansyah.I. (2020). 
                 Jurnal Geografi Gea. 20(1). 44-53

Diniariwisan.D., &#038; Ramadhani.T.B.C. (2023). Jurnal Perikanan. 13(2).387-395</title>
				<link>https://upskills.id/community/activity/p/979/</link>
				<pubDate>Sat, 02 Dec 2023 07:18:50 +0700</pubDate>

									<content:encoded><![CDATA[<div class="activity-inner"><p>Nama	: Roiatul Jannah<br />
NIM	: 2224220101<br />
Kelas	: 3C<br />
Mata Kuliah	: Tugas  Ekologi Umum<br />
Hari, Tanggal	: Jum’at, 01 Desember 2023<br />
Tema	: Jaring makanan di ekosistem Akuatik</p>
<p>1.	Jurnal Pertama Peran Ekosistem Hutan Mangrove Sebagai Habitat Untuk Organisme Laut<br />
	Ekosistem mangrove merupakan ekosistem peralihan antara darat dan laut yang dikenal m&hellip;<span class="activity-read-more" id="activity-read-more-979"><a target="_blank" href="https://upskills.id/community/activity/p/979/" rel="nofollow ugc">Read More</a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
				
									<slash:comments>0</slash:comments>
				
							</item>
					<item>
				<guid isPermaLink="false">1bde01c43df25d750c2bb104a22ff2e9</guid>
				<title>Nama : Novita Anggraeni
NIM : 2224220030
Kelas : 3C
Jurnal 1:
a. Identitas jurnal
Nama jurnal Jurnal Pengendalian Pencemaran Lingkungan (JPPL)
Judul artikel Dampak Pencemaran Mikroplastik di Ekosistem Laut 
terhadap Zooplankton : Review
Volume, Nomor dan Halaman Vol 2, No 1, 29-36
Tahun 2020
Penulis Mardiyana dan Ari Kristiningsih
b. Hasil Telaah
Pencemaran yang bersumber dari mikroplastik merupakan salah satu 
permasalahan global yang saat ini sedang menjadi sorotan bagi para pemerhati 
lingkungan. Ukuran mikroplastik yang kecil dan cenderung mengapung di kolam air 
memungkinkannya untuk masuk dengan mudah pada organisme laut dan salah 
satunya adalah zooplankton. Dampak mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh 
zooplankton menyebabkan dampak negatif bagi ekologi dan zooplankton itu sendiri.
Metodologi yang digunakan untuk mengetahui dampak mikroplastik di 
ekosistem laut yaitu dengan mencari literatur yang komprehensif mengenai 
mikroplastik yang ada di zooplankton dengan bantuan mesin pencari komersil yakni 
setac.onlinelibrary.wiley.com/,pubs.acs., org/ojs.unud.ac.id/, link.springer.com/, 
sciencedirect.com.
Berdasarkan hasil review dari literatur yang digunakan, mikroplastik telah 
terdeteksi di semua samudera dunia dan juga di ekosistem air tawar, terakumulasi 
dalam sedimen, di garis pantai, tersuspensi di kolam air dan dicerna oleh plankton, 
ikan, burung, maupun mamalia laut. Mikroplastik yang berada di perairan dapat 
mengalami degradasi dan perubahan komposisi karena cahaya matahari, radiasi panas, 
oksidasi, dan pertumbuhan biofilm sinar matahari. Proses degradasi ini menyebabkan 
perubahan bentuk ukuran menjadi lebih kecil (size reduction), terjadi perubahan 
densitas dan warna, perubahan morfologi permukaan, dan perubahan kristalinitas. 
Mikroplastik masuk ke zooplankton secara tidak sengaja karena sifat dari zooplankton 
dalam mencari makan yaitu dengan menyaring (filter feeding) lalu akan keluar 
melalui fesesnya dan proses masuknya berlangsung dalam hitungan jam. Dampak 
mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh zooplankton menyebabkan kinerja fisiologi 
berkurang, fesesnya mengandung mikroplastik dan memungkinkan terjadinya transfer 
kontaminan ke predator. Mikroplastik yang termakan oleh zooplankton tidak hanya 
memberikan dampak pada zooplankton itu sendiri, tetapi juga terhadap ekosistem laut. 
Hal ini dikarenakan zooplankton memiliki peran penting dalam ekologi sebagai 
makanan utama bagi biota-biota karnivora kecil seperti larva udang, larva bivalvia, 
dan ikan-ikan kecil. Zooplankton (planktonic organisms) yang memakan mikroplastik 
dapat termakan oleh udang yang merupakan organisme dari satu tingkat trofik yang 
lebih tinggi sehingga dampaknya akan terjadi transfer mikroplastik (trophic transfer) 
dalam rantai makanan dan memungkinkan terjadinya akumulasi dalam jaring 
makanan.

Jurnal 2 :
a. Identitas jurnal
Nama jurnal ALBACORE
Judul artikel Dampak Penangkapan Terhadap Ekosistem: Landasan 
Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan
Volume, Nomor dan Halaman Volume 4, No 1, Hal 109-118
Tahun 2020
Penulis Am Azbas Taurusman, Budy Wiryawan, Besweni, dan 
Isdahartati
b. Hasil Telaah
Kegiatan penangkapan berdampak langsung dan tidak langsung terhadap 
ekosistem secara dinamis (spasial dan temporal). Penangkapan berpengaruh pada 
semua tingkatan organisasi biologi dari individu hingga populasi, karakteristik 
demografi dan genetik juga komunitas serta ekosistem, termasuk struktur trofik dan 
aliran energi. Ekosistem merupakan unit organisasi biologi dimana terjadi hubungan 
fungsional antara komponen-komponen biotik dan lingkungan abiotiknya pada suatu 
area tertentu (ecological boundary).
Metodologi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode analisis dan 
review terhadap referensi dan penelitian terkini terkait konsep dampak penangkapan 
ikan terhadap ekosistem dan pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem 
(EAFM).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat dikatakan bahwa kegiatan 
penangkapan ikan akan mempengaruhi ketersediaan dan keberlanjutan ikan yang 
menjadi target tangkapan, juga sumberdaya ikan lainnya yang bukan menjadi target 
tangkapan, serta berdampak terhadap habitat dan lingkungan perairan. Akibat 
eksploitasi ikan target tangkapan, maka akan terjadi kematian akibat penangkapan 
(fishing mortality), yang berdampak luas terhadap populasi ikan target, seperti 
penurunan jumlah spesies, kelimpahan individu, serta keragaman jenis. Sebagian besar 
kegiatan penangkapan bersifat tidak cukup selektif hanya untuk mengeksploitasi ikan 
target. Sehingga tertangkap juga jenis-jenis ikan atau biota lainnya yang bukan target 
atau bukan ukuran yang diinginkan, hal ini dikenal sebagai bycatch (hasil tangkapan 
sampingan). Selain ikan, pada bycatch terdapat biota yang dilindungi seperti penyu, 
lumba-lumba, beberapa jenis hiu dan pari yang dilindungi, bahkan burung laut.
Penangkapan ikan dapat merusak habitat sumberdaya ikan karena operasional suatu 
alat tangkap atau penerapan suatu teknik penangkapan. Disamping itu kegiatan 
penangkapan ikan juga berpotensi mencemari lingkungan seperti besarnya bycatch 
yang dibuang ke dasar perairan (offal), alat tangkap yang dibuangatau hilang, limbah 
dari pengolahan ikan di atas kapal, serta limbah lainnya dari kapal ikan yang 
beroperasi di laut. Alat tangkap yang dibuang atau hilang saat operasi penangkapan di 
samping mencemari perairan, juga masih dapat menangkap ikan atau biota lainnya 
dikenal sebagai ‘ghost fishing’. Akibat dari penangkapan ikan target, non target, dan 
kerusakan lingkungan perairan berpengaruh terhadap degradasi struktur dan fungsi 
ekosistem.

Jurnal 3 :
a. Identitas jurnal
Nama jurnal Jurnal Geografi
Judul artikel Padang Lamun Sebagai Ekosistem Penunjang Kehidupan 
Biota Laut Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Indonesia
Volume, Nomor dan Halaman Volume 20, No 1, Hal 44-53
Tahun 2020
Penulis Muzani Jalaluddin, Ika Nur Octaviyani, Aufeeazzahra 
Nurani Praninda Putri, Winny Octaviyani, dan Iqbal 
Aldiansyah
b. Hasil Telaah
Salah satu sumber daya laut yang diakui dan memiliki peranan yang begitu 
penting bagi kehidupan laut beserta biota lautnya selain terumbu karang dan 
mangrove yaitu padang lamun. Padang lamun merupakan sumberdaya laut yang 
penting baik secara ekologis maupun secara ekonomis. Fungsi ekologis padang lamun 
diantaranya adalah sebagai daerah asuhan, daerah pemijahan, daerah mencari makan, 
dan daerah untuk mencari perlindungan berbagai jenis biota laut seperti ikan, 
krustasea, moluska, echinodermata, dan sebagainya.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif 
analitik untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti 
melalui data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa melakukan 
analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, Padang Lamun yang terdapat di 
hamparan pesisir Pulau Pramuka khususnya di bagian timur memiliki banyak manfaat 
yaitu sebagai produsen primer habitat biota laut, stabilitator dasar perairan, penangkap 
sedimen, dan pendaur hara yang dapat menciptakan air dengan kualitas yang jernih di 
sekitar perairan tersebut. Terdapat berbagai jenis fauna yang berassosiasi di sekitar 
ekosistem padang lamun Pulau Pramuka bagian timur, biota – biota yang terdapat 
ditempat tersebut senantiasa hidup, berkembang biak, dan mencari makan bahkan 
bergantung dengan tanaman lamun tersebut. Peranan lamun yang begitu besar 
menjadikannya sebagai salah satu dari komponen rantai makanan di lautan. Sistem 
rantai makanan merupakan siklus, semua kehidupan hewan bergantung pada 
kemampuan tumbuh-tumbuhan hijau yang memiliki klorofil untuk berfotosintesis dan 
fungsi dari rantai makanan adalah untuk menjaga jumlah makhluk hidup di dalamnya 
agar tetap seimbang. Sumber energi utama pada ekosistem padang lamun adalah 
cahaya matahari. Cahaya tersebut digunakan oleh lamun dan fitoplankton sebagai 
produsen untuk berfotosintesis. Rantai makanan di ekosistem padang lamun Pulau 
Pramuka dibagi menjadi 2, yaitu Rantai makanan rerumputan dimana sumber 
nutriennya secara langsung adalah tumbuhan lamun itu sendiri yang daunnya dimakan 
oleh konsumen tingkat pertama, yaitu dugong, penyu, ikan baronang dan bulu babi.
Kemudian konsumen tingkat pertama ini dimakan oleh para predator, kecuali bulu 
babi, dan bulu babi akan dimakan oleh ikan buntal sebagai konsumen tingkat dua. 
Lalu yang kedua adalah Rantai makanan detritus, pada rantai makanan detritus ini, 
guguran daun dari lamun yang telah dimakan oleh konsumen tingkat satu (epifit) 
sebagai nutrien yang diurai oleh bakteri, kemudian akan dimakan oleh cacing, udang, 
dan kepiting sebagai konsumen pertama dan hewan-hewan tersebut dimakan oleh ikan 
sedang sebagai konsumen tingkat dua. Konsumen tingkat dua pun dimakan oleh ikan besar, ikan hiu dan burung laut sebagai predator yang menduduki tingkatan trofik 
paling tinggi memakan konsumen tingkat dua dan ikan besar sebagai konsumen 
tingkat tiga. Saat predator tersebut mati, maka bangkainya akan diurai oleh bakteri 
sebagai detrivitor yang menguraikan materi dan bangkai predator tersebut, agar 
detrivitor itu dikonsumsi kembali oleh konsumen pertama dan begitulah seterusnya.
- Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis ketiga jurnal tentang jaring-jaring makanan di 
ekosistem akuatik, dapat disimpulkan bahwa adanya mikroplastik hasil aktivitas 
manusia, ikan-ikan pelagis kecil, plankton, dan sebagainya merupakan komponen 
terpenting dalam menjaga rantai makanan yang ada di lautan, jika komponen-
komponen rantai makanan tidak terganggu, maka akan memiliki dampak positif 
terhadap ekosistem perairan.
- Daftar Pustaka
Jalaluddin, M., Octaviyani, I. N., Putri, A. N., Octaviyani, W., &#038; Aldiansyah, I. (2020). 
Padang Lamun Sebagai Ekosistem Penunjang Kehidupan Biota Laut di Pulau 
Pramuka, Kepulauan Seribu, Indonesia. Jurnal Geografi, 20(1), 44-53.
Mardiyana, &#038; Kritiningsih, A. (2020). Dampak Pencemaran Mikroplastik di Ekosistem Laut 
terhadap Zooplankton : Review. Jurnal Pengendalian Pencemaran Lingkungan 
(JPPL), 2(1), 29-36.
Taurusman, A. A., Wiryawan, B., Besweni, &#038; Isdahartati. (2020). Dampak Penangkapan 
Terhadap Ekosistem: Landasan Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan. ALBACORE, 
4(1), 109-118.</title>
				<link>https://upskills.id/community/activity/p/975/</link>
				<pubDate>Sat, 02 Dec 2023 02:17:37 +0700</pubDate>

									<content:encoded><![CDATA[<div class="activity-inner"><p>Nama : Novita Anggraeni<br />
NIM : 2224220030<br />
Kelas : 3C<br />
Jurnal 1:<br />
a. Identitas jurnal<br />
Nama jurnal Jurnal Pengendalian Pencemaran Lingkungan (JPPL)<br />
Judul artikel Dampak Pencemaran Mikroplastik di Ekosistem Laut<br />
terhadap Zooplankton : Review<br />
Volume, Nomor dan Halaman Vol 2, No 1, 29-36<br />
Tahun 2020<br />
Penulis Mardiyana dan Ari Kristiningsih<br />
b.&hellip;<span class="activity-read-more" id="activity-read-more-975"><a target="_blank" href="https://upskills.id/community/activity/p/975/" rel="nofollow ugc">Read More</a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
				
									<slash:comments>0</slash:comments>
				
							</item>
					<item>
				<guid isPermaLink="false">85a5a04c05519310bce99ff79b593f60</guid>
				<title>NAMA		: Indah Fatonatullaillah
NIM			: 2224220104
KELAS		: 3 C

TUGAS INDIVIDU EKOLOGI UMUM
“menelaah 3 jurnal bertema jaring makanan di ekosistem terestrial atau perairan”
Dosen Pengampu: Dr. Dian Rachmawati, M.Si.

JURNAL 1
A.	Identitas jurnal
•	Judul jurnal			: A bioenergetic framework for aboveground terrestrial food webs.
•	Nama jurnal			: Tren Ekologi &#038; Evolusi
•	Volume, nomor dan halaman	:  Vol. 38, No.3, Hal 301-312.
•	Tahun publish			: 2023
•	Penulis jurnal			: Fernanda S. Valdovinos, Kayla RS Hale, Sabine Dritz, Kevin S.McCann, Kate L. Wootton, Sophia M.Simon , Elisa Thébault , William C.Wetzel, Kate L. Wootton, dan Justin D. Yeakel.

B.	Hasil Telaah Jurnal 1
	Pendekatan bioenergi sangat berpengaruh dalam memahami fungsi dan stabilitas masyarakat serta dalam memprediksi dampak perubahan lingkungan terhadap keanekaragaman hayati. Pendekatan ini menggunakan hubungan biometrik untuk menentukan interaksi trofik dan tingkat konsumsi spesies dan telah berhasil diterapkan pada ekosistem perairan. Ekosistem terestrial, dimana massa tubuh kurang dapat memprediksi interaksi tumbuhan dan konsumen, menimbulkan tantangan inheren yang belum dapat diatasi oleh model ini. Pendekatan jaring makanan bioenergi telah memotivasi banyak penelitian ekologi, namun menggunakan ukuran tubuh untuk menyimpulkan interaksi trofik dan tingkat konsumsi tidaklah cukup untuk sistem ini.
	Tumbuhan terestrial menunjukkan variasi besar dalam tingkat pertumbuhan dan tingkat pergantian jaringan yang tidak termasuk dalam model bioenergi, dan interaksi biologisnya diatur oleh pertahanan, komposisi kimia yang berbeda dalam jaringannya, dan aktivitas herbivora pada jaringan yang berbeda. Pertumbuhan tanaman mewakili poros utama variasi interaksi biotik tanaman, mulai dari cepat dengan investasi rendah dalam penyimpanan dan perlindungan hingga lambat dengan investasi tinggi dalam penyimpanan dan perlindungan. Mengintegrasikan strategi pertumbuhan tanaman berkelanjutan  dapat mendukung pendekatan jaring makanan bioenergi baru yang  memprediksi struktur jaringan dan  stabilitas jaring makanan  terestrial serta  hubungan antara  keanekaragaman  hayati dan fungsi ekosistem. Pendekatan bioenergi telah menghasilkan penelitian yang bermanfaat tentang ekosistem jaring makanan karena  kemampuannya memodelkan dinamika jaring makanan dengan memperkirakan tingkat demografi dan  konsumsi spesies yang berinteraksi menggunakan skala biologis.
 	Dengan menggabungkan perspektif dan pendekatan unik mengenai interaksi tumbuhan-hewan terestrial dengan alat tradisional  ekologi siber, kami menguraikan peta jalan  untuk memandu  integrasi kekuatan biologis spesifik tumbuhan terestrial dan interaksi biotiknya ke dalam model jaring makanan  tradisional. Kerangka kerja bioenergi terestrial yang komprehensif dapat menyediakan alat untuk menganalisis fungsi dan jasa  ekosistem penting lainnya, termasuk penyerbukan, penyebaran benih, dan pengendalian biologis dalam ekosistem.interaksi antara tumbuhan dan herbivora. Hal ini juga dapat memberikan wawasan penting mengenai mekanisme di balik  hubungan antara jasa ekosistem seperti penyerbukan dan pengendalian hama, serta dampak gabungan keduanya baik yang bersifat sinergis maupun antagonis.


JURNAL 2
A.	Identitas jurnal
•	Judul jurnal			: Size compartmentalization of energy channeling in terrestrial belowground food webs.
•	Nama jurnal			: Ecology, 102(8), 2021
•	Volume, nomor dan halaman	: Vol. 102, No. 8, Hal. 1-13.
•	Tahun publish			: 2021
•	Penulis jurnal			: Anton M.Potapov, Oksana L.Rozanova, Eugenia E. Semenina, Vladislav D.Leonov, Olga I.Belyakova, Varvara Yu. Bogatyreva. Maksim I. Degtyarev, Anton S.Esaulov, Anastasiya Yu. Korotkevich, Alexey A.Kudrin, Elena A.Malysheva, Yuri A.Mazei, Sergey M.Tsurikov, Andrey G.Zuev, Dan Alexei V. Tiunov.

B.	Hasil Telaah Jurnal
	Jaring-jaring makanan dengan ukuran terstruktur membentuk sistem nutrisi terintegrasi di mana energi ditransfer dari konsumen kecil ke konsumen besar. Bukti eksperimental menunjukkan bahwa struktur ukuran terdapat pada ekosistem perairan, sedangkan pada jaring makanan terestrial, posisi trofik sebagian besar tidak bergantung pada ukuran tubuh. Pembagian asupan energi berdasarkan kategori ukuran konsumen telah diusulkan sebagai mekanisme yang mendukung fungsi dan stabilitas jaring makanan terestrial, termasuk yang berada di bawah permukaan tanah, namun strukturnya belum dievaluasi secara eksperimental pada spektrum ukuran. menggunakan analisis isotop stabil dan regresi metabolik untuk mengkarakterisasi struktur ukuran dan konsumsi energi di delapan komunitas  bawah tanah dengan konsumen yang mencakup 12 kali lipat massa tubuh organisme hidup, mulai dari protista hingga cacing tanah.
Kami menunjukkan hubungan negatif antara posisi trofik dan massa tubuh pada komunitas invertebrata dan nonlinier yang menonjol dalam metabolisme komunitas dan rampasan posisi trofik di semua kelas ukuran. Lebih tepatnya, kami menemukan bahwa korelasi antara massa tubuh dan tingkat gizi adalah positif pada ukuran kecil (protozoa, nematoda, artropoda dengan massa tubuh kurang dari 1 kg), netral pada ukuran sedang (artropoda dengan berat 1 kg pada 1 mg) dan negatif dalam ukuran sedang (krustasea seberat 1 kg kali 1 mg). Antar konsumen berukuran besar (artropoda besar,  cacing  tanah), yang menunjukkan bahwa kelompok ini membentuk kompartemen dengan organisasi trofik yang berbeda. Berdasarkan model ini, kami mengusulkan konsep jaring makanan  bawah tanah yang terdiri dari (1) jaringan makanan mikro  terstruktur dengan ukuran tertentu untuk mendorong distribusi energi dan pelepasan nutrisi secara cepat, misalnya dalam cincin mikroba; (2) jaringan makanan  artropoda yang beragam tanpa korelasi yang jelas antara ukuran tubuh dan tingkat trofik, mendukung keanekaragaman artropoda tanah dan menyediakan perlindungan bagi predator darat; dan (3) jaring makanan makroskopis arthropoda yang lebih kecil, menyediakan habitat bagi predator di bawah permukaan tanah, dan menyediakan habitat bagi predator bawah  tanah, yang menjadi predator di atas permukaan tanah.

JURNAL 3
A.	Identitas jurnal
•	Judul jurnal			: STRUCTURE OF SOIL FOOD WEB IN SMALLHOLDER COCOA PLANTATION, SOUTH KONAWE DISTRICT, SOUTHEAST SULAWESI, INDONESIA.
•	Nama jurnal			: AG0RIVITA 
•	Volume, Nomor, dan Halaman	: Vol. 36, No. 1, Hal 33-46.
•	Tahun publish			: 2014
•	Penulis jurnal			: Laode Muhammad Harjoni Kilowasid1 , Tati Suryati Syamsudin2, Endah Sulystiawati, and Fransiscus-Xaverius Susilo.

B.	Hasil Telaah Jurnal
	Memahami struktur jaring makanan  tanah  penting untuk menentukan tindakan pengelolaan kesuburan tanah berdasarkan proses  biologis di wilayah pertanian tropis. Tujuan penelitian adalah mempelajari perubahan biomassa pada tingkat trofik dan menganalisis dinamika saluran energi dalam peningkatan umur pohon kakao.b Karakteristik struktur jaring makanan tanah di perkebunan kakao rakyat berumur 4, 5, 7, 10 dan 16 tahun dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya biomassa pada tingkat trofik ketiga yang meningkat seiring bertambahnya umur tanaman, bukan biomassa pada tingkat trofik bawah. Biomassa di  saluran  energi tidak bertambah seiring  bertambahnya usia pohon. Kami menyimpulkan bahwa variasi struktur jaring makanan tanah  lebih dipengaruhi oleh faktor biotik kelompok makroartropoda, seperti fasilitasi, kapasitas rekolonisasi dan akses terhadap habitat tanah perkebunan kakao kecil.
	Ketersediaan bahan organik tanah sebagai  sumber energi utama jaring makanan  tanah pada perkebunan kakao skala kecil umur 4  sampai 16 tahun relatif stabil. Perubahan temporal dalam sifat struktural jaring makanan tanah tidak bergantung pada produktivitas primer bersih ekosistem tanah. Variasi biomassa pada tingkat  trofik 1, 2, atau 3 biomassa dan  saluran energi Akar jaring makanan tanah sangat dipengaruhi  oleh faktor biotik lingkungan makroartropoda, seperti kemampuan fasilitasi dan rekolonisasi, serta  aksesibilitas di lokasi yang berbeda. Petani kakao skala kecil .perkebunan.

KESIMPULAN
	Ekosistem terestrial, dimana massa tubuh kurang dapat memprediksi interaksi tumbuhan dan konsumen, menimbulkan tantangan inheren yang belum dapat diatasi oleh model ini. Tumbuhan terestrial menunjukkan variasi besar dalam tingkat pertumbuhan dan tingkat pergantian jaringan yang tidak termasuk dalam model bioenergi, dan interaksi biologisnya diatur oleh pertahanan, komposisi kimia yang berbeda dalam jaringannya, dan aktivitas herbivora pada jaringan yang berbeda. Mengintegrasikan strategi pertumbuhan tanaman berkelanjutan dapat mendukung pendekatan jaring makanan bioenergi baru yang memprediksi struktur jaringan dan stabilitas jaring makanan terestrial serta hubungan antara keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem. Pendekatan bioenergi telah menghasilkan penelitian yang bermanfaat tentang ekosistem jaring makanan karena kemampuannya memodelkan dinamika jaring makanan dengan memperkirakan tingkat demografi dan konsumsi spesies yang berinteraksi menggunakan skala biologis.

	Kerangka kerja bioenergi terestrial yang komprehensif dapat menyediakan alat untuk menganalisis fungsi dan jasa ekosistem penting lainnya, termasuk penyerbukan, penyebaran benih, dan pengendalian biologis dalam ekosistem. Hal ini juga dapat memberikan wawasan penting mengenai mekanisme di balik hubungan antara jasa ekosistem seperti penyerbukan dan pengendalian hama, serta dampak gabungan keduanya baik yang bersifat sinergis maupun antagonis. Pembagian asupan energi berdasarkan kategori ukuran konsumen telah diusulkan sebagai mekanisme yang mendukung fungsi dan stabilitas jaring makanan terestrial, termasuk yang berada di bawah permukaan tanah, namun strukturnya belum dievaluasi secara eksperimental pada spektrum ukuran. menggunakan analisis isotop stabil dan regresi metabolik untuk mengkarakterisasi struktur ukuran dan konsumsi energi di delapan komunitas bawah tanah dengan konsumen yang mencakup 12 kali lipat massa tubuh organisme hidup, mulai dari protista hingga cacing tanah.
	
	Kami menunjukkan hubungan negatif antara posisi trofik dan massa tubuh pada komunitas invertebrata dan nonlinier yang menonjol dalam metabolisme komunitas dan rampasan posisi trofik di semua kelas ukuran. Antar konsumen berukuran besar , yang menunjukkan bahwa kelompok ini membentuk kompartemen dengan organisasi trofik yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya biomassa pada tingkat trofik ketiga yang meningkat seiring bertambahnya umur tanaman, bukan biomassa pada tingkat trofik bawah. Variasi biomassa pada tingkat trofik 1, 2, atau 3 biomassa dan saluran energi Akar jaring makanan tanah sangat dipengaruhi oleh faktor biotik lingkungan makroartropoda, seperti kemampuan fasilitasi dan rekolonisasi, serta aksesibilitas di lokasi yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Kilowasid, H.LM., Samsudin, S.T., Sulystiawati, E., &#038; Susilo, X.F. (2014). Structure Of   	 Soil Food Web In Smallholder Cocoa Plantation, South Konawe District, Southeast Sulawesi, Indonesia. Agrivita, 36(1), 33-46.

Potapov, M.A., Rozanova, L.O., Semenina, E.E., Leonov, D.V., Belyakova, I.O., Bogatyreva, Y.V., . . . Tiunov, V.A. (2021). Size compartmentalization of energy channeling in terrestrial belowground food webs. Ecology, 102(8), 1-13.

Valdovinos, S.F.,  Hale, S.R.K., Dritz, S., Cann, K. M.S., Wootton, L.K.,.Simon, M.S., . . . Yeakel, D.J. A bioenergetic framework for aboveground terrestrial food webs. Tren Ekologi &#038; Evolusi, 38(3), 301-312.</title>
				<link>https://upskills.id/community/activity/p/974/</link>
				<pubDate>Sat, 02 Dec 2023 02:16:50 +0700</pubDate>

									<content:encoded><![CDATA[<div class="activity-inner"><p>NAMA		: Indah Fatonatullaillah<br />
NIM			: 2224220104<br />
KELAS		: 3 C</p>
<p>TUGAS INDIVIDU EKOLOGI UMUM<br />
“menelaah 3 jurnal bertema jaring makanan di ekosistem terestrial atau perairan”<br />
Dosen Pengampu: Dr. Dian Rachmawati, M.Si.</p>
<p>JURNAL 1<br />
A.	Identitas jurnal<br />
•	Judul jurnal			: A bioenergetic framework for aboveground terrestrial food webs.&hellip;<span class="activity-read-more" id="activity-read-more-974"><a target="_blank" href="https://upskills.id/community/activity/p/974/" rel="nofollow ugc">Read More</a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
				
									<slash:comments>0</slash:comments>
				
							</item>
					<item>
				<guid isPermaLink="false">2a34c35c7c3d3fe3ae77353475e6840b</guid>
				<title>Nama	: Melviana Dwi Juliyanti
NIM	: 2224220092
Kelas	: 3B
Mata Kuliah	: Ekologi Umum
Ekosistem 	: Akuatik 

TUGAS INDIVIDU TELAAH JURNAL
Rantai makanan pertama kali diperkenalkan pada abad ke-10 oleh ilmuwan Arab Al-Jahiz, kemudian semakin dipopulerkan melalui publikasi dalam buku yang diterbitkan oleh Charles Elton pada tahun 1927. Rantai makanan terdiri dari jaringan hubungan linier dalam jaring makanan dengan susunan organisme secara berurutan, yaitu dari produsen hingga spesies predator puncak. Produsen menggunakan radiasi matahari untuk membuat makanan mereka dan makanan disiapkan melalui proses fotosintesis. Kemudian energi tersebut mengalir ke titik akhir rantai makanan. Produsen memiliki energi maksimal. Energinya berkurang secara bertahap seiring dengan perpindahannya menuju predator dari produsen. Rantai makanan memiliki panjang yang bervariasi dan berkesinambungan. Artinya memberikan indeks struktur ekologi yang meliputi tingkat trofik dari terendah hingga tertinggi (Ali &#038; Brian., 2022).
Jaring-jaring makanan sedikit lebih kompleks dibandingkan rantai makanan, yaitu keterkaitan berbagai rantai makanan membentuk jaring-jaring makanan. Itu jaring makanan adalah representasi terbatas dari lingkungan alam karena mencakup berbagai spesies yang hidup dalam spesies trofik dan ini adalah kelompok fungsional karena mewakili keseluruhan spesies karena mereka memiliki predator dan mangsa yang sama serta beberapa kondisi dalam jaring makanan. Jaring makanan mengandung dua jenis organisme utama yaitu autotrof dan heterotroph. Autotrof adalah organisme yang menghasilkan lebih banyak energi biomassa sedangkan heterotrof mengkonsumsi energi biomassa daripada produksinya. Jaring makanan perairan didukung oleh sumber produksi primer yang merupakan kombinasi dari autochthonous dan allochthonous. Produsen utama jaring makanan akuatik tidak memiliki jaringan struktural dan ukurannya yang kecil memberi mereka keuntungan karena mereka menunjukkan nilai gizi yang tinggi bagi heterotrof dan juga menunjukkan pertumbuhan dengan tingkat pertumbuhan yang lebih cepat (Ali &#038; Brian., 2022).
Rantai makanan adalah jaringan linier organisme dengan susunan yang teratur. Dalam rantai makanan, organisme diatur sedemikian rupa sehingga produsen berada pada posisi pertama atau terbawah dengan jumlah energi terbanyak, sedangkan predator teratas berada pada posisi puncak dalam piramida energi. Meskipun jaring-jaring makanan itu rumit, yaitu jaring-jaring makanan adalah interkoneksi dari rantai makanan, banyak rantai makanan yang saling berhubungan sehingga membentuk jaring-jaring makanan yang kompleks. Dalam jaring makanan, spesies trofik mewakili seluruh anggota spesiesnya. Perbedaan utama antara jaring makanan terestrial dan jaring makanan perairan terjadi pada tingkat produktivitas primer karena perbedaan struktural antara kedua sistem. Terdapat perbedaan yang terjadi pada biogeokimia, kualitas nutrisi, laju pertumbuhannya dan ukuran autotrof. Karena perbedaan tingkat pertumbuhan, efek dari bawah ke atas lebih cepat terjadi pada jaring makanan perairan (Ali &#038; Brian., 2022).
Dinamika keanekaragaman ekosistem dan produktivitas keanekaragaman ekosistem dipengaruhi oleh sumber daya, ekosistem tersebut meliputi pulau, hutan, sungai dan danau. Struktur jaring makanan pada ekosistem perairan dan darat berbeda dan biogeokimianya juga berbeda. Mereka memiliki respons berbeda terhadap sumber daya. Efek dari bawah ke atas lebih cepat terjadi pada jaring makanan perairan dibandingkan dengan jaring makanan darat karena perbedaan stoikiometri, laju pertumbuhan, dan riwayat hidup. Sumber daya alam memiliki dampak persistensi yang lebih lama di ekosistem darat dibandingkan jaring makanan perairan karena jaring makanan terestrial mempunyai sifat pulsa sumber daya darat yang berumur lebih panjang dan waktu generasi yang lebih lama dibandingkan dengan jaringan airStruktur jaring makanan pada ekosistem perairan dan darat berbeda dan biogeokimianya juga berbeda. Mereka memiliki respons berbeda terhadap sumber daya. Ekosistem darat mempunyai efek top-down yang lebih kecil terhadap konsumen dibandingkan dengan ekosistem perairan (Ali &#038; Brian., 2022).
Sungai menyediakan subsidi nutrisi bagi jaring makanan terestrial. Terdapat juga bukti empiris bahwa produsen utama sungai besar, badan air, dan sungai menyediakan sumber daya nutrisi yang besar bagi jaring makanan terestrial. Nutrisi yang berasal dari perairan menyediakan energi dan nutrisi bagi konsumen darat di garis pantai dan di perbatasan. Dalam skenario saat ini telah banyak perubahan global yang terjadi. Perubahan iklim dan penurunan peringkat trofik serta intrusi spesies invasif telah membangkitkan minat untuk mengeksplorasi lebih jauh perbedaan siklus nutrisi antar tipe ekosistem. Pentingnya pemulungan kini muncul terutama untuk mengetahui perbedaan dinamika pemulungan antara ekosistem perairan dan darat. Dan penting juga untuk mengetahui perlunya penelitian secara jelas yang berfokus pada peran konsumsi bangkai untuk pemeliharaan ekosistem (Ali &#038; Brian., 2022).
Salah satu komponen biotik yang menentukan kehidupan di laut yaitu plankton. Organisme ini merupakan mikroorganisme yang melayanglayang di kolom perairan meliputi dua kelompok besar yaitu fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton merupakan plankton yang bersifat tumbuhan, sementara itu zooplankton adalah plankton yang bersifat hewani. Fitoplankton mampu berfotosintesis dan berperan sebagai produsen di lingkungan perairan, sedangkan zooplankton berperan sebagai konsumen pertama yang menghubungkan fitoplankton sebagai produsen dengan organisme yang lebih tinggi jenjang trofiknya dan menjadi salah satu variabel kunci dalam memainkan peran ekologis ketika menilai risiko pada suatu ekosistem (Tambaru et al., 2018).
Zooplankton juga berperan sebagai bioindikator perubahan kondisi lingkungan dan merupakan kelompok organisme yang sangat penting dalam mengatur pola dan mekanisme transfer materi, energi dan polutan dari tingkat dasar ke tingkat paling atas dalam jaring makanan. Keanekaragaman zooplankton yang tinggi menyebabkan rantai makanan di suatu perairan semakin kompleks. Dilihat dari perannya sebagai mediator transfer energi, kekayaan dan kelimpahan zooplankton dapat menggambarkan kesuburan suatu perairan dalam kaitannya dengan pemanfaatan potensi sumberdaya hayati laut pada perairan yang bersangkutan. Perairan sebagai lingkungan hidup, menentukan pertumbuhan dan kelangsungan hidup zooplankton. Secara umum, kondisi topografi dan geografi perairan dengan faktor-faktor oseanografinya dapat memengaruhi kehidupan organisme.Kehidupan zooplankton akan sangat bergantung pada ciri spesifik dari lingkungan perairan di mana organisme ini berkembang biak. Untuk itu, pertumbuhan zooplankton sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor oseanografi perairan baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti faktor fisika dan kimia dan juga biologi perairan itu sendiri  (Tambaru et al., 2018).
Laut merupakan ekosistem yang memiliki keanekaragaman tinggi, dimana biota yang ditemukan pada ekosistem laut bervariasi, seperti alga, kerang, kepiting, ikan, dan berbagai biota mikroskopis. Perairan laut terbagi atas beberapa zona, salah satunya adalah daerah air dangkal seperti pesisir pantai. Secara vertikal pantai masuk dalam zona neritik dan secara horisontal termasuk dalam zona eufotik. Komponen biotik yang ditemukan di dalam ekosistem pantai ada dua macam yaitu autotrofik atau produsen dan heterotrofik atau konsumen. Produsen utama pada perairan pantai adalah fitoplankton (Aisoi., 2019). 
Plankton merupakan biota terkecil yang dapat ditemukan pada perairan laut maupun tawar. Plankton dibedakan menjadi dua jenis, yaitu fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton adalah plankton yang termasuk dalam kelompok tumbuhan dan merupakan produsen primer terbanyak di perairan. juga merupakan penghasil oksigen pada wilayah perairan karena dapat melakukan fotosintesis dan sebagai dasar rantai makanan bagi kehidupan perairan laut serta perairan sungai, fitoplankton juga merupakan salah satu parameter tingkat kesuburan suatu perairan (Aisoi., 2019).

Daftar Pustaka
Aisoi, L. E. (2019). Kelimpahan Dan Keanekaragaman Fitoplankton Di Perairan Pesisir
                      Holtekamp Kota Jayapura. Jurnal Biosilampari. 2 (2), 6-15
Ali, A., &#038; Brian G. N. (2022). Jaring Makanan Terestrial dan Perairan: Menghubungkan Jaring
                     Makanan. Jurnal Ekosistem &#038; Ekologi. 12 (9), 1-5
Tambaru, R., Abdul, R., &#038; Faturahman. (2018). Fenomena Distribusi Zooplankton di Perairan
                      Laut Makassar. Jurnal Pengelolaan Perairan. 1 (2), 1-9</title>
				<link>https://upskills.id/community/activity/p/973/</link>
				<pubDate>Sat, 02 Dec 2023 02:02:33 +0700</pubDate>

									<content:encoded><![CDATA[<div class="activity-inner"><p>Nama	: Melviana Dwi Juliyanti<br />
NIM	: 2224220092<br />
Kelas	: 3B<br />
Mata Kuliah	: Ekologi Umum<br />
Ekosistem 	: Akuatik </p>
<p>TUGAS INDIVIDU TELAAH JURNAL<br />
Rantai makanan pertama kali diperkenalkan pada abad ke-10 oleh ilmuwan Arab Al-Jahiz, kemudian semakin dipopulerkan melalui publikasi dalam buku yang diterbitkan oleh Charles Elton pada tahun 1927. Rantai&hellip;<span class="activity-read-more" id="activity-read-more-973"><a target="_blank" href="https://upskills.id/community/activity/p/973/" rel="nofollow ugc">Read More</a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
				
									<slash:comments>0</slash:comments>
				
							</item>
					<item>
				<guid isPermaLink="false">3bb6c603744a0227e403e739c19f676f</guid>
				<title>Disusun oleh 
Nama : Jesita Prasiwi 
Kelas : 3 C 
NIM : 2224220103
“TELAAH JURNAL JARING MAKANAN DI EKOSISTEM 
PERAIRAN”

• JURNAL 1 “Identifying marine food web homogenization patterns”
Ekosistem menjadi semakin mirip satu sama lain, karena komposisi spesies.
Iklim mengubah perilaku, reproduksi dan fenologi banyak spesies. Bersamaan dengan 
aktivitas manusia, terjadi perombakan besar-besaran pada distribusi spesies, sehingga 
terjadi homogenisasi. Heterogenitas ini menyebabkan variasi struktural dalam 
ekosistem, yang mempengaruhi jaring makanan. Homogenisasi biotik dapat ditandai 
dengan beberapa indikator. Rentang permintaan terhadap produsen primer dalam jaring 
makanan laut, berisiko homogenisasi jaring makanan yang lebih tinggi.
Metode yang digunakan adalah Klasifikasi homogenisasi jaring makanan yang 
dikategorikan menjadi a. Homogenisasi Struktural (SH), b. Homogenisasi fungsional 
(FH) , dan c. Homogenisasi sumber daya (RH). Tingkat modularitas yang lebih tinggi 
menunjukkan jaring makanan cenderung membentuk blok fungsional yang terhubung 
erat, dengan koneksi yang relatif lebih sedikit. Didapat sketsa homogenisasi jaring 
makanan yaitu integral food web, structural homogenization, functional 
homogenization dan resources homogenization. Perubahan-perubahan tertentu dapat
menyebabkan terjadinya ketiga jenis proses homogenisasi jaring makanan secara 
bersamaa.
Terdapat korelasi negatif yang mendukung hipotesis bahwa tidak ada hubungan 
langsung antara ukuran jaringan dan pembentukan homogenisasi struktural jaring-
jaring makanan dengan ukuran jaringan yang lebih kecil. Aktivitas manusia 
bertanggung jawab atas pembentukan ekosistem yang berkontribusi pada 
pengembangan tindakan penanggulangan pengelolaan ekosistem alam terhadap 
perubahan iklim di masa depan.
• JURNAL 2 “Effects of climate change on coastal ecosystem food webs: 
Implications for aquaculture” 
Secara global, jaring makanan ekosistem pesisir menyediakan beragam pangan 
dan serat, serta jasa budaya, pengaturan, dan pendukung bagi banyak orang. Perubahan 
iklim mengganggu kestabilan jaring makanan ekosistem yang menjadi perhatian dan 
penting. Perubahan iklim telah terbukti memberikan dampak negatif terhadap jaring 
makanan ekosistem pesisir dan perikanan. Ecopath adalah perangkat lunak pemodelan 
ekosistem yang banyak digunakan yang secara eksplisit mempertimbangkan aliran 
energi melalui tingkat trofik ekosistem. Meskipun Ecopath menyediakan cara yang mudah diakses, relevan, dan praktis ada beberapa keterbatasan. Ecopath dibangun 
dengan menggunakan tiga parameter utama: biomassa , produksi/biomass , dan
konsumsi/biomass. Mengembangkan tiga untuk mensimulasikan berbagai dampak 
perubahan iklim terhadap dinamika jaring makanan. Skenario mengeksplorasi dampak 
peningkatan curah hujan spesies invasif, sejarah penangkapan ikan yang berlebihan, 
dan dampak perubahan iklim terhadap struktur dan fungsi jaring makanan ekosistem. 
Perbedaan komposisi jaring makanan mendorong perbedaan fungsional yang penting 
antara jaring-jaring makanan. 
Perubahan iklim secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi aliran 
energi ekosistem dan dinamika jaring makanan. Pengaruh berbagai faktor seperti 
eutrofikasi dan perubahan iklim serta kepentingan relatifnya dalam membentuk 
dinamika jaring makanan masih belum dipahami dengan baik. Demikian pula, 
perubahan pada kumpulan komunitas akibat sinergisme antara perubahan iklim, invasi 
spesies, dan penangkapan ikan berlebihan dapat menurunkan biomassa dalam 
ekosistem. Mengingat dampak negatif langsung perubahan iklim terhadap dinamika 
ekosistem, komunitas, dan populasi. Jaring makanan ekosistem laut menghadapi 
berbagai pemicu stres yang saling berinteraksi dan sinergis yang mengancam 
kemampuan dalam menyediakan jasa ekosistem yang penting. Perubahan iklim 
berdampak negatif terhadap aliran energi ekosistem dan menurunkan potensi budidaya 
perikanan untuk menyediakan jasa ekosistem.
• JURNAL 3 “Climate change could drive marine food web collapse through altered 
trophic flows and cyanobacterial proliferation”
Di ekosistem laut, berbagai penyebab stres antropogenik telah mengikis 
keanekaragaman hayati dengan mengubah komposisi spesies dan mempengaruhi laju 
perpindahan biomassa melalui jaringan ekologi, sehingga mengakibatkan perubahan 
organisasi dan dinamika jaring makanan. Perubahan iklim dapat secara independen 
mempengaruhi, atau secara sinergis memperkuat, dampak gangguan lain seperti 
degradasi habitat, eksploitasi spesies yang berlebihan, dan invasi spesies. Pemanasan 
global dan pengasaman laut telah mempengaruhi fisiologi, perilaku, fenologi, 
demografi, kelimpahan, dan distribusi banyak spesies laut. Suhu tinggi mempengaruhi 
kinerja dan pertumbuhan ikan melalui peningkatan laju metabolisme dan kebutuhan 
pernapasan, yang menyebabkan berkurangnya cakupan aerobik yang penting untuk 
menunjang kehidupan aktivitas seperti makan, pertumbuhan somatik, pematangan, dan 
penghindaran predator. 
Namun, respons spesies terhadap perubahan global tidak bergantung pada 
individu; mereka terhubung melalui interaksi biotik di dalam dan melintasi tingkat 
trofik yang penting, aliran energi ke tingkat trofik yang lebih tinggi ditentukan oleh 
berbagai interaksi biologis spesies yang secara langsung atau tidak langsung terkait 
dengan tingkat trofik terdekat. Teori metabolik peningkatan permintaan makanan pada 
predator dapat mengintensifkan kontrol top-down terhadap populasi mangsanya,
mempengaruhi perbedaan metabolisme yang didorong oleh ukuran tubuh dalam 
struktur jaring makanan memprediksi dampak perubahan iklim pada tingkat ekosistem 
memerlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan komunitas ekologi kompleks dengan berbagai kelompok fungsional atau spesies pada tingkat trofik 
berbeda.
Pemanasan global mempunyai kapasitas untuk mendorong runtuhnya jaring 
makanan laut dengan mengubah aliran energi antara tingkat trofik yang berurutan.
Pemanasan juga menurunkan efisiensi transfer trofik antara produsen primer dan 
herbivora, sehingga mengurangi biomassa herbivora dan karnivora. Dengan demikian, 
energi dari biomassa produsen primer yang ditingkatkan dalam kondisi iklim di masa 
depan mungkin tidak selalu ditransfer ke tingkat trofik yang berurutan, namun 
sebaliknya dapat memisahkan permintaan dan pasokan pangan. Pemisahan seperti ini 
dapat mengubah preferensi makanan konsumen, sehingga mengubah hubungan 
konsumen-mangsa dalam jaring makanan.
Dampak pemanasan suhu laut diperkirakan akan lebih besar terjadi di wilayah 
yang dangkal dan kaya nutrisi. Teori metabolisme menyatakan bahwa struktur dan 
dinamika komunitas ekologi didasarkan pada metabolisme individu organisme dimana 
laju metabolisme individu terutama dikendalikan oleh ukuran tubuh, suhu tubuh, dan 
ketersediaan sumber daya. Pengasaman laut dapat meningkatkan produktivitas 
sekunder dalam situasi di mana dampak positif tidak langsung yang kuat mengurangi 
dampak negatif langsung dari peningkatan CO2, yaitu melalui peningkatan habitat dan 
makanan, serta berkurangnya jumlah predator. Kehadiran predator invertebrata tingkat 
tinggi yang lebih luas, seperti yang terjadi di ekosistem alami, akan mengurangi 
fluktuasi besar yang tidak proporsional antara produsen primer dan konsumen primer 
melalui kontrol top-down yang lebih kuat.
• KESIMPULAN 3 JURNAL
Ekosistem semakin mirip Karena komposisi spesies yang berubah akibat iklim 
yang mengubah perilaku, reproduksi dan fenology spesies. Perubahan iklim yang 
terjadi akibat dari perbuatan manusia. Perubahan iklim ini dapat mengakibatkan 
pemanasan Global, keasaman laut dan banyak hal lain yang dapat membuat spesies 
yang berada di dalam perairan stres atau terganggu yang mempengaruhi fisiologi, 
perilaku, demografi, kemelimpahan dan distribusi spesies perairan. Terganggunya 
spesies yang berada dalam perairan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan atau 
perombakan secara acak susunan jaring makanan di perairan. Meskipun bentuk 
dinamika jaring makanan masih belum dapat dipahami dengan baik tapi karena 
perubahan iklim ini dapat mengakibatkan perubahan susunan jaring makanan yang 
sangat kompleks seperti persebaran spesies yang tidak merata, perubahan perilaku pada 
hewan, dan lain-lain yang dapat mempengaruhi aktivitas jaring makanan di perairan 
sebagai contoh ketika di perairan tersebut kehilangan salah satu peran dalam jaring 
makanan maka keseimbangan semua interaksi jaring makanan yang terdapat pada 
perairan akan terganggu. 

• DAFTAR PUSTAKA
Chapman, E. J., Bayron, C. J., Rasher, R. L., Stevens J. R., &#038; Peters, R. (2020). Effects 
of climate change on coastal ecosystem food webs: Implications for 
aquaculture. Marine Enviromental Research. Diakses dari 
http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/. Pada 1 Desember 2023, pk. 
08.17 wib.
Ullah, H., Nagelkerken, I., Goldenberg, S. U., &#038; Fordham, D. A. (2018). Climate 
change could drive marine food web collapse through altered trophic flows 
and cyanobacterial proliferation. PLOS Biology. Diakses dari 
https://doi.org/10.1371/journal.pbio.2003446. Pada 1 Desember 2023, pk. 
08.23 wib
Xu, Y., Su, J., &#038; Jordan, F. (2023). Identifying marine food web homogenization 
patterns. Frotiers in Marine Science. Diakses dari 
https://www.researchgate.net/publication/373755955 , pada 1 Desember 
2023, pk. 08.07 wib.</title>
				<link>https://upskills.id/community/activity/p/972/</link>
				<pubDate>Sat, 02 Dec 2023 02:00:33 +0700</pubDate>

									<content:encoded><![CDATA[<div class="activity-inner"><p>Disusun oleh<br />
Nama : Jesita Prasiwi<br />
Kelas : 3 C<br />
NIM : 2224220103<br />
“TELAAH JURNAL JARING MAKANAN DI EKOSISTEM<br />
PERAIRAN”</p>
<p>• JURNAL 1 “Identifying marine food web homogenization patterns”<br />
Ekosistem menjadi semakin mirip satu sama lain, karena komposisi spesies.<br />
Iklim mengubah perilaku, reproduksi dan fenologi banyak spesies. Bersamaan&hellip;<span class="activity-read-more" id="activity-read-more-972"><a target="_blank" href="https://upskills.id/community/activity/p/972/" rel="nofollow ugc">Read More</a></span></p>
</div><div class="youzify-post-attachments">
		<a class="youzify-wall-link-content" rel="nofollow" href="http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/" target="_blank">
						<div class="youzify-wall-link-data">
				<div class="youzify-wall-link-title">CC BY 4.0 Deed | Attribution 4.0 International | Creative Commons</div>								<div class="youzify-wall-link-url">creativecommons.org</div>			</div>
		</a>
		</div>]]></content:encoded>
				
									<slash:comments>0</slash:comments>
				
							</item>
					<item>
				<guid isPermaLink="false">74793ece6f50bc90b1da964bfc6093ff</guid>
				<title>Review Jurnal Bertemakan Jaring makanana di ekosistem perairan 
Nama:	Astrid Aulia
NIM	2224220073
Kelas	:3C

Jurnal 1
Judul Jurnal :Pemodelan Jaring-Jaring Makanan Pemangsa Generalis Pada Dua Trofik Penulis	: Syaiful Eddy1, Andy Mulyana2, Moh. Rasyid Ridho3, Iskhaq Iskandar3 Nama Jurnal : Jurnal Matematika UNAND
Tahun Terbit    2021
Volume	10
Nomer	3
Halaman : 321 – 328 Review Jurnal :
Kivan telah membahas empat model jaring-jaring makanan dengan banyak spesies. Jaring-jaring makanan yang dipertimbangkan oleh Kivan lebih kompleks jika dibandingkan dengan model jaring-jaring makanan sederhana yang biasanya terdiri dari 2 sampai 4 spesies. Dalam model yang dikembangkan oleh Kivan terdapat dua tipe pemangsa, yaitu pemangsa generalis dan pemangsa spesialis. Pemangsa generalis adalah pemangsa yang dapat memakan beberapa jenis mangsa, sementara pemangsa spesialis hanya memangsa spesies tertentu.
Jalur perpindahan energi dari trofik yang satu ke trofik yang lain dikenal sebagai rantai makanan. Hubungan makan-memakan umumnya saling menjalin menjadi jaring-jaring makanan. Dalam makalah ini dibahas pemodelan matematika jaring-jaring makanan dua trofik pada pemangsa generalis. Model ini dikembangkan berdasarkan model mangsa pemangsa Lotka-Volterra.
Contoh dari jaring-jaring makanan dua trofik dengan pemangsa yang generalis adalah sebagai berikut:
1.	Harimau (Panthera tigris) memakan babi hutan, rusa, kancil, dan hewan ternak.
2.	Elang-ular bido (Spilornis cheela) memakan berbagai jenis ular, kadal, burung, dan katak.
3.	Berang-berang (Aonyx cinereus) memakan ikan, katak, siput, dan serangga.
Dalam jaring-jaring makanan dua trofik dari trofik kedua ke trofik ketiga, terdapat spesies yang menjadi pemangsa (karnivora) dan spesies yang menjadi mangsa (herbivora).
JABAR, S. A., SYAFWAN, M., &#038; AADREAN, A. (2021). PEMODELAN JARING-JARING MAKANAN PEMANGSA GENERALIS PADA DUA TROFIK. Jurnal Matematika UNAND, 10(3), 321-328.
Jurnal 2
Judul Jurnal	: Interaksi antara capung dengan Arthropoda dan Vertebrata predator di Kepanjen, Kabupaten Malang.
Penulis	: Bernadeta Putri Irma Dalia , Amin Setyo Leksono Nama jurnal	: Biotropika
Tahun	2014
Volume	2
Nomer	1
Halaman	: 26-30
Review	:
Capung memainkan peran penting dalam rantai makanan di bidang pertanian, memangsa berbagai serangga seperti wereng, serangga tanaman, dan nyamuk. Selain itu, capung juga dikenal sebagai mangsa predator seperti laba-laba, katak, kadal, dan burung pemakan serangga. Jaringan interaksi yang rumit ini menyoroti pentingnya capung dalam menjaga keseimbangan ekologi dalam ekosistem pertanian.
Selain itu, capung adalah serangga polifag, yang berarti mereka mengkonsumsi berbagai macam mangsa, termasuk capung lain. Makanan yang beragam ini memungkinkan capung untuk berkontribusi pada pengendalian hama dalam pertanian organik, sehingga bermanfaat bagi praktik pertanian.
Selain peran predator, capung juga membutuhkan air untuk bertelur, sehingga menjadikan sawah dan badan air lainnya sebagai habitat mereka. Hal ini semakin menekankan pentingnya capung dalam ekosistem pertanian, terutama dalam konteks praktik pertanian berkelanjutan.
Secara keseluruhan, interaksi antara capung dan berbagai artropoda dan vertebrata di lanskap pertanian menggarisbawahi perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami dan meningkatkan kontribusi ekologis capung untuk mempromosikan sistem pertanian berkelanjutan.
Dalia, B. P. I., &#038; Leksono, A. S. (2014). Interaksi antara capung dengan Arthropoda dan Vertebrata predator di Kepanjen, Kabupaten Malang. Biotropika: Journal of Tropical Biology, 2(1), 26-30.

Jurnal 3
Judul Jurnal: Keanekaragaman arthropoda pada perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat
Penulis	: Sri Heriza , Ade Noferta, Nanang Ali Gandi Nama Jurnal	: Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon
Tahun	2016
Volume	2
Nomer	1
Halaman	: 120-124
Review	:
Arthropoda berperan dalam jaring- jaring makanan sebagai herbivor, karnivor, dan detritivor, selain itu arthropoda juga dapat merugikan dan menguntungkan bagi kehidupan manusia. Selain berperan dalam jaring-jaring makanan, arthropoda juga berperan dalam proses dekomposisi tanah. Arthropoda berperan dalam menghancurkan substansi yang ukurannya lebih besar menjadi ukuran yang lebih kecil, sehingga proses dekomposisi dapat dilanjutkan oleh fauna tanah yang lain.
Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai peran penting bagi subsektor perkebunan. Kelapa sawit itu sendiri dapat menjadi tempat hidup bagi arthropoda baik sebagai habitat, mencari makan, dan tempat untuk berkembang biak. Kehidupan arthropoda sangat bergantung pada keberadaan dan kepadatan populasinya.
Pada Tabel 1 memperlihatkan adanya perbedaan jumlah individu arthropoda pada tiga kecamatan yang dijadikan sampel pengamatan, dimana jumlah individu di Kecamatan Timpeh sebanyak 72 individu, di Kecamatan Koto Besar 37 individu, dan di Kecamatan Asam Jujuhan 45 individu. Hal ini menunjukkan beragamnya komunitas akan membentuk jaring-jaring makanan, seperti yang dijelaskan oleh Oka (2004) bahwa semakin banyak jenis yang membentuk komunitas maka akan semakin beragam komunitas tersebut.
Dari hasil penelitian terlihat bahwa tingkat keanekaragaman arthropoda di perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Dharmasraya tergolong rendah. Adapun arthropoda yang didapatkan sebanyak 11 famili dengan jumlah individu tertinggi didominasi oleh Kecamatan Timpeh, diikuti Kecamatan Asam Jujuhan dan Kecamatan Koto Besar. Famili yang terident
Heriza, S., Noferta, A., &#038; Aligandi, N. (2017). Keanekaragaman Artropoda pada Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat di Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, 21(1), 47-50.</title>
				<link>https://upskills.id/community/activity/p/971/</link>
				<pubDate>Sat, 02 Dec 2023 01:42:00 +0700</pubDate>

									<content:encoded><![CDATA[<div class="activity-inner"><p>Review Jurnal Bertemakan Jaring makanana di ekosistem perairan<br />
Nama:	Astrid Aulia<br />
NIM	2224220073<br />
Kelas	:3C</p>
<p>Jurnal 1<br />
Judul Jurnal :Pemodelan Jaring-Jaring Makanan Pemangsa Generalis Pada Dua Trofik Penulis	: Syaiful Eddy1, Andy Mulyana2, Moh. Rasyid Ridho3, Iskhaq Iskandar3 Nama Jurnal : Jurnal Matematika UNAND<br />
Tahun Terbit&hellip;<span class="activity-read-more" id="activity-read-more-971"><a target="_blank" href="https://upskills.id/community/activity/p/971/" rel="nofollow ugc">Read More</a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
				
									<slash:comments>0</slash:comments>
				
							</item>
					<item>
				<guid isPermaLink="false">3ce4545deae2a8b1cf01b4fd90edc5a5</guid>
				<title>Nama : Widia Veronica Girsang
NIM : 2224220065
Kelas : 3C

1.IDENTITAS JURNAL
NAMA JURNAL		: Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat
JUDUL	: APLIKASI KONSEP KONSERVASI MANGROVE UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI PANTAI SELATAN LOMBOK TIMUR
PENULIS		: Al Idrus, A., Kesipudin, K., &#038; Mertha, I. G.
TAHUN			:2018
VOLUME/NOMOR	: 1(1).

 Pada jurnal pertama dapat disimpulkan jaring makanan pada ekosistem mangrove terdiri dari beberapa tingkatan trofik yang saling terkait. Sisa organik dari serasah, ranting daun bakau, dan rumput laut menjadi produsen primer dalam jaring-jaring makanan. Kemudian, sisa organik daun bakau diuraikan oleh detrivor menjadi detritus. Rumput laut dan detritus kemudian dimakan oleh cacing dan udang kecil. Selanjutnya, udang kecil dimakan oleh kepiting, ikan kecil, dan ikan besar; dan kerang-kerangan dimakan oleh ikan kecil. Setelah itu, ikan kecil dimakan oleh ikan besar, ikan besar dan kepiting kemudian dimakan oleh burung bangau. Akhirnya, burung bangau dimakan oleh burung elang sebagai konsumen puncak atau predator.Dalam jaring makanan tersebut, energi dan nutrisi bergerak dari produsen primer (tumbuhan) ke herbivora yang memakan mereka, dan kemudian ke karnivora atau omnivora yang memangsa herbivora.

 Selain itu, terdapat juga rantai makanan detritus yang dimulai dengan bahan organik mati, diurai oleh dekomposer seperti bakteri dan jamur, dan berlanjut ke detritivores dan kemudian karnivora. Jaring makanan ini menunjukkan transfer energi makanan dari sumbernya pada tumbuhan melalui herbivora ke karnivora.Selain itu, hutan mangrove juga memiliki peran penting dalam ekosistem, seperti sebagai tempat pemijahan, tempat mencari makanan, dan tempat perlindungan bagi berbagai organisme perairan, satwa liar, primata, serangga, burung, reptil, dan amphibi. Ini menunjukkan bahwa jaring makanan di ekosistem mangrove sangat penting untuk menjaga keseimbangan spesies dan fungsi ekosistem tersebut. 

2.IDENTITAS JURNAL
NAMA JURNAL		: Bioscientiae
JUDUL                                : Keanekaragaman dan Status Konservasi Spesies Avifauna Pada Suaka Margasatwa Mampie, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat
PENULIS		: Kadijah, K., Nirsyawita, N., &#038; Hamzah, A. S.
TAHUN			:2016
VOLUME/NOMOR	: 2(1)

Dan pada jurnal kedua yang membahas tentang jaring makanan Produsen dalam jaring-jaring makanan di Suaka Margasatwa (SM) Mampie meliputi berbagai vegetasi seperti hutan mangrove, rawa, rawa lebak, dan persawahan, yang menyediakan sumber makanan bagi spesies avifauna. Beragamnya vegetasi di habitat ini mendukung ketersediaan makanan bagi avifauna, sehingga berkontribusi pada tingginya keanekaragaman jenis yang teramati di kawasan ini. Selain itu, konversi ekosistem mangrove menjadi tambak telah menyebabkan perubahan keanekaragaman dan kelimpahan spesies avifauna di SM Mampie, yang berdampak pada ketersediaan makanan bagi avifauna.Selain itu, ketersediaan makanan bagi avifauna dipengaruhi oleh keberadaan serangga kecil, serangga terbang, dan buah-buahan dari pohon Avicennia sp. yang merupakan bagian dari vegetasi di habitat tersebut. Variasi vegetasi di habitat mendukung ketersediaan makanan bagi avifauna, sehingga mereka memiliki banyak pilihan makanan.Produsen-produsen ini memainkan peran penting dalam menyediakan sumber makanan bagi spesies avifauna, yang berkontribusi terhadap stabilitas dan keragaman jaring-jaring makanan di SM Mampie.Kestabilan suatu ekosistem ditunjukkan oleh banyaknya rantai makanan dalam jaring-jaring makanan. Dalam kasus Suaka Margasatwa (SM) Mampie, spesies avifauna didukung oleh sumber daya alam yang kaya, terutama sumber makanan yang melimpah seperti ikan dan hewan air karena dominasi avifauna pesisir dan air.Avifauna di SM Mampie, termasuk burung air, tumbuh subur di ekosistem lahan basah seperti hutan bakau, rawa, rawa lebak, danau, dan persawahan. Vegetasi yang beragam di habitat ini menyediakan beragam pilihan makanan bagi avifauna, yang berkontribusi pada tingginya keanekaragaman spesies yang teramati di kawasan ini.Namun, konversi ekosistem mangrove menjadi tambak telah menyebabkan perubahan keanekaragaman dan kelimpahan spesies avifauna di SM Mampie. Perubahan habitat ini telah mempengaruhi ketersediaan makanan dan tempat berlindung bagi avifauna, sehingga menjadi ancaman yang signifikan bagi populasi mereka.Selain itu, aktivitas manusia seperti deforestasi dan konversi lahan telah mengakibatkan hilangnya dan terfragmentasinya habitat, yang menyebabkan penurunan populasi spesies avifauna di Indonesia.

3.IDENTITAS JURNAL
NAMA 		: Prosiding SAINTEK
JUDUL		: Keanekaragaman Jenis dan Status Kesehatan Padang Lamun di   Kawasan Pesisir Mandalika, KAB. Lombok Tengah
PENULIS		: Ahyadi, H., Erdin, E., Candri, D. A., Farista, B., Astuti, S. P., &#038; Virgota, A	
TAHUN		:2021
VOLUME		:3

Pada jurnal ketiga jaring makanan tentang ekosistem lamun, lamun memainkan peran penting sebagai produsen dalam rantai makanan. Lamun berfungsi sebagai produsen utama dalam rantai makanan, menyediakan fondasi untuk jaring makanan dengan menghasilkan bahan organik melalui fotosintesis. Bahan organik ini kemudian mendukung komunitas herbivora yang beragam, seperti ikan dan invertebrata, yang pada gilirannya menjadi mangsa predator yang lebih besar, sehingga membentuk dasar jaring-jaring makanan.Lamun memiliki peran penting di daerah pesisir karena berfungsi sebagai penyangga ekosistem mangrove dan terumbu karang. Padang lamun menyediakan jasa penting untuk mendukung kinerja ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Karimunjawa. Keberadaan lamun menjadi dasar dari jaring-jaring makanan bagi spesies seperti Dugong, Penyu, ikan, dan invertebrata, sehingga menjadikannya sebagai produsen penting dalam rantai makanan lokal.

Daftar Pustaka
Ahyadi, H., Erdin, E., Candri, D. A., Farista, B., Astuti, S. P., &#038; Virgota, A. (2021). Keanekaragaman Jenis dan Status Kesehatan Padang Lamun di Kawasan Pesisir Mandalika, KAB. Lombok Tengah. Prosiding SAINTEK, 3, 509-513.
Al Idrus, A., Kesipudin, K., &#038; Mertha, I. G. (2018). Aplikasi Konsep Konservasi Mangrove Untuk Pengembangan Ekowisata Di Pantai Selatan Lombok Timur. Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat, 1(1).
Kadijah, K., Nirsyawita, N., &#038; Hamzah, A. S. (2017). Keanekaragaman dan Status Konservasi Spesies Avifauna Pada Suaka Margasatwa Mampie, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Bioscientiae, 13(1).</title>
				<link>https://upskills.id/community/activity/p/969/</link>
				<pubDate>Sat, 02 Dec 2023 01:35:46 +0700</pubDate>

									<content:encoded><![CDATA[<div class="activity-inner"><p>Nama : Widia Veronica Girsang<br />
NIM : 2224220065<br />
Kelas : 3C</p>
<p>1.IDENTITAS JURNAL<br />
NAMA JURNAL		: Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat<br />
JUDUL	: APLIKASI KONSEP KONSERVASI MANGROVE UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI PANTAI SELATAN LOMBOK TIMUR<br />
PENULIS		: Al Idrus, A., Kesipudin, K., &amp; Mertha, I. G.<br />
TAHUN			:2018<br />
VOLUME/NOMOR	: 1(1).</p>
<p> Pada&hellip;<span class="activity-read-more" id="activity-read-more-969"><a target="_blank" href="https://upskills.id/community/activity/p/969/" rel="nofollow ugc">Read More</a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
				
									<slash:comments>0</slash:comments>
				
							</item>
					<item>
				<guid isPermaLink="false">6e7dbacd8744c57b9b58f2a788ff0004</guid>
				<title>NAMA: SYADELA 
NIM : (2224220025) 
KELAS : 3C
EKOLOGI UMUM
Jaring makanan di ekosistem perairan
Pada jurnal yang ditulis oleh (Kwak, et al., 2020) mengemukakan bahwa rantai makanan dan jaring makanan menggambarkan struktur komunitas dan aliran energinya, serta menyajikan interaksi antar spesies. Interaksi biologis utama dalam jaring makanan akuatik adalah siklus materi yang dimediasi oleh rantai makanan, dan predasi sering kali berfungsi sebagai faktor pengatur jalur energi, serta menentukan komposisi spesies dalam ekosistem. Secara khusus, sumber makanan pada tingkat spesies merupakan komponen penting yang menghubungkan organisme dengan spesies predator yang lebih besar seperti krustasea dan ikan dalam rantai makanan penggembalaan: rotifera-copepoda, mikro/makroinvertebrata, dan larva/ikan dewasa. Akibatnya, mereka berfungsi sebagai saluran aliran bahan organik dalam kumpulan organisme beragam yang terorganisir dalam posisi perantara antara dua jaring makanan yang berbeda, dan cara mentransfer nutrisi dan energi dari lingkaran spesies mangsa-spesies predator ke tingkat trofik yang lebih tinggi. Dengan demikian, interaksi biologis mangsa-predasi dalam jaring makanan mendapat perhatian besar untuk memahami tidak hanya hubungan biologis yang saling terkait tetapi juga struktur dan fungsi jaring makanan perairan. 
Pada jurnal geografi yang dikemukakan oleh (Jalaluddin, et al., 2020) mengatakan bahwa ekosistem pesisir pada umumnya terdiri atas 3 komponen penyusun, yaitu lamun, terumbu karang, serta mangrove. Secara ekologis, padang lamun berperan sebagai daerah asuhan, daerah mencari makan para ikan kecil, penyu, bulu babi, dan biota lainnya. Padang lamun ini memiliki fungsi yang tidak kalah penting dan cukup bayak diteliti karena lamun dapat menyerap karbon (carbon sink) atau Blue Carbon. Ekosistem padang lamun ini sangat memiliki peranan penting dalam penunjang kehodupan dan perkembangan biota laut di lautan yang dangkal, salah satu contohnya seperti di Pulau Pramuka ini. 
Didalam jurnal ini menggunakan metode Deskriptif Analiti. Dimana metode ini suatu metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.
Data yang dihasilkan pada penelitian ini mencakup:
•	Kondisi lingkungan Pulau Pramuka:
Kondisi di pulau pramuka sangat tenang, menyebabkan terjadi nya akumulasi pasir yang tinggi pada substrat. Pada kondisi lingkungan yang demikian hanya spesies tertentu yang dapat tumbuh di Pulau Pramuka tepatnya di daerah timur di Pulau Pramuka, yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulate, Enhalus acoroides, dan Thalasia hemprichii.
Jenis lamun yang memiliki komposisi tertinggi yaitu Enhalus acoroides dengan persentasi mencapai 50% sedangkan komosisi yang terendah yaitu jenis lamun Cymodocea serrulata 10%. Lamun jenis Enhalus acoroides tersebut mendominasi lamun di bagian Timur Pulau Pramuka. Lamun tersebut tumbuh dengan subur dan baik di bagian Timur Pulau Pramuka. Hal ini karena bagian Timur Pulau Pramuka memiliki karakteristik substrat dan faktor lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan jenis lamun tersebut. 
•	Jenis jenis assosiasi :
Terdapat berbagai jenis fauna yang berassosiasi di sekitar ekosistem padang lamun Pulau Pramuka bagian timur yaitu bulu babi (Echinoidea), teripang (Holothuroidea), dan fauna lain seperti ikan baronang (siganus guttatus), penyu (Chelonioidea), kepiting (Brachyura).
Padang Lamun Sebagai Daerah Asuhan dan Perlindungan Ikan dan Berbagai Biota :
pada padang Thalassia testudinum di Tampa Bay, Florida Barat. Mereka mendapatkan bahwa naik turunnya kelimpahan ikan berkaitan dengan naik turunnya biomasa lamun dan suhu perairan.
•	Lamun Sebagai Makanan bagi Fauna :
Lamun komponen utama detritus dalam makanan di setiap laut dangkal. Tumbuhan laut ini menyediakan nutrient pada sejumlah hewan invertebrata dan ikan. hewan herbivora yang berukuran besar mengembalikan secara cepat nutrient lamun yang kaya melalui produksi pencernaan/ kotorannya. Kotoran tersebut akan dikonsumsi oleh hewan detrivora lebih cepat bila dibandingkan dengan proses fisik secara normal pada proses dekomposisi.
•	Lamun Sebagai Tempat Berburu Mangsa Bagi Ikan-Ikan Karnivora :
Tidak dapat dipungkiri bahwa lamun merupakanekosistem yang kaya akan biota laut. Biota laut yang terdapat di ekosistem lamun yakni berupa berbagai jenis ikan-ikan dan kepiting serta teripang dan lain sebagainya. Ikan-ikan seperti ini kerap kali diburu untuk dimangsa oleh ikan-ikan karnivora dan bagaikan ladang makanan bagi ikan karnivora.
•	Rantai Makanan pada Ekosistem Padang Lamun : 
Menurut hasil pengamatan di lapangan dan analisis dapat dijelaskan bahwa sumber energi utama pada ekosistem padang lamun adalah cahaya matahari. Cahaya tersebut digunakan fitoplankton sebagai oleh lamun produsen dan untuk berfotosintesis. Setelah itu rantai makanan tersebut dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:
1.	Rantai makanan rerumputan (grazing food chain)
Rantai makanan ini diawali oleh tumbuhan hijau sebagai produsen. Rantai makanan rerumputan misalnya tumbuhan herbivora-carnivora. Pada rantai makanan rerumputan ini, sumber nutriennya secara langsung adalah tumbuhan lamun itu sendiri yang daunnya dimakan oleh konsumen tingkat pertama, yaitu dugong, penyu, ikan baronang dan bulu babi. Namun kami tidak menemukan dugong di Pulau Pramuka karena dugong dapat hidup di daerah pesisir, dangkal sampai sedang dalam, dan dugong dapat hidup di perairan hangat dengan suhu minimumnya 15-17 °C sedangkan suhu permukaan air laut dangkal di Pulau Pramuka sekitar 30 °C. Kemudian konsumen tingkat pertama ini dimakan oleh para predator, kecuali bulu babi, bulu babi itu sendiri dimakan oleh ikan buntal sebagai konsumen kedua, namun kami tidak menemukan ikan buntal di daerah timur pulau Pramuka namun kami menemukan ikan buntal di sisi barat Pulau Pramuka.
2.	Rantai makanan detritus (detritus food chain)
Rantai makanan ini diawali oleh sisa-sisa organisme mati (detritus). Organisme yang memakan detritus disebut detrivora. Rantai makanan detritus, misalnya: detritus-detrivora predator. Pada rantai makanan detritus ini, guguran daun dari lamun yang telah dimakan oleh konsumen tingkat satu (epifit) sebagai nutrient yang diurai oleh bakteri, kemudian detritus itu dimakan oleh cacing, udang, dan kepiting yang sebagai konsumen pertama. Setelah itu hewan-hewan tersebut dimakan oleh ikan sedang sebagai konsumen tingkat dua. Konsumen tingkat dua pun dimakan oleh ikan besar, ikan hiu dan burung laut sebagai predator yang menduduki tingkatan trofik paling tinggi memakan konsumen tingkat dua dan ikan besar sebagai konsumen tingkat tiga. Saat predator tersebut mati, maka jasadnya akan diurai oleh bakteri sebagai detrivitor yang menguraikan materi dan bangkai predator tersebut, agar detrivitor itu dikonsumsi kembali oleh konsumen pertama dan begitulah seterusnya.
Disambung dengan (Idrus, et al., 2018) mengatakan bahwa Berkaitan dengan ekosistem mangrove di wilayah pesisir adalah habitat bagi keanekaragaman hayati seperti: burung, ular, mamalia, kepiting, spons, tunicates dan berfungsi untuk menyerap nutrisi dan sedimen yang mengalir dari sungai dan memberikan perlindungan dari gelombang dan badai serta berfungsi sebagai tempat pembibitan, pemijahan dan pemeliharaan dari banyak spesies laut. 
Pada jurnal ini tempat dan waktu pelaksanaan dalam penelitiannya yaitu di Desa Ketapang Raya Kecamatan Keruak Lombok Timur. Adapun waktu pelaksanaan dari kegiatan ini akan dilaksanakan selama 6 bulan, terhitung dari bulan Juli – Desember 2017.
Sasaran pelaksanaannya adalah kelompok masyarakat lokal yang tinggal di sekitar areal ekosistem mangrove dan ekosisten dan vegetasi mangrove yang tumbuh dan berkembang di sekitar pantai.
Pada penelitian ini didalam data hasil dan pembahasan (Idrus, et al., 2018) mengemukakan bahwa Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha, sumber energi terbesar adalah dari matahari. Mahluk hidup membutuhlan energi yang diperoleh dengan mengubah bentuk energi yang sudah ada di alam. Dalam sebuah ekosistem, setiap makhluk hidup atau organisme pasti saling berinteraksi dengan yang sesama organisme maupun dengan lingkungannya. Interaksi tersebut menyebabkan terjadinya perpindahan energi dari satu organisme kepada organisme lain. Proses perpindahan energi tersebut dikenal dengan istilah aliran energi dalam ekosistem. Detritus adalah hasil dari penguraian sampah atau tumbuhan dan hewan yang telah mati. Ada dua jenis rantai makanan: rantai makanan perumput, dimulai dengan autotrof, dan rantai makanan detritus, dimulai dengan bahan organik mati (Smith &#038; Smith 2009). Dalam rantai makanan perumput, energi dan nutrisi bergerak dari tanaman ke herbivora yang memakan mereka, dan karnivora atau omnivora memangsa pada herbivora. Dalam rantai makanan detritus, bahan organik tanaman dan hewan yang mati diurai oleh dekomposer, misalnya, bakteri dan jamur, dan bergerak ke detritivores dan kemudian karnivora. 
Kemudian pada aliran energi rantai makanan dalam jurnal ini juga menjelaskan bahwa Aliran energi dan rantai makanan yang berlangsung di hutan mangrove, dapat digambarkan terdapat dua tipe rantai makan: (1) rantai makanan langsung dan (2) rantai makanan detritus. 
Rantai makanan detritus dimulai dari proses penghancuran luruhan dan ranting mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus. Hancuran bahan organik (detritus) ini kemudian menjadi bahan makanan penting (nutrien) bagi cacing, crustacea, moluska, dan hewan lainnya. 
Pada jaring-jaring makanan pada ekosistem mangrove dari data yang didapat bahwa Sisa organik dari serasah, ranting daun bakau, dan rumput laut pada ekosistem mangrove, menjadi produsen primer dalam jaring-jaring makanan. Kemudian sisa organik daun bakau diuraikan oleh detrivor menjadi detritus. Rumput laut dan detritus kemudian di makan oleh cacing dan udang kecil. Selanjutnya udang kecil dimakan oleh kepiting, ikan kecil dan ikan besar; dan kerang-kerangan di makan oleh ikan kecil. Setelah itu ikan kecil di makan oleh ikan besar, ikan besar dan kepiting kemudian di makan oleh burung bangau. Akhirnya, burung bangau di makan oleh burung elang sebagai konsumen puncak atau predator.

Daftar pustaka 
Idrus, A. A., Kesipudin., &#038;  Mertha, I. G. (2018). APLIKASI KONSEP KONSERVASI MANGROVE UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI PANTAI SELATAN LOMBOK TIMUR. Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat. 1 (1), 9-18.
Jalaluddin, M., Octaviyani, I. N., Putri, a. N. P., Octaviyani, W., &#038; Aldiansyah, I. (2020). PADANG LAMUN SEBAGAI EKOSISTEM PENUNJANG KEHIDUPAN BIOTA LAUT DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU, INDONESIA. Jurnal Geografi Gea, 20 (1), 45-51.
Kwak, I. S., &#038; Park, Y. S. (2020). Food Chains and Food Webs in Aquatic Ecosystems. Appl. Sci, 2020, 10, 5012; doi:10.3390/app10145012.</title>
				<link>https://upskills.id/community/activity/p/966/</link>
				<pubDate>Sat, 02 Dec 2023 01:19:38 +0700</pubDate>

									<content:encoded><![CDATA[<div class="activity-inner"><p>NAMA: SYADELA<br />
NIM : (2224220025)<br />
KELAS : 3C<br />
EKOLOGI UMUM<br />
Jaring makanan di ekosistem perairan<br />
Pada jurnal yang ditulis oleh (Kwak, et al., 2020) mengemukakan bahwa rantai makanan dan jaring makanan menggambarkan struktur komunitas dan aliran energinya, serta menyajikan interaksi antar spesies. Interaksi biologis utama dalam jaring makanan&hellip;<span class="activity-read-more" id="activity-read-more-966"><a target="_blank" href="https://upskills.id/community/activity/p/966/" rel="nofollow ugc">Read More</a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
				
									<slash:comments>0</slash:comments>
				
							</item>
					<item>
				<guid isPermaLink="false">e5fbafa4f3b2756b88e3727b4aaa9d80</guid>
				<title>Nama : Jahro Aprilia Putri
NIM : 2224220070
Kelas : 3C

TELAAH JURNAL EKOSISTEM PERAIRAN

JURNAL 1 
Hutan mangrove merupakan salah satu hutan yang tumbuh di muara sungai atau pesisir pantai. Pantai yang datar biasanya dapat ditumbuhi oleh mangrove. Sifat kompleks merupakan sifat yang dimiliki oleh hutan mangrove. Hal tersebut dikarenakan di Kawasan hutan mangrove dapat ditumbuhi berbagai macam vegetasi dan juga satwa darat maupun satwa laut. Tanah yang berada di Kawasan mangrove memiliki sifat saline young soil.
Salah satu habitat yang ditempati oleh organisme laut adalah ekosistem hutan mangrove. Secara garis besar hewan yang ditemukan pada ekosistem mangrove ialah kepiting, kerang-kerangan, alga, ikan, sponge, tunikata, udang, gurita, burung, reptil. 
Adapun faktor yang mempengaruhi dari keanekaragaman di hutan mangrove tersebut adalah kedalaman kecerahan air dan ketebalan lumpur.

Dalam ekosistem mangrove, Tanaman mangrove berperan sebagai produsen utama dalam ekosistem padang lamun, menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan bagi berbagai organisme. kepiting dan udang berperan sebagai pemangsa yang menjaga keseimbangan populasi kerang-kerangan dan ikan. Alga sebagai produsen primer menyediakan makanan untuk sebagian besar organisme melalui fotosintesis. Ikan memakan plankton dan serangga kecil, sedangkan burung dapat memakan ikan, udang, dan invertebrata lainnya. Sponge, tunikata, dan gurita turut berperan dalam memproses nutrisi dan mempertahankan kestabilan lingkungan. Reptil seperti buaya atau ular mangrove dapat memengaruhi dinamika ekosistem melalui peran predator dan dampaknya pada populasi lainnya. Semua komponen ini saling terkait dalam jaring makanan dan siklus nutrisi, menciptakan keseimbangan ekosistem mangrove.

Serasah mangrove berubah menjadi detritus, yang sebagian mendukung jaring-jaring makanan mangrove. Plankton, alga epifit, dan mikrofitobentos juga merupakan dasar penting bagi jaringjaring makanan mangrove. Karena kelimpahan makanan dan tempat tinggal yang tinggi, dan tekanan predasi yang rendah, mangrove membentuk habitat yang ideal untuk berbagai spesies hewan, selama sebagian atau seluruh siklus hidupnya. Dengan demikian, mangrove dapat berfungsi sebagai habitat pembibitan bagi spesies kepiting, udang dan ikan (yang penting secara komersial), dan mendukung populasi ikan dan perikanan lepas pantai. Adapun fungsi lain dari mangrove ini adalah untuk tempat mencari makan, perlindungan dari predator, pemijahan, tempat bertelur, dan lain sebagainya. Selain itu juga ditemukan berbagai macam biota aquatic lainnya seperti udang-udangan, juvenile kan, dan ikan cendro. Biota-biota laut tentu memerlukan rumah atau yang bisa disebut dengan habitat untuk melangsungkan kelangsungan hidup, seperti tempat perlindungan, bertelur, dan lain sebagainya. Sehingga Hutan mangrove cocok sebagai habitat biota laut.

JURNAL 2
Sungai merupakan badan air mengalir (perairan lotic) yang membentuk aliran di daerah daratan dari hulu menuju ke arah hilir dan akhirnya bermuara ke laut. Air sungai sangat berfungsi untuk memenuhi kebutuhan kehidupan organisme daratan seperti; tumbuhan, hewan, dan manusia di sekitarnya serta seluruh biota air di dalamnya. Ekosistem sungai merupakan habitat bagi organisme akuatik dan non 
akuatik yang dapat memberikan gambaran kualitas dan kuantitas dari hubungan ekologis yang terdapat didalamnya, serta keberadaannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Organisme akuatik dan non akuatik tersebut diantaranya tumbuhan air, plankton, perifiton, bentos, ikan, serangga air, dan lain-lain. Zooplankton menjadi kunci utama dalam transfer energi dari produsen utama ke konsumen pada tingkatan pertama dalam trofik ekologi, selanjutnya zooplankton akan menjadi cadangan pakan alami bagi ikan dan larva ikan.

Zooplankton seperti krustasea kecil, memakan plankton dan serangga air, menjadikannya sebagai konsumen tingkat pertama dalam rantai makanan sungai. Tumbuhan air dan perifiton (organisme yang hidup di permukaan substrat) menyediakan sumber makanan untuk zooplankton melalui fotosintesis dan produksi primer. Serangga air juga dapat memakan plankton dan tumbuhan air, membentuk hubungan kompleks dalam ekosistem sungai. Bentos yang mencakup organisme di dasar sungai seperti cacing, larva serangga, dan moluska memiliki peran penting sebagai pengurai bahan organik dan menyediakan makanan bagi ikan dan organisme lainnya. Ikan, sebagai konsumen tingkat lebih tinggi, memakan zooplankton, serangga air, dan bahkan ikan kecil.

Secara keseluruhan, hubungan kompleks antara zooplankton, tumbuhan air, plankton, perifiton, bentos, ikan, dan serangga air menciptakan ekosistem sungai yang seimbang, di mana setiap komponen memiliki peran penting dalam siklus makanan dan keseimbangan ekologis.

JURNAL 3
Padang lamun sebagai salah satu ekosistem laut dangkal merupakan kawasan yang sangat produktif. Ekosistem ini mampu berfungsi menopang kehidupan dan menjaga tingginya keanekaragaman hayati di dalamnya. ekosistem padang lamun mempunyai fungsi sebagai spawning ground, nursery ground, feeding ground untuk banyak spesies dari berbagai jenis organisme laut untuk menyediakan makanan, dalam rantai makanan, menjaga keanekaragaman dan ecosystem service dalam mendukung produktivitas perairan.

Megabentos yang ditemukan bulu babi, bintang laut, teripang, kerang mutiara, kerang dara, karang. Kelimpahan megabentos di ekosistem padang lamun sangat dipengaruhi oleh penutupan lamun dan jenis substrat dasar. Kondisi padang lamun terkait dengan penutupan lamun serta kandungan bahan organik dapat memberikan habitat dan sumber makanan bagi biota bentik yang berasosiasi di dalamnya.

Tanaman lamun berperan sebagai produsen utama dalam ekosistem padang lamun, menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan bagi berbagai organisme. Bulu babi (hewan penggembur substrat) membantu mempertahankan kebersihan dan kesehatan padang lamun dengan menghindari penumpukan material organik di permukaan. Teripang dan bintang laut berkontribusi sebagai pengurai bahan organik, menjaga keseimbangan ekosistem dengan memakan sisa-sisa organisme mati. Kerang mutiara, kerang dara, dan kerang lainnya memainkan peran penting dalam mengontrol jumlah plankton dan alga, serta menyediakan habitat bagi berbagai organisme kecil. Kerang dapat memakan plankton dan detritus, sementara biota bentik lainnya, seperti cacing dan moluska, berperan sebagai pengurai yang membantu dalam dekomposisi bahan organik. Karang juga mendukung keberagaman hayati dengan menjadi tempat tinggal untuk ikan kecil, sambil menyumbang pada siklus nutrisi melalui proses kalsifikasi. Karang sebagai struktur fisik, menyediakan habitat dan tempat bertelur bagi beberapa biota bentik.

Secara keseluruhan, hubungan ini menciptakan keseimbangan dalam ekosistem padang lamun, di mana setiap organisme memiliki peran khusus dalam menjaga keberlanjutan dan keanekaragaman hayati.

KESIMPULAN KESELURUHAN
Tumbuhan di ekosistem adalah produsen utama karena mereka memiliki kemampuan untuk melakukan fotosintesis. Produk fotosintesis yang dihasilkan oleh tumbuhan menyediakan dasar makanan bagi sebagian besar organisme dalam ekosistem. Dalam tiap ekosistem pasti memiliki keanekaragaman yang berbeda, karena tiap flora dan fauna memiliki habitat yang berbeda pula. Keanekaragaman disuatu ekosistem dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yaitu kondisi substrat, pH, oksigen terlarut, tutupan ekosistem dan lain-lain. Dalam suatu ekosistem yang terdiri dari berbagai macam hewan tersebut saling bergantung dan akan menciptakan suatu ekosistem yang seimbang.

DAFTAR PUSTAKA
Halimatusa’diyah, E., Tika, S.R., Ananda, R.P., Suwanda, N.A., Suhendra, A., Julpia, I., ... , Hujaibah, P. (2022). PEMANFAATAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE SEBAGAI HABITAT UNTUK BIOTA LAUT. JURNAL BIOSENSE, 5(2), 131- 143. (JURNAL 1)

Riniatsih, I., Ambariyanto, &#038; Yudiati, E. (2021). Keterkaitan Megabentos yang Berasosiasi dengan Padang Lamun terhadap Karakteristik Lingkungan di Perairan Jepara. Jurnal Kelautan Tropis, 24(2), 237-246. (JURNAL 3)

Wijaya, A.S., Nugrahani, M.P., &#038; Putri, R.J. (2022). STRUKTUR KOMUNITAS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN SUNGAI KAWASAN PANTAI CEMARA BANYUWANGI. Nusantara Hasana Journal, 1(10), 101-111. (JURNAL 2)</title>
				<link>https://upskills.id/community/activity/p/944/</link>
				<pubDate>Fri, 01 Dec 2023 17:56:59 +0700</pubDate>

									<content:encoded><![CDATA[<div class="activity-inner"><p>Nama : Jahro Aprilia Putri<br />
NIM : 2224220070<br />
Kelas : 3C</p>
<p>TELAAH JURNAL EKOSISTEM PERAIRAN</p>
<p>JURNAL 1<br />
Hutan mangrove merupakan salah satu hutan yang tumbuh di muara sungai atau pesisir pantai. Pantai yang datar biasanya dapat ditumbuhi oleh mangrove. Sifat kompleks merupakan sifat yang dimiliki oleh hutan mangrove. Hal tersebut dikarenakan di&hellip;<span class="activity-read-more" id="activity-read-more-944"><a target="_blank" href="https://upskills.id/community/activity/p/944/" rel="nofollow ugc">Read More</a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
				
									<slash:comments>0</slash:comments>
				
							</item>
		
	</channel>
</rss>